Monday, May 21, 2018

Lima Alasan Kenapa Harus Slowing Down : Karena Hidup Butuh Pemaknaan.




Pukul sepuluh kurang beberapa menit saya membuka pintu kamar tidur utama. Anak-anak sudah tertidur lelap, tubuh keduanya, meski tidak berpelukan, berdekatan dan saling menyamankan. Melihat keduanya tertidur, ada perasaan damai mengisi ruang-ruang hati yang seharian terasa bising. Lalu kemudian terselip rasa bersalah ketika membayangkan keduanya melewatkan jam makan malam tanpa ibunya. Juga tidak ada cerita pengantar tidur, dan teman membaca doa sebelum tidur. 


Duduk di tepi tempat tidur dan memandang keduanya, rasa gusar dan nyaman hinggap bergantian. Seperti daun pintu yang dibuka lalu ditutup, kedua rasa itu keluar-masuk bersamaan. Saya melirik meja kerja, kabel pengisi ulang daya laptop masih menempel, buku-buku bacaan berserakan di atasnya. Ketika menjelajahi setiap sudut kamar, dan menemukan segala hal seperti tidak lagi pada tempatnya, seolah ada yang berbisik di telinga : "....Beginilah kalau ibu bekerja seharian di luar rumah..." 

Lalu tangan menepis bisikan itu dan meraih laptop yang tergeletak di meja kerja. Menyalakannya, lalu menunggu sesaat hingga terkoneksi ke internet. Menunggu. 

Sudah empat bulan lebih kami nggak ngobrol . Terpisah benua, prioritas, dan kesibukan masing-masing. Apa sih, yang membuat sahabat saya itu begitu sibuk? Pacar baru, sedang menulis jurnal ilmiah terbaru, atau apa? 

"Katumbiri lagi kebanjiran anak-anak baru," sebuah pesan masuk. "Lagi sibuk apa sih, sekarang???" 

"Tanda tanyanya sampai tiga gitu?" balas saya.

"Satu nggak cukup kali. Karena Gue sangat mempertanyakan kesibukan Lo kali ini." balasnya.

"Lo juga sibuk," balas saya defensif.

"Kita sama-sama sibuk. Tapi Lo tau Gue sibuk apa, Gue di sini bingung Lo sibuk apa?" Iya juga, pikir saya.

"Aku lagi ngerintis kantor baru. Bergerak di bidang digital marketing. Tantangan baru lagi, dan Lo taulah, Gue sibuk apa selain itu?" jawab saya.

"Koreksian? Nulis buku? Dapur? Jadi mata-mata? Apa? Ngga spesifik, ih?" berondongnya. Masih mempertanyakan.

"Gue emang lagi nggak spesifik dan butek," jawab saya sambil menyisipkan emoticon dengan garis lengkung mengarah ke bawah.

"Terus ini mau curhat niatnya?"

"Iyalah....."

"Nggak sopan. Kangen-kangenan dulu napa?"

"Nggak perlu. Udah basi kangennya dari awal tahun kemaren."

"Ya udah mon maap ya. Thesis nggak kelar-kelar ya, Lo tau kan. Jurnal. Day Care juga. Udah Lo cepetan kuliah lagi kenapa? Biar bisa nemenin Gue di sini. Boyong aja keluarga Lo napa kalau udah bosen sama Indonesia. Katumbiri butuh baby sitter baru tuh."

"Dih, jauh-jauh ke sono, Gue cuma mau disuruh ngasuh anak-anak. Anak-anak Gue aja belakangan ini nggak kepegang Cumiii.."

"Lah napa nggak kepegang? Tumbenan aja,"

"Panjang ceritanya..."

"Intinya aja."

"Lagi banyak tawaran yang menyamar jadi godaan, atau mungkin kesempatan yang menyamar jadi godaan dan sebaliknya-- kemudian jadi distraksi. Intinya lagi nggak fokus.

Hidup jalannya cepet banget kayak nggak ada artinya. Dan belakangan, tiba-tiba takut mati tanpa punya bekel apa-apa. Banyak yang kejadi, Lo harus pulang, atau Gue yang kesana. Kita harus ketemu kalau Lo mau tau kondisi terbaru saat ini."

"Ya udah, tunggu setahun lagi baru curhat. Eh, dua tahun. Kalau Lo kuat"

"Ya udah sekarang aja curhatnya kalau Lo nggak sibuk."

"Nggak. Pas banget lagi mau hubungin Lo. Ya udah cerita aja. Masalah peran ganda lagi?"

"Nggak. Itu mah udah lewat. Sudah merasa nggak berkonflik lagi antara jadi ibu bekerja di rumah, ibu rumah tangga, atau bekerja di luar rumah. Sudah pernah ngerasain semuanya. Tanggung jawab jadi ibu nggak pernah berkurang atau berubah dengan semua peralihan status itu. Masalahnya saat ini Gue merasa sibuk nggak jelas, sibuk yaa, bukan produktif."

"I feel you, belakangan ini Gue juga ngerasa gitu. Banyak dikecewakan dengan keadaan. Padahal nggak harus kecewa kan kalau kita bisa mengontrol reaksi kita."

"Itu banget. Gue kok merasakan hal yang sama, Di."

