Tuesday, December 12, 2017

Kurangnya Minat Masyarakat Pada Produk Lokal


Artikel yang saya tulis kali ini sedikit melanggar 'kode etik blog pribadi' dalam hal aturan penulisan suatu konten karena memakai judul yang bermuatan cenderung negatif.

Sebenarnya ini merupakan eksperimen untuk membuktikan apakah judul konten dengan nada negatif dapat menarik lebih banyak perhatian ketimbang yang positif atau netral.

Meski judulnya bernada pesimis, saya justru akan bercerita bagaimana perspektif pribadi soal produk-produk lokal, khususnya di Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah jadi bergeser. Jauh dari titik awal saya berdiri. 

Terima kasih kepada Dinas Koperasi Usaha Mikro Kota Semarang yang sudah mengajak para blogger untuk mengikuti kegiatan One Day Trip pada tanggal 30 November 2017 lalu, sehingga kami bisa mengenal lebih dekat produk-produk lokal khas Semarang.

Dulu, saya agak males mengenakan produk buatan lokal karena beberapa alasan :

Mutu produk yang rendah.
Misalnya nih, beli tas berbahan kain batik buatan lokal yang cuma tahan dipakai beberapa bulan saja karena jaitannya yang gampang sobek.


Sekarang, setelah main ke Semarang Creative Gallery yang berlokasi di kawasan kota lama Semarang, saya langsung berpikir ulang soal melabeli produk lokal dengan mutu rendah. 

Bagaimana tidak, semua produk yang dipamerkan di galeri ini bukan cuma memanjakan mata karena kreasinya yang unik dan apik, tetapi juga karena produknya terlihat digarap dengan serius dan detail. Mutunya bahkan bisa disandingkan dengan beberapa produk terkenal buatan luar negeri.

Sepatu yang mengusung tema etnik dari Prajna Indonesia. 

Ada beberapa produk yang langsung membetot perhatian, misalnya Prajna Indonesia. Kebetulan hari itu saya bertemu langsung dengan pemilik UKM yang memproduksi sepatu, Paloma Paramita. Darinya saya banyak mendengar cerita bagaimana produknya bisa eksis bukan hanya di kancah lokal, namun juga nasional bahkan internasional.

Kuncinya ada pada konsistensi untuk mempertahankan ciri khas yang ada, yaitu dengan mengangkat keberagaman warna-warna cantik dari kain-kain tradisional Indonesia seperti batik, sarung, tenun, maupun lurik dalam kreasi sepatu dan sandal.

Meski banyak produk serupa yang mengusung tema etnik, namun Prajna Indonesia yakin mampu bersaing dengan produk dengan tema serupa. Buktinya, koleksi sepatu Prajna pernah digunakan oleh desainer Deden Siswanto saat acara Jakarta Fashion Week 2018. Selain eksis di tingkat nasional sepatu-sepatu etnik Prajna juga sudah merambah Australia.

Kurang dapat membaca selera pasar.
Meski masalah selera itu bersifat relatif, namun produk lokal terkadang masih belum dapat menangkap kebutuhan dari segmen masyarakat dalam negeri.

Misalnya nih, saya punya pengalaman dengan membeli t-shirt buatan lokal yang menambahkan detail yang justru menurunkan nilai jualnya, yaitu detail gambar atau jahitan yang terlalu pasaran dan kurang fungsional. Padahal kalau tidak menambahkan detail tersebut, produknya akan terlihat jauh lebih berkelas.

Kadang beberapa produk lokal belum bisa menangkap tren pasar, terutama dalam hal desain yang sederhana sehingga bercitra simple. Masih banyak yang justru memilih desain rumit yang ramai sehingga berkesan berantakan.

Waktu mengamati semua produk UKM yang dipamerkan di Semarang Art Gallery, sebagian besar produk sudah mampu membidik kelas tersendiri. Bisa dibilang kelas ekspor.

Penyuka barang-barang bernuansa etnik memang sebagian besar orang luar negeri, namun produk yang dipamerkan di sana tetap mengusung nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Kalau dicermati, desainnya pun sudah berkesan simpel dan elegan.

