Thursday, December 21, 2017

Pengalaman Potong Rambut Di Kidstory Semarang


Buibu, pernah nggak sih sudah ngajak Si Toddler potong rambut ke salon khusus anak-anak, terus sampai tempatnya ia menolak bahkan nangis nggak mau dipotong rambutnya?

Saya beberapa kali mengalami kejadian tersebut. Sampai akhirnya memutuskan buat memangkas rambut Si Kecil sendiri. Tapi nggak berhasil juga karena dia menolak dan nangis juga.

Akhirnya, karena nyerah, saya biarkan saja rambutnya gondrong. Meski kadang gemas ngeliat rambutnya yang acak-acakan, tapi mau gimana lagi. 

Sampai suatu hari, saking udah gatel lihat rambutnya yang acak-acakan apalagi pas habis keringetan, saya mencoba sebuah tempat potong rambut anak di daerah Erlangga, Semarang. 

Agak-agak cemas juga sih kalau percobaan potong rambut tersebut bakal gagal lagi.

Oh ya, saya nyoba beberapa trik ini : 

Wednesday, December 20, 2017

Celebrate Chirstmas With Obermain

Bulan Desember jadi salah satu bulan favorit saya karena suasana festive-nya cukup terasa. Bertepatan pula dengan musim hujan, natalan, dan menyongsong tahun baru. Pusat-pusat perbelanjaan mendekor tempatnya dengan berbagai dekorasi bertema natal.





Natal juga identik dengan bulan untuk berbagi kebahagiaan, salah satunya adalah dengan memberikan hadiah pada orang terdekat, pasangan, maupun anggota keluarga. 

Di bulan Desember ini, Obermain, sebuah brand sepatu asal Jerman yang sudah ada sejak tahun 1888 ini memberikan penawaran menarik, yaitu diskon 30 (plus) +10 persen selama bulan Desember ini.


Obermain menjadi salah satu kado pilihan favorit di saat natal ini karena kualitas sepatunya yang menggunakan teknologi berkualitas tinggi.

Beberapa di antaranya adalah teknologi Shoeteraphy Comfort System, atau yang biasa disingkat SCS atau dikenal pula dengan Sapato Theraphy.

Selain teknologi SCS, Obermain juga memiliki teknologi Active Air Gel yang diterapkan pada beberapa seri lainnya. Teknologi tersebut mampu memberikan rasa nyaman pada kaki, terutama di bagian telapak kaki.

Tuesday, December 19, 2017

Wisata Cirebon : Alternatif Tempat Liburan Akhir Tahun


Buat teman-teman yang tinggal di Semarang, destinasi wisata luar kota yang menjadi tujuan saat liburan, biasanya berkisar antara ke Solo, Jogja, atau destinasi wisata lainnya di bagian selatan dan sekitarnya bukan? 

Pernah nggak, teman-teman berpikir untuk mencari spot liburan ke arah barat, Cirebon misalnya. 

Hmmm, memangnya ada wisata apa sih, di Cirebon? Bagaimana keadaan kotanya, menyenangkan nggak buat staycation? Tempat wisata dan kulinernya apa saja? 

Mari kita bahas. 

How To Get There. 

Cirebon dapat ditempuh dari Kota Semarang, selama kurang lebih 5 jam setengah menggunakan mobil atau bus. Kalau malas nyetir sendiri, ada Bus Nusantara yang bertolak dari Pool-nya di daerah Kalibanteng setiap pukul 09.00 setiap harinya, dan akan membawa penumpang sampai di Terminal Bis Harjamukti Cirebon.

Bisa juga dengan menggunakan kereta api. Dari Stasiun Semarang Poncol, ada KA. Ciremai yang berangkat pukul 17:35 dan sampai di Cirebon pukul 20:52. 

Alternatif lain, bisa juga memilih berbagai KA dari Stasiun Tawang, mulai dari Argo Muria sampai Gumarang yang sebagian besar pasti melewati Stasiun Cirebon. Tinggal menyesuaikan dengan bujet saja. 

