Saturday, March 24, 2018

Wanita Peduli Lingkungan Dalam Women Blogger Movement Bersama Alfamart

Dampak Kerusakan Lingkungan Bagi Wanita.

Kalau menilik sedikit pada beberapa peristiwa bencana lingkungan hidup yang pernah terjadi pernahkah berpikir bahwa wanita sebenarnya mendapatkan dampak yang lebih besar ketimbang pria?

Contohnya ketika Danau Chad di Afrika bagian tengah mengalami 90% kekeringan, para wanita penduduk asli setempat yang biasa hidup nomaden harus berjalan sangat jauh untuk bisa mendapatkan air. Kenapa wanitanya, bukan prianya? Karena dalam keseharian merekalah yang biasanya mencari air, sementara para pria pergi ke kota.

Dalam data PBB dan hasil penelitian terbaru, dampak perubahan iklim yang membuat penduduknya harus mengungsi menunjukkan bahwa jumlah pengungsi wanita lebih banyak dibandingkan pria. Peran sebagai pengasuh utama dan penyedia makanan serta bahan bakar membuat perempuan lebih rentan saat terjadi banjir atau kekeringan.

Contoh lainnya adalah ketika terjadi badai Katarina di Amerika Serikat pada 2005. Pihak yang paling merasakan dampaknya adalah perempuan Amerika-Afrika. Saat permukaan laut naik dan menyebabkan banjir, kota-kota dataran rendah seperti New Orleans semakin berisiko.

Jacquelyn Litt, profesor kajian perempuan dan gender di Rutgers University, AS mengatakan,  "Lebih dari separuh keluarga miskin di kota tersebut dikepalai oleh ibu tunggal," imbuhnya. Litt menambahkan, para perempuan tersebut umumnya bergantung pada jaringan masyarakat untuk bertahan hidup.

Saat badai datang, kerusakan mengikis jaringan tersebut. "Ini menempatkan perempuan dan anak-anak mereka pada risiko yang jauh lebih besar," kata Litt. Selain itu, saat terjadi bencana, biasanya tempat penampungan darurat tidak cukup dilengkapi fasilitas pendukung untuk perempuan.

Contohnya fasilitas sanitasi. Ditambah lagi, tempat penampungan yang biasanya tidak terpisah antara laki-laki dan perempuan juga meningkatkan insiden kekerasan terhadap perempuan. Di antaranya adalah kekerasan seksual hingga berebut untuk makanan. (National Geographic, Maret 2018)

Wanita Bisa Melakukan Perubahan Untuk Lingkungan. 


Isu-isu lingkungan hidup, mulai dari krisis air, pemanasan global, dan sampah sebenarnya sangat terkait dengan peran wanita dalam keseharian.

Siapakah yang memutuskan akan memasak air atau membeli air minum kemasan untuk keluarga di rumah?

Siapakah yang biasanya memutuskan akan menggunakan kantong plastik atau tas belanja ketika membeli bahan makanan? Kemanakah sampah-sampah rumah tangga akan dibuang? 

Tanpa disadari, wanita sebenarnya memiliki peran yang cukup besar untuk mengendalikan laju kerusakan lingkungan. Ketika kita mengerem penggunaan kemasan plastik, ketika kita belajar mendaur ulang sampah, dan menghemat air. Itu merupakan beberapa hal kecil yang bisa kita lakukan dalam keseharian. Bagaimana sebenarnya wujud nyata dari wanita peduli lingkungan ini?

Friday, March 23, 2018

Tiga Aktivitas Wisata Salatiga Yang Tidak Boleh Dilewatkan : Camping di Agrowisata d'Emmerick Hotel, Menguji Adrenalin Di Adventure Park d'Emmerick, & Jeep Tour Berburu Sunrise Telomoyo

Satu minggu yang lalu saya berkunjung ke sebuah kota yang berada di lereng timur Gunung Merbabu. Jaraknya hanya sekitar 49 km ke arah selatan Kota Semarang, menawarkan udara pegunungan yang sejuk, dan selalu menjadi guyonan bahwa kota ini tidak akan pernah mendapat nilai yang sempurna karena selalu 'sala(h)tiga'.

Meskipun begitu, pada masa penjajahan Belanda, kota ini sempat mendapat julukan De Schoonste Stad van Midden-Java atau 'Kota Terindah di Jawa Tengah'.

Julukan itu tentu saja bukan tanpa sebab. Tuhan menganugerahi Salatiga dengan anatomi geografi yang indah; pemandangan Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Ungaran, Gunung Telomoyo, dan Rawa Pening menyatu dalam satu lanskap yang bisa dilihat secara menyeluruh karena kota ini terletak di ketinggian 750-850 mdpl. Belum lagi jika menelusuri kekhasan bangunan arsitektural peninggalan masa kolonial yang bergaya Indis. 

Meskipun tidak sempat berjalan-jalan secara langsung di kotanya, namun saya bisa sedikit mendapatkan gambaran tentang bangunan peninggalan masa kolonial di D'Emmerick Corner yang ada di area lobby Hotel D'Emmerick, Salatiga. 

