Wednesday, November 1, 2017

Rumah Kampung Ramah Lingkungan


Jantung sebuah rumah adalah dapurnya, sementara nyawa dari sebuah rumah adalah kebun atau perpustakaan di dalamnya. 

Kalau dipikir-pikir, ujaran tersebut ada benarnya juga sih. Dapur adalah tempat kehangatan dan kehidupan disalurkan kepada seluruh penghuni rumah, sementara kebun atau perpustakaan menandakan ada tidaknya aktivitas penghuninya.

Kalau ada kebun, berarti ada seseorang yang berkebun artinya rumah tersebut bernyawa sementara perpustakaan menandakan ada orang yang membaca. Keduanya adalah aktivitas yang menandakan 'nyawa' atau kehidupan. 

Bicara tentang rumah atau hunian, teman-teman blogger Gandjel Rel Semarang lagi dapat peer nih dari Mba Archa seorang blogger sekaligus dosen arsitektur dan Mba Dian Nafi penulis yang punya latar belakang pendidikan arsitektur juga. Peernya adalah menuliskan seperti apakah rumah impian kami sedetail-detailnya. Gitu ya, memang kalau dapet peer dari orang arsitektur semuanya mesti detail, hehehe. 

Rumah impian versi saya sebenarnya simpel, punya tiga hal yang saya sebutkan di atas tadi; dapur, sedikit kebun, dan perpustakaan. Tapi pasti ngga boleh kan nulis gitu doang, kan mesti detail. Jadi mari memvisualisasikan impian tentang rumah idaman tadi. 

Lokasi
Kalau boleh milih, saya pingin punya rumah yang dekat dengan kota dan pusat aktivitas sehari-hari, tapi bersuasana kampung. 

Beberapa tahunan yang lalu kayaknya ngerasa pesimis bakal bisa mendapatkan lokasi seperti itu. 

Waktu tinggal di Bandung, rumah saya termasuk komplek yang letaknya di pelosok yang jauh ke pusat kota. Terus sempat pindah ke kota yang dekat dengan pusat aktivitas, rumahnya bener-bener walking distance buat kemana-mana tapi lama kelamaan jadi ngga nyaman karena aksesnya macet. 

Baru pas di Semarang ini bisa menemukan lokasi yang sesuai harapan. Jarak dari rumah ke pusat kota paling lama sepuluh menit, dan posisinya pun di tengah-tengah. 

Lingkungan. 
Kalau bicara soal lingkungan idaman, saya memilih kampung atau pedesaan. Tapi susah juga kan ya kalau pingin suasana rumah seperti itu tapi sekaligus nggak jauh dari pusat kota. Jadi kalau nggak dapat lingkungan yang seperti itu, prinsip saya sih ciptakan lingkungan yang paling nggak mendekati suasana tersebut. 

Ukuran. 
Semua orang punya perhitungan sendiri untuk masalah ukuran karena besar atau kecil jadi relatif kalau sudah berkaitan dengan kenyamanan hunian. 

Ada yang merasa nyaman dengan rumah yang lapang, sebaliknya ada juga yang nyaman dengan hunian yang mungil. 

Kalau saya lebih mengutamakan fungsionalnya. Ya kalau bisa sih, rumah mungil yang fleksibel, jadi pas bersih-bersih areanya mengecil tapi kalau pas kedatangan tamu atau keluarga besar rumahnya membesar, hihihi. Coba bisa gitu ya. 

Fungsional bagi saya artinya nggak banyak ruang yang mubazir dan semua punya tempatnya sendiri-sendiri. 

Bentuk
Rumah bergaya Tudor.

Courtyard House Style, dengan bagian terbuka di tengah-tengah rumah. 

