Thursday, March 8, 2018

Kemah Ceria DAS Garang Bersama Mercy Corps Indonesia

Camping For(est)


Apa yang ada di benak kalian kalau mendengar kata berkemah?

Beberapa tahun lalu, saat berkemah di kaki Gunung Puntang, salah satu gunung yang melingkari Kota Bandung, salah satu penggiat wisata edukopi di sana nyeletuk kepada saya, "ngapain kamu camping?" sambil tersenyum melihat barang bawaan saya yang segunung. 

"Saya mau menikmati suasana alam, Pak..." ujar saya kala itu. 

Beliau yang memang cukup akrab dengan mendiang paman saya, langsung mengangsurkan tangannya membantu membawakan barang-barang, "Mau menikmati alam, tapi takut meninggalkan kenyamanan rumah, ya," balasnya lagi dengan mimik yang selalu saya tangkap sebagai; wah mau mulai berfilosofi lagi, nih. 

Saat itu, sambil jalan ke area kemah, saya terpaksa pasang telinga mendengarkan kultumnya. 

"Kamu tahu, kenapa saat kemah, orang-orang bawa gadget, memutar musik, bawa makanan ini itu, pasang genset supaya ada listrik, padahal niatnya mau menyatu dengan alam?" 

"Ya namanya juga kemah, Pak," ujar saya waktu itu. 

"Semua itu, buat mengusir kebosanan. Karena dia itu mahluk paling ditakuti manusia. Lihat saja, benda atau aktivitas apapun untuk menghalau rasa bosan, pasti laku dijual kan?

Pertanyaan saya, tambahnya lagi, mengapa kamu kemah di hutan? Karena di hutan, seseorang bisa belajar banyak sekali dari pohon dengan ekosistem yang sempurna.

Di hutan, kita bisa memilih waktu untuk mengambil jeda alias istirahat.
Karenanya itulah hutan dalam bahasa Inggris disebut forest - for rest."

Waktu itu, saya cuma memikirkan kalimat beliau sambil lalu. Ngga penting amat sih, batin saya kala itu. Duh, maafkan saya yang dulu. 

Sejak itu setiap mau kemah saya selalu memikirkan kalimat beliau. Saking terlalu lama menimbang-nimbang saya malah jadi ngga pernah kemah lagi sejak itu. 

Kemah Berfaedah Bersama Mercy Corps Indonesia.



Kemudian datang tawaran mengikuti acara Kemah Ceria bersama Mercy Corps Indonesia tanggal 3-4 Maret kemarin di kawasan Wana Wisata Curug Semirang. Dalam hati langsung berpikir, wah kemah berfaedah nih.



Kemah Ceriah atau Boot Camp 2018 sendiri merupakan bagian dari Program GRP-TRANSFORM program pengelolaan risiko banjir lintas wilayah di Kota Semarang dan Kabupaten Semarang hasil kerja sama Mercy Corp Indonesia, Atma Connect, ESG dan Karang Taruna Desa Gogik .

Di acara kemah itu, kami dibukakan kembali kesadaran serta wawasan tentang lingkungan hidup, terutama tentang bagaimana melakukan konservasi untuk DAS (Daerah Aliran Sungai) Hulu.

Daerah Aliran Sungai Garang yang melewati Kabupaten Semarang, Kota Semarang sampai Kab. Kendal dengan luasan Sungai 204 km² memiliki potensi bencana yang cukup besar bila tidak diperlakukan sesuai kaidah lingkungan. 

Bagaimana caranya? Yang paling mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik kemasan, dan mulai melakukan penghijauan. 

Kesadaran untuk bersikap peduli pada lingkungan semakin terbangun ketika para peserta menyaksikan aksi drama yang dibawakan oleh ibu-ibu PKK Desa Gogik, juga acara mendongeng yang dibawakan dengan cara yang unik, yaitu dengan wayang tenda.

Tonton video kegiatan Kemah Ceria di sini yaa



Outbond Kemah Ceria. 






Setelah menghabiskan satu malam beristirahat di tenda, dini harinya saya terbangun di tengah hutan yang tenang. Adzan subuh sayup-sayup terdengar, sampai suara seseorang membangunkan hingga saya benar-benar terjaga.

Saya pun berjalan keluar dari tenda menuju area MCK. Kayu-kayu sisa api unggun semalam menggunung di dalam tong. Terngiang kalimat Pak Walid dulu, "nanti malam kita tidak akan buat api unggun," tegasnya.

"Lho kenapa Pak?" Nggak asyik banget, batin saya waktu itu.

"Api unggun kita buat kalau ada gunanya. Buat apa menambahi pelepasan karbon ke udara, apalagi malam-malam pepohonan juga melepaskan senyawa karbon."