Setelah survei dan mencoba beberapa moda transportasi, berwisata ke Cirebon paling ekonomis dan waktunya pas adalah dengan menggunakan Bus Nusantara dengan harga Rp. 90.000.- per orang, atau menggunakan kendaraan pribadi. Tapi kalau ngga keberatan sampai di Cirebon saat malam hari, maka KA. Ciremai bisa menjadi pilihan yang ekonomis dengan waktu tempuh yang lebih singkat. 

Monday, December 18, 2017

Generasi Zaman Now Prioritaskan Jalan-Jalan Ketimbang Beli Hunian

Pernah dengar nggak, kalau saat ini terjadi pergeseran skala prioritas kebutuhan generasi millenial yang lebih memilih untuk belanja leisure atau pengalaman ketimbang membeli hunian?

Meskipun fenomena ini tidak bisa diseragamkan di semua tempat, namun mengutip hasil survei dari KompasProperti yang memberikan questionnaire terhadap 10 anak muda pada Minggu (12/11/2017) yang bermukim dan bekerja di daerah Jadebotabek, ternyata generasi milenial usia 25-35 lebih memilih jalan-jalan ketimbang membeli hunian. 

Bisa jadi fenomena 'menabung untuk membeli pengalaman travelling ketimbang hunian' itu juga terjadi pada generasi di kota-kota lainnya, misalnya di Semarang.

Pergeseran gaya hidup tadi bisa jadi disebabkan oleh meningkatnya pendapatan dan pertumbuhan internet of things atau IOT, yang membuat aktivitas leisure dan traveling lebih masif terekspos.

Biasanya, masyarakat cenderung mengikuti apa yang sedang tren di media sosial, padahal saat ini bisa dilihat bahwa media sosial lebih banyak mengangkat aktivitas leisure dan traveling.

Menurut laporan Bank Indonesia preferensi konsumen terhadap investasi berbentuk properti, saat ini turun 0,6 persen menjadi 22,5 persen selama bulan Oktober 2017 saja. Sementara itu, sebanyak 65,9 persen konsumen menyatakan tidak memiliki rencana membeli atau membangun rumah dalam 12 mendatang. Angka ini naik dari sebelumnya 64,4 persen.

Di sisi lain, jumlah konsumen yang menyatakan adanya kemungkinan membeli atau membangun rumah menurun dari 29,1 persen menjadi 26,9 persen.

Beli Rumah Impian Gratis Trip Ke Korea. 

Berbeda dengan di Jadebotabek, di Semarang, yang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah, meskipun pertumbuhan ekonominya berjalan lebih lambat dibandingkan di Jadebotabek, namun minat masyarakat untuk membeli hunian masih sangat potensial.

Pengembangan kawasan Semarang atas juga masih menarik minat masyarakat, baik kelas menengah maupun kelas atas untuk membeli properti atau hunian di daerah tersebut.

Saturday, December 16, 2017

Pieces of Motherhood

Gambar pinjam dari sini

Until you're broken, you don't know what you're made of. It gives you the ability to build yourself all over again, but stronger than ever. (Michael Jordan)

Untuk memulai tulisan ini saya meminjam kutipan dari seorang pemain basket terkenal MJ. Kutipannya tersebut, menurut saya punya kaitan dengan motherhood lyfe.

Hmmm, memang pemain basket tahu apa sih, soal motherhood hahahaha. Kalau kalian baca baik-baik kalimat tersebut, pasti bisa merasakan kalau seorang ibu suatu saat pernah merasakan, setidaknya satu kali dalam hidupnya, hancur berkeping-keping dan nggak punya pilihan selain menjadi lebih kuat setelahnya.

Ada banyak momen yang kalau dipikir-pikir saat masih lajang kayaknya horor banget. 