Kalau mau pura-pura lupa sedang tinggal di negara tropis pengin banget punya rumah bergaya tudor atau courtyard, tapi setelah suatu hari braimstroming sama sesebapak yang arsitek ternyata rumah yang paling merespon iklim dan cuaca negara tropis adalah rumah yang bergaya tropis. Duh, agak teknis sih ini ngobrolnya jadi takut salah kalau harus ngomongin alasannya kenapa, padahal sih lupa

Rumah bergaya tropis

Nah, udah makin spesifik kan ya. Setelah ngobrolin lokasi, lingkungan, dan bentuk maka konsep yang paling pas untuk diadopsi untuk rumah idaman adalah Rumah Kampung Bergaya Tropis Yang Ramah Lingkungan. 

Rumah Ramah Lingkungan.





Ada beberapa poin tentang rumah ramah lingkungan yang sudah dijalankan selama membangun hunian yang sekarang saya tempati, yaitu menganggarkan sebagian lahan untuk area hijau dan peresapan air. 

Tapi ada beberapa poin idaman lain yang belum dan masih dicicil untuk diwujudkan, salah satunya yaitu sudut pemilahan sampah. 

Padahal kurun waktu 2013-2015 kami sudah mulai mengolah sampah organik menjadi kompos sendiri, sayangnya selepas renovasi rumah dan dua tahun belakangan ini malah berhenti mengolah sampah sendiri. Jadi itu bakal jadi goal untuk tahun depan, deh. Mulai memilah sampah lagi. 

Peer bikin rumah ramah lingkungan ini masih panjang prosesnya. Antara lain mengganti atap galvalum dengan genteng, lalu mendak beberapa bagian atap untuk dijadikan rooftop garden. Itu juga upaya agar suhu bagian dalam rumah lebih adem tanpa penggunaan AC. Pinginnya kalau punya rezeki lebih, bisa membuat instalasi energi surya di bagian atap yang bisa menghasilkan listrik jadi ngga bergantung sama PLN doang.  

Ada juga peer lain, yaitu membuat bak penampungan air hujan. Jadi selama musim hujan bisa menabung air yang kelak bisa digunakan untuk menyiram tanaman saat musim kemarau.





Selain itu, ada juga peer untuk membuat kebun sayur organik, menanam pohon duit kelor, dan mulai lebih banyak lagi menghijaukan lingkungan. Semoga musim hujan ini, hasrat tanam-menanam saya muncul, ya. Jadi bisa lebih rajin berkebun.

Ini adalah tampak depan rumah yang didesain sesebapak 😍 dengan konsep tropis + industrial. Masih ada beberapa bagian yang unfinished juga sih. 

Nah, itu tadi gambaran mengenai rumah idaman yang saya inginkan. Semoga bisa mencicil untuk mewujudkannya. Kalau rumah idaman kalian yang seperti apa?


6 comments:

  1. Rumah impiannya go green ya teh nia, rumahku ada taman ama kolam, palingan air hujan di tampun di kolam buat nyiram tanaman, atap belakang ruang musola dan dapur masih galvalum aku juga, pengennya ganti atap genteng dan ditingkatkan ke atas juga bener tenaga surya, mau kaca semua tapi takut maling heuheu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya pake galvalum berisik yaa kalo pas hujan. Aku juga lagi nabung biar bisa ganti genteng aja

      Delete
  2. Selalu kagum setiap kali baca tulisan Mbak Nia. Selalu tertata rapi dan penuh dengan informasi.

    Soal mengolah sampah, masih sempat ya, Mbak? Salut lah. Disaat semua orang cuek bebek sama lingkungan tapi keluarga Mbak nia justru sebaliknya.

    ReplyDelete
  3. Aku sukak juga tuh mbak rumah yg tengahnya terbuka..ada tamannya. Asri kesannya

    ReplyDelete
  4. Aku suka baper kalo ingat rumah yang lama, karena udah ideal menurut kami. Ada kolam, tanaman di halaman belakang dan depan rumah. Juga bak untuk bikin kompos. Ya udah lah, sementara istirahat dulu dari tanam menanam, hihii

    ReplyDelete
  5. Keren banget design2 nya, apalagi memeperhatikan lingkungan. Kunbal y

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...