Hal pertama yang paling menarik perhatian ketika sampai di area hotel ini adalah sebuah bundaran taman yang ditumbuhi aneka bunga berwarna cerah yang mengelilingi bangunan berbentuk kincir angin.

Di sekeliling bangunan hotel, pohon cemara tumbuh menjulang, sedikit menghalangi pemandangan ke arah lereng Gunung Merbabu yang siang itu menampakkan bagian puncaknya karena langit yang relatif cerah. 

Matahari yang tidak terlalu terik, hembusan angin yang memutar kincir angin_landmark hotel yang sebelumnya dikenal dengan sebutan Agrowisata Salib Putih_menyambut kedatangan blogger dkk siang itu.

Rombongan tersebut datang dari berbagai penjuru kota di Jawa Tengah dan Jawa Barat untuk memenuhi undangan dari d'Emmerick Hotel Salatiga dalam acara Blogger Camp yang berlangsung selama dua hari, Kamis hingga Jumat, 15-16 Maret 2018.

Acara tersebut dihadiri sekitar 30 orang yang terdiri dari Blogger, Vlogger, Youtuber, dan Fotografer dari berbagai kota. Sebagian besar peserta berasal dari Kota Semarang dan sekitarnya seperti Salatiga, Kendal, Pemalang, dan Pekalongan. Kemudian ada juga yang datang dari Boyolali, Solo, dan Jogja. Sementara yang terjauh datang dari Jakarta dan Sukabumi.

Tonton Video Youtube-nya di sini :



Sejarah Hotel d'Emmerick.

Sambil menunggu di area lobby d'Emmerick yang lapang dan memiliki langit-langit yang tinggi sehingga dapat menangkap angin yang cukup sejuk, para peserta duduk-duduk, mengobrol dan saling bertukar sapa. Sebagian peserta memang sudah ada yang saling mengenal sebelumnya, sebagian lagi justru berusaha menyegarkan ingatan karena mungkin hanya ingat wajah tapi lupa nama atau sebaliknya. Di salah satu sudut lobby, terparkir sepeda tua di dekat sebuah ruang tamu yang mengadopsi perpaduan gaya kolonial dan Jawa. Sebuah patung yang bertuliskan Abraham Theodorus J. Van Emmerick menggelitik bagian memori saya yang berkategori 'Sejarah'. Rasa ingin tahu terhadap sejarah berdirinya tempat ini mulai muncul sehingga iseng-iseng saya mengontak salah satu teman via whatsapp, "Kamu tahu sejarah berdirinya Kawasan Salib Putih yang sekarang jadi hotel dÉmmerick," tulis saya. Namun, rasa ingin tahu tersebut tidak lantas terpuaskan karena teman saya tidak langsung menjawab pesan saya. 


Wednesday, March 21, 2018

Wewangian Yang Selaras Dengan Mood Dari Cussons Imperial Leather


Memulai aktivitas paling menyegarkan kalau sudah diawali dengan mandi, apalagi di pagi hari. Rasanya mood langsung up kalau mencium aroma sabun yang memang biasa kita pakai. Setelah itu, oles-oles lagi pakai body lotion yang juga sudah kita pilih sendiri varian dan aromanya.

Aroma atau wewangian yang melekat di tubuh memang salah satu faktor yang bisa membangkitkan mood seseorang. Maka biasanya kita selektif soal aroma apa yang bakal melekat di tubuh karena akan mengikuti kita sepanjang hari.

Setiap orang punya preferensinya sendiri-sendiri dalam hal wewangian. Ada yang suka aroma yang segar, ada juga yang suka aroma yang hangat. Ada yang menurut seseorang wanginya lembut, tapi bagi yang lain tercium terlalu kuat. Semua itu tergantung selera, dan terkadang juga mood.

Sejarah Imperial Leather.
Saat ini, saya sedang mencoba rangkaian koleksi parfum dari Imperial Leather, yaitu Imperial Leather Body Perfume Collection.

Pasti tau dong merek Imperial Leather ini. Biasanya produk yang jadi favorit adalah sabun mandinya. Saya termasuk yang sudah memakai sabunnya sejak masih duduk di bangku SMP. 

Thursday, March 8, 2018

Kemah Ceria DAS Garang Bersama Mercy Corps Indonesia

Camping For(est)


Apa yang ada di benak kalian kalau mendengar kata berkemah?

Beberapa tahun lalu, saat berkemah di kaki Gunung Puntang, salah satu gunung yang melingkari Kota Bandung, salah satu penggiat wisata edukopi di sana nyeletuk kepada saya, "ngapain kamu camping?" sambil tersenyum melihat barang bawaan saya yang segunung. 

"Saya mau menikmati suasana alam, Pak..." ujar saya kala itu. 

Beliau yang memang cukup akrab dengan mendiang paman saya, langsung mengangsurkan tangannya membantu membawakan barang-barang, "Mau menikmati alam, tapi takut meninggalkan kenyamanan rumah, ya," balasnya lagi dengan mimik yang selalu saya tangkap sebagai; wah mau mulai berfilosofi lagi, nih. 

Saat itu, sambil jalan ke area kemah, saya terpaksa pasang telinga mendengarkan kultumnya. 