Misalnya nih, saat Adek masih bayi banget waktu itu. Imunisasinya aja belum lengkap, dan harus berhadapan dengan virus dari Kakak yang kena cacar air. Otomatis mereka berdua harus pisah kamar. Waktu itu rumah lagi renovasi dan saya single fighter karena ayahnya anak-anak lagi kerja dinas luar kota. 

Akhirnya, Kakak mesti 'diisolasi' di kamar lantai atas, dan Adek tidur berdua sama saya di kamar lantai bawah. Posisinya, di rumah lagi ada tujuh tukang, laki-laki semua, yang meskipun tinggal di bagian samping rumah tetep aja rasanya serem karena pernah suatu hari saya mergokin salah satu tukang 'main fisik' sama Si Sulung dengan memegang salah satu bagian tubuh yang nggak seharusnya disentuh orang asing. Untung banget kejadian itu kepergok langsung sama saya. Jadi pelakunya langsung saya tegur. Kakak juga langsung saya beritahu semua hal berkaitan dengan cara menjaga dan melindungi diri. 

FYI, lokasi kamar yang ditempati Kakak berbatasan dengan bagian rumah yang direnovasi dan ditinggali tukang. Jadi saat Kakak sakit itu, hampir tiap hari rasanya paranoid karena ngga bisa setiap saat menjaga dia karena harus mengurus bayi yang masih kecil. Dalam sehari bisa bolak-balik sepuluh kali lebih mengecek kondisi Kakak, sementara Adek di kamar bawah. 

Rasanya kayak tinggal sama predator di dalam rumah, sementara salah satu anggotanya ada yang sakit, dan ada bayi kecil yang harus dilindungi dari virus. 

Friday, December 15, 2017

Sepatu Andalan Travel Blogger


Seberapa kuat ya, sebenarnya seorang travel blogger itu sanggup berjalan kaki dalam sehari? 

Kalau sedang dalam kondisi sehat dan bugar, rata-rata kaki manusia sanggup berjalan sampai kurang lebih 4 kilometer per hari. 

Kalau ditotal, sepanjang hidupnya manusia bisa berjalan sampai 24.000 km. Dan jarak itu hampir sama dengan jarak kalau seseorang mengelilingi dunia. 

Nah, jarak maksimal yang bisa ditempuh seseorang dengan berjalan kaki adalah sejauh 19,2 kilometer setiap harinya. Tapi itu juga tergantung sepatunya, sih. 

Kebayang nggak kalau saat berjalan-jalan jauh kita mengenakan sepatu yang ngga nyaman di kaki. Duh, jangankan 19 kilometer, baru saja jalan 500 meter saja, kaki terutama telapaknya sudah terasa pegal kan. 

Salah satu resolusi saya di tahun depan adalah pengin lebih banyak mengeksplorasi destinasi wisata di seluruh Indonesia, makanya perlu shoe-mate yang pas. 

Wednesday, December 13, 2017

Wisata Kabupaten Brebes : Catatan Perjalanan #1

Malam hari, pukul setengah delapan lebih kereta kami merapat di Stasiun Tegal. 

Sejak awal saya tidak meletakkan harapan yang terlalu tinggi terhadap objek-objek wisata yang ada di kota ini, pun karena tujuan saya dan rombongan sebenarnya adalah menuju ke Kabupaten Brebes, sebuah tempat yang berada di pantai utara Jawa Tengah, tempat yang menurut informasi yang saya dengar pernah berjaya karena menjadi sentra penghasil udang windu dan bandeng. 

Juga setiap kali bertolak ke luar kota via pantura, saya pasti akan mendengar orang-orang mengaitkan Brebes dengan telur asin dan bawang merah. 

Belum pernah sekalipun saya mendengar orang-orang membicarakan Brebes dalam konteks tempat pariwisata. 

Di benak saya, daerah pesisir utara umumnya pantainya kurang menarik dan paling-paling didominasi oleh tambak atau ladang garam. 

Masih mending Tegal yang berulang kali dibicarakan karena punya pemandian air panas Guci. 

Jadi kita mau ngapain sih, di Brebes? Pertanyaan itu berulang kali berputar di benak. 