Ada satu merek tas yang cukup menarik perhatian saya, yaitu Judy & Frances. Kalau melihat sekilas saja pasti nggak percaya kalau tas ini merupakan produk buatan lokal.

Dari kiri atas : Tas Judy & Frances berbahan batik dengan detail anyaman. Tas Judy & Frances dengan detail bergambar wayang. Tas sulam pita dari lokapita dan tas berbahan anyaman bahan alam dengan detail bebungaan 3D.

Kemasan yang kurang menarik.
Sebagian besar produk yang banyak digemari oleh masyarakat adalah produk dengan kemasan yang menarik. Banyak sekali produk lokal yang sebenarnya memiliki kualitas yang sangat baik, namun tidak dikemas dengan menarik bahkan terkesan seadanya.

Sebagian besar produk di Semarang Creative Gallery adalah produk kriya atau karya seni kreatif yang dengan produknya sendiri sudah mampu mewakili citra merek tersebut. Namun, tidak semua produk dari produsen lokal, terutama yang memproduksi makanan bisa menjawab tantangan ini.

Masukan untuk produk stik bandeng adalah adanya keterangan Angka Kecukupan Gizi atau AKG. Masukan untuk Bandeng Presto adalah pengemasan yang lebih menarik. 

Contohnya saat berkunjung ke sentra pembuatan bandeng presto di daerah Krobokan, Semarang. Secara rasa dan kualitas, saya bisa memberikan acungan dua jempol karena tidak kalah dengan produsen bandeng presto yang sudah tersohor di Semarang. Apalagi produk bandeng presto dengan nama dagang New Istichomah ini juga cukup inovatif mengembangkan produk pendamping lainnya, misalnya tahu bakso bandeng dan stik dari duri ikan.

Masukan untuk produk tersebut adalah pembuatan kemasan yang lebih menarik serta adanya keterangan angka kecukupan gizi pada produk stik dari duri bandeng. Hal tersebut menurut saya merupakan suatu upaya agar produk makanan lebih terpercaya.

Kemasan yang menarik tentu saja akan memberi nilai tambah dan membangun citra produk UKM lokal yang dapat bersaing dengan produk hasil industri berskala pabrik maupun skala internasional.

Kurang memiliki nilai tambah positif.
Tidak dapat dipungkiri bahwa hampir semua produk UKM lokal memiliki keseragaman dalam hal tema, bahan, dan eksekusi pemasaran. Kalau saya amati sebagian besar merupakan produk-produk yang berusaha mengangkat bahan-bahan lokal dan tradisional dari tempatnya berasal. Misalnya kain batik dan kuliner khas dari bahan-bahan lokal.

Hampir semua tempat di Indonesia memiliki kain khasnya, batik terutama. Ada berbagai macam jenis batik yang tersebar di Pulau Jawa. Jika biasanya sebagian besar kain batik dibuat sebagai sekadar komoditi agar warisan budaya ini tidak hilang maka ada yanng sedikit berbeda dengan batik yang diproduksi di Kampung Batik Malon, Gunung Pati Semarang.

Ini merupakan pertama kalinya saya berkunjung ke Kampung Alam Batik Malon. Kami diterima di sanggar Zie Batik dan melihat lokasi tempat pembatikan yang ada di tengah-tengah kampung bernuansa pedesaan.

Tentu saja ini menghapuskan ekspektasi awal bahwa saya hanya akan menemukan sebuah workshop dimana pengrajin batik duduk dengan cantingnya di hadapan tungku kecil yang berisi lelehan malam, seperti kunjungan ke beberapa kampung batik yang pernah saya lakukan.

Di luar ekspektasi, rombongan blogger disambut oleh pemilik sanggar Zie Batik, yaitu Pak Heno beserta istrinya. Di sana kami mendengarkan paparan kisah mereka merintis Kampung Batik Malon dan bagaimana Zie Batik tidak sekadar sebuah komoditi tanpa nilai tambah. Kisah tersebut nanti akan saya bahas tersendiri, ya.