"Kamu tahu, kenapa saat kemah, orang-orang bawa gadget, memutar musik, bawa makanan ini itu, pasang genset supaya ada listrik, padahal niatnya mau menyatu dengan alam?" 

"Ya namanya juga kemah, Pak," ujar saya waktu itu. 

"Semua itu, buat mengusir kebosanan. Karena dia itu mahluk paling ditakuti manusia. Lihat saja, benda atau aktivitas apapun untuk menghalau rasa bosan, pasti laku dijual kan?

Pertanyaan saya, tambahnya lagi, mengapa kamu kemah di hutan? Karena di hutan, seseorang bisa belajar banyak sekali dari pohon dengan ekosistem yang sempurna.

Di hutan, kita bisa memilih waktu untuk mengambil jeda alias istirahat.
Karenanya itulah hutan dalam bahasa Inggris disebut forest - for rest."

Waktu itu, saya cuma memikirkan kalimat beliau sambil lalu. Ngga penting amat sih, batin saya kala itu. Duh, maafkan saya yang dulu. 

Sejak itu setiap mau kemah saya selalu memikirkan kalimat beliau. Saking terlalu lama menimbang-nimbang saya malah jadi ngga pernah kemah lagi sejak itu. 

Kemah Berfaedah Bersama Mercy Corps Indonesia.



Kemudian datang tawaran mengikuti acara Kemah Ceria bersama Mercy Corps Indonesia tanggal 3-4 Maret kemarin di kawasan Wana Wisata Curug Semirang. Dalam hati langsung berpikir, wah kemah berfaedah nih.

Wednesday, March 7, 2018

Tampil Fotogenic & Flawless Tanpa Make Up Dengan Astalift


Dari judul di atas, kira-kira berapa dari kita yang tetap merasa pede dan berani tampil apa adanya untuk dipotret meskipun nggak mengenakan make-up? 

Meskipun saat ini sudah banyak teknologi kamera ponsel yang bisa menyulap wajah jadi mulus dan cling saat nggak mengenakan riasan, tapi sebenarnya pasti pengin dong bisa tampil seperti itu setiap saat.

Rahasia untuk tidak bergantung pada riasan, atau riasan hanya digunakan untuk mempertegas kecantikan alami kita, sebenarnya terletak pada kondisi kulit yang sehat. 

Untuk mencapai kondisi tersebut ternyata nggak mudah dan butuh usaha ekstra, apalagi kalau kita sudah terlanjur malas merawat kulit dan sudah terpapar beberapa permasalahan kulit, seperti penuaan dini, flek hitam, pori-pori besar, dan pigmentasi. Apalagi kalau usia kita sudah 30an, rasanya makin harap-harap cemas dong. 

Seminggu yang lalu, saya diperkenalkan dengan sebuah produk dari Fujifilm, brand yang sama yang memiliki lini produk kamera mirrorless kekinian. Waktu itu saya berpikir bahwa ada satu teknologi dari kamera tersebut yang hasil fotonya bisa membuat wajah orang yang dipotret jadi fotogenik dan flawless.





Ternyata saya salah. Produk yang dimaksud justru adalah rangkaian produk skincare dan kosmetik. Ketika mengetahui hal itu, saya langsung tertarik dong. Pengin tahu lebih jauh, kenapa sih Fujifilm sampai kepikiran mengeluarkan rangkaian skincare. 

Tuesday, March 6, 2018

Pengalaman Body Treatment Di Sanasya Spa Muslimah Semarang


Hampir seminggu penuh aktivitas saya terasa padat, sampai-sampai rasanya nggak punya waktu untuk memberi reward buat diri sendiri. 

Akibatnya pikiran jadi kerasa penat dan badan pun semakin terasa letih. Kalau sudah begitu, biasanya saya memilih buat rehat seharian di rumah. Luluran, pakai masker wajah, dan pakai krim hair spa sendiri. Selesai semua itu, baru deh tidur siang. 

Tapi ternyata bayangan itu cuma jadi angan-angan, sampai rumah rasanya mau menggosok tubuh pakai krim lulur saja sudah ngga bertenaga. Kalau sudah begitu, langsung deh, saya googling internet dengan kata kunci 'spa muslimah semarang' dan tralaaaa ada sebuah tempat spa di dalam Java Mall yang menarik perhatian saya: Sanasya Spa Muslimah. 

Waktu lihat hasil pencarian di Google, saya langsung catat nomer teleponnya dan membuat reservasi untuk melakukan body treatment. 

Sesampainya di lokasi saya langsung melihat-lihat area salon sekaligus butik dengan interior bertema shabby chic yang didominasi dengan warna ungu itu. 

Setelah puas memanjakan mata, saya pun menghampiri resepsionis untuk menanyakan perihal reservasi saya. Nggak lama, Mba Sulis terapis yang akan melakukan treatment untuk saya pun menyambut dengan senyuman. "Wah, ramah-ramah nih staf dan terapisnya," batin saya yang langsung merasa bahwa dua jam lebih yang akan saya habiskan di Sanasya Spa ini bakal menyenangkan. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...