Saat memeriksa rundown acara, disebutkan kalau kami akan berkumpul di Pendopo Mangrove di Desa Wisata Mangrove Sari. Letaknya ada di Dukuh Pandansari, Kaliwlingi. 

Kalau merujuk pada fenomena dan elemen pariwisata, (uhuk, kita bicara teori sedikit) fenomena pariwisata muncul sejak seseorang mulai melakukan perjalanan refreshing (leisure and pleasure) ke suatu tempat di luar lingkungan dan kebiasaannya sehari-hari untuk mendapatkan sensasi baru yang bisa membebaskan seseorang dari rasa bosan sesuai dengan kemampuan dan motivasi setiap individu. 

Fenomena tersebut nantinya akan menghasilkan beberapa elemen penting dari pariwisata. 

Sampai sini kira-kira sudahkah Brebes memenuhi kriteria dari elemen pertama, yaitu Elemen Tempat Asal Wisatawan? 

Kalau kalian berasal dari kota besar yang padat, atau malah dari daerah di pegunungan, pergi ke daerah pesisir terdengar eksotis. Namun 'terdengar' saja belum menjadi jaminan seseorang akan berkunjung ke tempat tersebut. Setidaknya harus ada jaminan bahwa berwisata ke Desa Wisata Mangrove Sari di Dukuh Pandansari bisa memberikan pengalaman perjalanan dengan sensasi baru dan membebaskan seseorang dari rasa bosan. 

Perjalanan berkereta dari Semarang ke Tegal membutuhkan waktu kurang lebih dua jam empat puluh lima menit. Sementara jika menggunakan kereta yang langsung bertolak ke Brebes, bisa menggunakan kereta Kaligung yang bertolak dari Stasiun Poncol. Waktu tempuhnya sekitar tiga jam lebih. Kereta yang digunakan merupakan kereta ekonomi AC yang cukup nyaman harganya sekitar limapuluh ribuan. 

Dari hal itu, kita bisa menilai elemen kedua, yaitu Elemen Persiapan Perjalanan. Dimana Brebes termasuk daerah yang aksesbilitasnya cukup baik. 

Selanjutnya tinggal bagaimana dengan perjalanan dari stasiun ke lokasi wisata itu sendiri. 

Dari Stasiun Tegal, saya dan rombongan dijemput oleh pihak panitia. Karena harus menunggu beberapa jam sampai jemputan datang, kami memutuskan untuk melakukan eksplorasi singkat di lokasi seputaran stasiun. 

Awalnya kami mengira, lapangan terbuka becek yang dipenuhi dengan tenda pedagang dan wahana permainan anak merupakan Alun-Alun Kota Tegal. 

Salah satu teman blogger nyeletuk, "kok gini amat ya, alun-alunnya." Ternyata beberapa jam kemudian kami baru mendapatkan jawaban yang sebenarnya. 

Penjemput kami, dua orang yang ngakunya kembar dan pandai bicara berbagai bahasa dari penjuru nusantara, mengajak kami mengenal lebih dekat kota yang sedang kami datangi. 

Mulai dari Alun-Alun Tegal yang ternyata megah; "Lhoo, ini malah alun-alunnya. Siapa coba tadi yang bilang kalau alun-alunnya jelek?", sampai mengenalkan pada kami asal muasal kata Brebes, hewan apakah Blengong itu, dan jenis makanan apakah Glabed itu. Semua dilakukan selama perjalanan dari stasiun menuju ke lokasi Forum Komunikasi Deswita di Desa Kaliwlingi. 

Oh ya, sebelumnya mereka juga membawa kami mengitari Alun-Alun Brebes. Kesan pertama mengenai Alun-Alun Kota Tegal yang kurang tertata, 'mau wisata apa sih, di Brebes?', perlahan terkikis oleh kehangatan yang mereka ciptakan. 