Salah satu nilai tambah yang membuat Zie Batik berbeda adalah karena produksinya mengusung konsep ramah lingkungan. Misalnya dengan pemilihan pewarnaan batik yang menggunakan bahan-bahan alami dan nonkimia.

Warna-warni batik berasal dari berbagai tanaman seperti putri malu, mahoni, pinang, jelawe, kunyit, indigo, secang, kulit rambutan, kulit manggis, kecapi, daun mangga, daun alpukat, mengkudu, dan mimosa. Warna ungu kemerahan didapat dari kulit manggis. Biru indigo dari tanaman indigofera tinctoria atau tom dalam bahasa Jawa.

Yang menarik, Zie Batik juga menggunakan propagul tanaman mangrove untuk menghasilkan warna coklat. Perhatian kedua pemilik sekaligus founder Zie Batik terhadap lingkungan hidup menggerakkan mereka untuk turut menyumbangkan satu nilai tambah pada pelestarian lingkungan hidup.

Tanaman Mangrove yang terkenal sebagai tanaman yang menghambat abrasi oleh air laut menginspirasi keduanya untuk menciptakan Batik Mangrove.

Meskipun batik warna alam memiliki kelemahan dalam hal ketahanan warna, namun founder Zie Batik yakin bahwa batik buatan mereka dapat mengantongi SNI dalam hal mutu pewarnaan.


Nah, sampai di Kampung Alam Malon, perspektif saya soal produk UKM asal Semarang langsung bergeser jauh dari titik sebelumnya. Semarang ternyata memiliki potensi produk UKM yang masih tersembunyi dan terus berkembang. Dukungan dari berbagai pihak tentu saja dibutuhkan agar potensi 'emas' yang tersembunyi dapat terlihat kilaunya sampai ke mancanegara.


Kegiatan One Day Trip blogger bersama Dinkop Usaha Mikro Kota Semarang menjadi sebuah jembatan yang dapat menghubungkan jurang antara produsen potensial yang belum dikenal luas padahal memiliki karya-karya sepadan dengan produk internasional, dengan konsumennya, yaitu masyarakat lokal yang masih ragu bahkan kurang berminat terhadap produk UKM lokal.

Tidak menutup kemungkinan juga bahwa informasi mengenai keberadaan UKM di Kota Semarang ini dapat menginspirasi masyarakat yang lebih luas untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif.

Ekonomi kreatif diprediksi akan menjadi mesin penggerak ekonomi Indonesia di masa depan.

Menurut Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf menjelaskan, ada 16 subsektor ekonomi kreatif yang dibina Bekraf. Subsektor itu ialah aplikasi dan pengembang permainan, arsitek, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film (animasi dan video), fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, dan televisi serta radio.

Dari 16 subsektor, yang menyumbang kontribusi produk domestik bruto (PDB) ekonomi kreatif terbesar adalah kuliner, fashion dan kriya.

Jadi kalau teman-teman terinspirasi dengan para pelaku UKM yang sudah sukses seperti yang saya tuliskan di atas, dan ingin berkontribusi maka jangan ragu untuk mengeksplorasi ketiga subsektor tadi.

Salam,
#SemarangHebat #BanggaUKMSemarang #ProdukUKMSemarang

4 comments:

  1. Wah kok dari foto fotonya produk local sekarang jadi tampak kece ya mbaa. Jadi mau beli tas yang mba pegang tadi hahaha

    ReplyDelete
  2. Wowww, yang produksi bandeng itu langganan aku belanja bandeng presto. Tapi selama ini cuma nitip beli ama teman.. Jadi penasaran dengan tempat produksinya

    ReplyDelete
  3. Naksir batiknya. Jadi kepikiran itu batik mau dibikin gamis ntar dikombinasi sama bahan polos. Keknya cakep deh

    ReplyDelete
  4. Cakep-cakep ya mbak.. aku suka lihatnya.. tapi kalau beli mikir2.. bukan karena buatan lokal.. ngitung duit di dompet, hehe..

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...