Sadar dan sayang sama lingkungan itu butuh proses, pikir saya sambil berjalan untuk mengambil wudhu. Peserta Kemah Ceria ini semuanya anak muda, mungkin seusia saya waktu kemah di Puntang dulu. Semoga saja dengan mengikuti kegiatan kemah ceria ini, kesadaran mereka terbangun sejak awal.

Setelah sarapan pagi dengan nasi rames yang dibungkus daun jati, para peserta mengenakan kaus berwarna merah, bersiap untuk melakukan outbond.

Hari itu ada 33 peserta yang ikut, sehingga dibuatlah tiga kelompok yang terdiri dari 11 orang. Kelompok pertama; Anak Panah, Kelompok dua; Gede, dan kelompok tiga; DAS.

Outbond dibuka dengan membuat kesepakatan bersama, soal usia yang setara, yaitu 17 tahun dan pasokan energi sejumlah 55. Demi kekompakan, masing-masing kelompok membuat yel-yel. Selanjutnya adalah permainan untuk belajar menajamkan fokus dan konsentrasi.

Permainan yang menuntut team work pun dimulai dengan menyusun balok kayu, memasukkan bola ke dalam bejana, water transfer, memecahkan balon, dan bridge ball. 

Cukup banyak pelajaran yang bisa dipetik dalam kegiatan outbond tersebut, mulai dari soal komunikasi kelompok dan kerjasama, empati, service excellent, sampai belajar untuk memfokuskan pikiran.

Bagi saya yang terbiasa multitasking, pelajaran yang paling ngena adalah belajar untuk FOKUS. Kalau biasanya pikiran yang loncat sana dan sini dimaknai sebagai sesuatu yang menantang padahal pikiran seperti itu susah untuk mencapai kedalaman, maka saat acara outbond ini saya seperti dipaksa untuk fokus pada satu tujuan sekali waktu.

Merilis Aplikasi AtmaGo



Selesai outbond, para peserta kembali berkumpul di area depan panggung untuk menyimak paparan tentang aplikasi AtmaGo.

Aplikasi AtmaGo adalah aplikasi yang dibuat dengan ide dan semangat “warga bantu warga” untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik dari bawah.

Aplikasi ini juga terkait dengan risiko masyarakat yang tinggal di aliran DAS Garang yang akan terus menghadapi risiko banjir dalam waktu yang tidak bisa diprediksi sehingga memerlukan informasi yang lebih baik untuk mengurangi dampak negatifnya.

Atma Connect memperkenalkan AtmaGO, sebuah aplikasi berbasis web dan android gratis yang digunakan sebagai alat komunikasi berbiaya rendah yang efektif bagi masyarakat baik yang tinggal di hulu (Kabupaten Semarang) maupun di hilir (Kota semarang) untuk berbagi informasi penting tentang risiko banjir.

Berikut ini adalah Protokol Penggunaan EWS Semarang.



AtmaGo juga merupakan situs web dan aplikasi Android gratis yang dapat dimanfaatkan untuk melaporkan masalah, berbagi solusi, mencari pekerjaan, dan memposting berita mengenai lingkungan.


14 comments:

  1. Replies
    1. Iyaa Teh...
      Klo masih di Smrg mah ikutan geura sama Mas Anas

      Delete
  2. Kemah adalah Rinjani, Rinjani adalah kemah.
    Dan mari baper maksimal..^^

    Wah, harus segera unduh dan pasang aplikasi AtmaGo dah ini.
    Biar makin apdet dg kondisi terkini destinasi wisata alam di Lombok.

    Salam siang mbak Nia ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lama ngga kemah yaa Mbaa...cuss kemah lagi, pasti semakin seru di kaki Rinjani

      Delete
  3. pengen kemah, tapi di dalem kamar tapi pakai tenda, tapi makannya juga pakai kompor kemah sama masak sendiri deket tenda, pengen...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu mau kemah apa mau ngapain sih sebenernya... hahaha

      Delete
  4. Kemahnya asik ya mbak. Kemah ceria jaman now, dapat info juga ya tentang aplikasi ATMAGO. Nice sharing mbak.

    ReplyDelete
  5. Gagal fokus. Tertariknya malah sama cerita FOR REST = FOREST..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...nanti aku bikin sambungan cerita yang ttg For Rest itu deh Jie..

      Delete
  6. Waah...seru kemahnya... Dan rekaman percakapan di awal post ini seolah menamparku! Trims ya..

    ReplyDelete
  7. Hmm....jadi kemarin itu kita belum sebenar-benarnya camping ya. Belum bisa lepas listrik, gadget, makanan enak juga.

    ReplyDelete
  8. kemah seru banget, semoga bakal nemu kegiatan seperti ini lagi ...

    ReplyDelete
  9. pasti seru ni kemah bareng keluarga lagi menambah erat hubungan keluarga

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...