Besok pasti banyak hal yang lebih menarik, begitu pikir saya. Kami pun jadi terslimur kalau sudah capek menunggu berjam-jam karena sepanjang perjalanan keduanya membuat kami tertawa terus. 

Tiba di Pendopo Mangrove, sudah sangat malam. Sepertinya kami melewatkan acara pembukaan dan selanjutnya sudah tidak ada kegiatan apa-apa. Jadi setelah mengisi buku tamu dan mendapatkan souvenir berupa kalung berbandul capit kepiting, kami langsung diantarkan ke homestay

Ini kali kedua saya menginap di rumah penduduk ketika travelling. Kesan yang bisa saya tangkap dari homestay di Desa Wisata Mangrove Sari adalah bahwa para penduduk setempat sudah cukup siap dan sigap menerima tamu wisatawan. 

Tempat tidur sudah disiapkan dengan cukup rapi, sarapan pagi berupa ikan goreng, telur dadar, dan sambal kecap juga sudah siap ketika pagi hari perut kami kelaparan. 

Sampai di sini, perjalanan awal sejak dari Stasiun Tegal hingga tiba di homestay sudah memenuhi unsur ketiga dari elemen pariwisata, yaitu Elemen Pengalaman. 

Having a new sensation: tidur di rumah warga dan berbaur dengan kebiasaan masyarakat setempat. 

Selanjutnya, di pagi hari pertama, mari kita lihat apakah Desa Wisata Mangrove Sari memiliki pull factor dengan berbagai faktor pendukung, seperti kemudahan aksesibilitas, amenitas, kearifan lokal, dan faktor keamanan yang mendorong seseorang (push factor) melakukan suatu perjalanan. 

Aksesibilitas 

"Eh, ini gimana kita balik lagi ke Pendopo semalem buat ikut ngumpul pas acara?" ujar salah seorang teman blogger sambil menunggu giliran mandi pagi. 

Salah satu teman yang lain, yang ditunjuk sebagai koordinator berkata, "tenang nanti kita dijemput ke Sanggar jam delapan". 

Sebagai tamu undangan, jaminan untuk diopeni pasti membuat tamunya tenang. Namun, bagaimana kondisinya jika pengunjung datang bukan bertepatan dengan adanya kegiatan. Atau mereka memang benar-benar datang untuk berwisata. Tentu saja moda transportasi harian dari rumah warga sebagai homestay ke spot wisata harus menjadi perhatian. 

Kemarin, saya lupa bertanya mengenai hal ini. Tapi kalau boleh memberi masukkan, moda transportasi seperti sepeda yang disewakan bisa jadi pilihan. Jadi saat pengunjung menginap di homestay dan ingin jalan-jalan, mereka bisa menyewa sepeda dari penduduk setempat. 

Setelah rombongan bergabung, kami pun dijemput menuju ke sanggar, dimana acara forum komunikasi desa wisata yang dihadiri oleh pokdarwis dari berbagai daerah di Jawa Tengah berlangsung. 

Ada dua hal yang paling membekas dari kegiatan tersebut di ingatan saya. 

Pertama, saya mau meminjam satu kata milik Pak Auky alias Bang Bas; GILA! Iya gila banget, waktu Pak Hadi presentasi mengenai site plan Desa Wisata Mangrove Sari beserta track hutan mangrove-nya saya langsung bergeleng-geleng. Beneran mau dibuat seperti itu? Setengahnya saya berdecak kagum karena perencanaan yang dilakukan sudah begitu matang, setengahnya lagi merasa nggak yakin, takutnya rencana itu ketinggian banget untuk sebuah desa wisata, di Brebes lagi. 

Saya pun melirik catatan soal singkatan dari kata GILA : Gerakan Insan Lestarikan Alam yang dilontarkan Pak Auky. Memang dari paparan presentasi Pak Hadi, sudah ada beberapa upaya untuk memperbaiki kondisi desa yang pantainya nyaris kena abrasi karena kurang bijaknya mengelola ekosistem tambak. Antara lain dengan kegiatan kontruksi dan regulasi, vegetasi dan rehabilitasi, serta pendekatan sosial ekonomi dan budaya. Tapi karena belum melihat dengan mata kepala sendiri, jadi rasanya masih belum percaya. 

Blogger memang ngga seharusnya duduk manis menyimak presentasi. Blogger itu harus eksplor. 

Hutan Ekowisata Mangrove Sari 

Cuss, GILA, 'gali ide langsung action'. Rombongan blogger dikawal Pak Auky yang super talkative dan informatif langsung menggiring kami keluar dari sanggar menuju spot wisata pertama, yaitu Wisata Taman Mangrove Pandansari. 

Setelah berkendara selama kurang lebih setengah jam kami pun tiba di Dermaga Pandansari. Di titik inilah rasa pesimis kami runtuh sedikit demi sedikit, berganti dengan sebuah harapan.

Welcome To The Jungle Track

Biar nggak salah langkah


Jembatan Cinta

Gardu Pandang Pertama 


Baru saja masuk ke dermaga, beberapa teman blogger sudah ada yang komentar, "Wow, kalau kayak gini sih, apa yang dipaparkan Pak Mashadi tadi sangat-sangat mungkin terwujud". Atau komentar lainnya, "Ini jauh banget dari apa yang kubayangkan soal tracking di hutan mangrove", dan lain sebagainya. 

Apa yang terbayang di benak saya ketika berada di sanggar seketika langsung berubah saat kami menaiki perahu. 

Sejauh mata memandang tampak perairan luas dengan ranting-ranting bakau mencuat dari permukaan. Rasanya nggak percaya kalau saya sedang berada di Brebes. Rasa kagum yang hampir full itu pun saat kami belum sampai di trekking mangrove-nya. 

Saat perahu menepi di dermaga, perjalanan menuju ke trekking mangrove pun dimulai. Ini bukan sekadar trekking pendek seperti yang pernah saya datangi di tempat lain. Sampai nggak tahu harus menggambarkannya seperti apa, yang pasti hutan mangrovenya sangat luas, berhektar-hektar. 

Kembali ke poin aksesibilitas. Dengan pengalaman saya menyeberang menggunakan perahu yang perjalanannya cukup mulus maka dua elemen baru, yaitu pengalaman baru dan kemudahan akses langsung tercentang. 

Amenitas 
Amenitas adalah segala sesuatu yang terkait dengan fasilitas yang seharusnya tersedia di tempat wisata, seperti akomodasi, toilet umum, tempat makan, signage, tempat belanja dan oleh-oleh, pusat informasi untuk wisatawan. 

Dari semua aspek tersebut, dapat disimpulkan bahwa Hutan Ekowisata Mangrove Sari sudah memiliki segenap aspek yang disebutkan. Saat menyusuri hutan, kami bisa melihat signage yang cukup informatif bagi pengunjung. 

Dengan memperhitungkan spot-spot selfie sebagai daya tarik wisata kekinian, signage yang ada bisa berpadu apik dengan spot selfie

Tempat makan atau warung makan tersedia di sepanjang track dengan harga makanan yang terstandar dan dipantau oleh pihak pengelola, pilihannya pun cukup beragam. Ada pula toko-toko yang menjual souvenir dan barang-barang yang dibutuhkan oleh wisatawan, toilet dan mushola pun tersedia. Kemarin saya tidak terlalu memperhatikan apakah juga terdapat pusat informasi untuk wisatawan. 

Kearifan Lokal 
Kearifan lokal merupakan faktor yang sangat menentukan, karena daya tarik yang bagus, amenitas yang baik, dan aksesibilitas yang mudah akan menjadi sia-sia tanpa sikap penduduk yang ramah, kompeten, dan positif terhadap kegiatan pariwisata itu sendiri. 

Tadi di depan, saya sudah menyinggung bahwa ada dua hal yang paling membekas di ingatan saya mengenai kunjungan ini, pertama diwakili oleh kata GILA yang dilontarkan Pak Auky, yang kedua adalah karena saya begitu terkesan dengan keramahan orang-orang yang saya temui di sana. 

Human, merupakan kekuatan pariwisata di Kabupaten Brebes. 

Bayangkan apa jadinya ketika penjemputan, saya tidak dijemput oleh dua orang yang ngaku-ngaku kembar--yang sampai saat ini saya belum berhasil mengingat namanya --yang bercerita banyak hal soal Brebes. Keduanya adalah duta pariwisata yang bisa meniupkan jiwa kepada sebuah tempat, sehingga pengunjung tertarik untuk mengenal jiwa itu lebih dekat. 

Bayangkan jika perjalanan menyusuri hutan mangrove tidak ditemani oleh seorang tour guide handal seperti Pak Auky. Kami mungkin hanya akan mendapatkan lelah saja. 

Perjalanan dengan beliau membuat berhektar-hektar pepohonan bakau meniupkan kisahnya. Dari yang konyol, seperti konon propagul pohon bakau jika dimakan oleh kaum pria bisa mendongkrak stamina, hingga akhirnya kami pun jadi punya tagline khusus, yaitu salam dua senti. Sampai kisah yang saintifik, seperti bagaimana membedakan ikan glodok dan glanyar yang sering berantem di atas permukaan lumpur, dan bahwa buah mangrove bisa menghasilkan pati yang menjadi bahan baku pembuatan dawet. 

Buah Mangrove yang bisa diolah jadi pati

Dari sini nih, salam dua senti muncul. 


Untuk mendapatkan sensasi baru yang memberikan efek refreshing, para wisatawan dapat memilih daya tarik dari semua faktor pendukungnya yang bersifat alami (given) atau buatan manusia (man made). 


Daya tarik alami yang dimiliki Kawasan Ekowisata Hutan Mangrove Sari adalah 1, 8 km sabuk hijau dari masifnya rumpun mangrove, pemandangan Gunung Ciremai dan Slamet yang terlihat dari kejauhan saat mengendarai perahu serta luasnya tambak yang berbatasan dengan Laut Jawa. 

Sementara daya tarik buatan manusianya berupa jalur trekking, jembatan cinta, menara pandang, dan berbagai aksesori yang mempercantik area hutan bakau. 

Namun, bagi saya daya tarik yang paling melekat dalam ingatan adalah keramahan dari setiap orang yang berperan sebagai duta wisata, baik itu penduduk setempat, maupun tour guide-nya. 

Positive attitude terhadap kegiatan pariwisatanya sendiri begitu terasa, sehingga mimpi besar untuk menjadikan Kabupaten Brebes sebagai sebuah destinasi wisata nasional tidak terasa mengawang-awang karena setiap insan yang terlibat di dalamnya saling berpegangan tangan dan melangkah bersama-bersama demi kemajuan pariwisatanya. 

Sekian dulu bagian pertama dari kisah perjalanan saya ke Brebes. Episode berikutnya, saya akan menuliskan kembali kisah penyeberangan kami ke Pulau Cemara, kuliner khas Brebes, dan potensi lainnya. See you soon.

Tuesday, December 12, 2017

Kurangnya Minat Masyarakat Pada Produk Lokal


Artikel yang saya tulis kali ini sedikit melanggar 'kode etik blog pribadi' dalam hal aturan penulisan suatu konten karena memakai judul yang bermuatan cenderung negatif.

Sebenarnya ini merupakan eksperimen untuk membuktikan apakah judul konten dengan nada negatif dapat menarik lebih banyak perhatian ketimbang yang positif atau netral.

Meski judulnya bernada pesimis, saya justru akan bercerita bagaimana perspektif pribadi soal produk-produk lokal, khususnya di Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah jadi bergeser. Jauh dari titik awal saya berdiri. 

Terima kasih kepada Dinas Koperasi Usaha Mikro Kota Semarang yang sudah mengajak para blogger untuk mengikuti kegiatan One Day Trip pada tanggal 30 November 2017 lalu, sehingga kami bisa mengenal lebih dekat produk-produk lokal khas Semarang.

Dulu, saya agak males mengenakan produk buatan lokal karena beberapa alasan :

Monday, December 11, 2017

Lima Hal Penting Dari Acara Temu Blogger Kesehatan & Dinkes Kota Semarang.

Kesehatan anak Indonesia terancam, difteri, penyakit menular akibat kuman Corynebacterium Diptheriae kembali mewabah. Hingga November 2017, 11 provinsi melaporkan kejadian luar biasa difteri dan 32 kasus di antaranya meninggal dunia.


Kalimat tersebut adalah penggalan berita yang saya baca dari beberapa portal berita online. Setelah sebelumnya saya mendapatkan sebuah foto bagian dalam rongga mulut seorang anak yang terkena penyakit difteri beredar di grup whatsapp. 

Seperti biasanya, kalau mendapatkan berita seperti itu, ada dua respon yang umumnya muncul; pertama antipati dan berpikir kalau berita tersebut hoaks atau justru jadi paranoid. 

Berita yang berkaitan dengan kesehatan memang paling sering beredar dan cepat dilahap oleh masyarakat. 

Sayangnya, tidak semua berita kesehatan yang beredar itu benar. Ditambah lagi dengan kesadaran warganet yang masih rendah untuk memfilter berita dan mencari tahu kebenaran dari sumber yang kredible, malahan respon yang terlampau cepat untuk segera membagikan berita yang didapat menyebabkan benang-benang informasi bergulung seperti benang kusut. Sulit untuk mengurai manakah berita yang benar dan mana yang hoaks.

Berkaitan dengan berita mewabahnya difteri, berdasarkan laporan data dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan menunjukkan, cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) periode 2008-2011 berada di atas 90 persen. Namun, sejak 2012 hingga 2015 menurun jadi di bawah 90 persen.

Penurunan tersebut bisa jadi ditengarai oleh adanya pro kontra yang beredar di sosial media mengenai pemberian imunisasi. Informasi yang simpang siur dapat mengubah perilaku suatu kelompok. Kelompok yang kontra bisa saja dimanfaatkan oleh kepentingan kelompok tertentu sehingga berita hoaks yang mendukung sikap mereka semakin mudah tersebar. Misalnya, ada anggapan mengenai ketidakhalalan bahan yang digunakan sebagai vaksin, sampai berita yang menyebutkan bahwa vaksin imunisasi bisa menyebabkan anak mengalami autisme.

Apa yang saya tulis di atas merupakan sedikit gambaran bagaimana sebuah isu kesehatan dapat memengaruhi perilaku suatu kelompok. Masih banyak isu-isu kesehatan lainnya yang menjadi perhatian dan cukup penting untuk dicermati. Pengetahuan dari sumber yang kredible menjadi bekal bagi warganet khususnya blogger untuk dapat menjadi titik tengah penyebar informasi yang berimbang.

Berangkat dari wacana tersebut maka pihak pemegang kebijakan atau instansi kesehatan terkait perlu menjalin kerjasama dengan warganet agar sosialisasi terhadap isu kesehatan dapat berjalan sesuai dengan koridornya.

Warganet akan menjadi salah satu agen yang dapat menyampaikan informasi kesehatan yang tepat dan sesuai sasaran.

Temu Blogger Kesehatan & Dinkes Kota Semarang. 




Pada bulan November lalu, tepatnya di tanggal 27-28 Dinas Kesehatan Kota Semarang (DKK) mengadakan Temu Blogger Kesehatan dengan agenda kegiatan Diseminasi Informasi. Diseminasi adalah suatu kegiatan yang ditujukan pada target kelompok atau individu agar mereka memperoleh informasi, timbul kesadaran, menerima dan akhirnya memanfaatkan informasi tersebut. Diseminasi adalah proses penyebaran informasi yang direncanakan, diarahkan dan dikelola.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...