"Ada beberapa alasan kenapa rasanya Gue mesti memperlambat ritme hidup Gue di sini padahal ya, sehari-hari yang Gue pikirin itu cuma gimana caranya ngeberesin thesis, lho. Tapi justru memikirkan hal itu terus nggak bikin Gue jadi lebih fokus. Thesis Gue juga nggak cepet beres."

"Mungkin energi Lo habis karena hanya fokus sama satu hal. Padahal solusi mungkin bisa muncul dari hal lain. Break dulu, gih. Lebaran pulang ke Bandung, gitu?"

"Iya. Semoga bisa pulang. Day Care tutup seminggu sebelum lebaran aja kali, ya. Tapi aku kasian sama ibu-ibu yang masih kerja di minggu-minggu itu."

"Mungkin saatnya Lo yang kasian sama diri sendiri. Ini terjadi sama Gue juga. Penting banget rasanya mikirin orang lain hidupnya gimana, tapi lupa Gue juga punya keluarga, dan diri Gue sendiri yang harus diperhatikan. Mereka pasti bisa cari cara, kok. Lo inget zaman Gue kerja, dan Ezra mesti ikut kan. Gue bisa, apalagi mereka yang tinggal di negara tanpa kemacetan dan jauh lebih mudah apa-apanya dibanding di Jakarta.

"Iya bener. eh, by the way jadi apa yang pingin Lo curhatin?"

"Sama dengan Lo, Gue juga punya 5 alasan kenapa harus slowing down,"

Selanjutnya bakal saya rangkum dalam bentuk daftar saja, ya. Karena kalau memindah percakapan yang berlangsung, banyak OOT-nya, hihihi. Baiklah, jadi ini 5 Alasan yang berhasil saya rangkum.

1. If something you want is slow to come to you, it can only be for one reason : you are spending more time  focused upon it absence than you are about it presence.



Sama seperti kejadian teman saya yang hampir tiap hari memikirkan "thesisnya yang belum beres-beres." alih-alih memikirkan pencapaian-pencapaian kecil yang sudah dicapai, misalnya berhasil membaca satu jurnal dan membuat intisarinya, dia lebih sering fokus pada yang belum selesai atau belum dimulai. Pikiran saya belakangan ini, entah bagaimana, juga sama. Lebih tertarik memikirkan hal-hal yang sebenarnya nggak ada, atau nggak perlu ada, ketimbang yang sudah ada dan berhasil dicapai. Padahal kalau saja mau fokus pada yang sudah dimulai dan dikerjakan, pasti hasil nyatanya lebih terlihat. Untuk bisa memahami hal ini, butuh stillness. Luangkan waktu sehari saja, untuk memahami apa yang sudah kita miliki dalam hidup, bukan apa yang belum kita miliki.

2. You have permission to rest. You are not responsible for fixing everything that is broken. You do not have to try and make everyone happy. For now, take time for you. It's time to replenish. 



Sama-sama punya kebutuhan nurturance yang besar dan bakat empati yang tinggi, bikin saya dan sahabat saya suka nggak tegaan sama orang. Hasilnya bisa bagus jika diterapkan di pekerjaan-pekerjaan yang memang membutuhkan kedua hal itu. Tapi di lingkaran sosial, kami sering jadi social pleaser. Padahal Papa saya pernah bilang; "salah satu awal mula kegagalan adalah ketika kamu berusaha menyenangkan semua orang. Seorang pemimpin harus siap tidak disukai sejumlah orang. Be still dengan prinsip-prinsip kamu sendiri, dan tujuan yang lebih besar manfaatnya."

3. Don't downgrade your dreams to match your reality. Upgrade your belief to match your vision. 



Kepentok sama kenyataan pahit lalu menyerah menjadi 'jalani apa adanya saja'. Setiap kali kita memulai usaha, pasti akan ada tantangan. Seringnya yang terjadi adalah menurunkan standar. Hasilnya, bukannya tujuan semakin cepat tercapai, justru bikin semakin pesimis.

Misalnya nih, beberapa waktu lalu saya sempat menghentikan produksi beberapa olahan camilan sehat karena supplier yang biasa mengirim bahan-bahan yang memang masih harus diimpor mengalami kendala. Waktu itu sempat pesimis nggak bakal melanjutkan usaha, karena camilan sehat yang saya buat termasuk best-seller. Ternyata ini cara Tuhan menunjukkan pilihan hidup yang lebih baik : Go local!

Beberapa bulan kemudian dihabiskan buat mempelajari pengganti bahan-bahan impor seperti maple syrup dengan gula cair berbahan singkong, tepung almond dengan sorghum. Sampai akhirnya bisa merasa lebih percaya diri untuk kembali memproduksi makanan dan camilan sehat. Lagi-lagi, ini karena kita mau meluangkan waktu untuk memikirkan ulang semua yang sudah kita jalani. Mau berhenti di tengah jalan, atau menyuntik kembali keyakinan bahwa kita bisa mencapai visi-misi-goal kita.

4. You attract what you focus on. 



Ini termasuk law of science dan fisika kuantum. Matters exist when it is observed. The key of manifestation is knowing and paying attention to what you want. Coba jalannya dipelanin dulu, kalau belakangan ini selalu menarik hal-hal yang nggak baik, mungkin harus memperbaiki fokus lagi. Hukum fisika kuantum bisa dibuktikan secara ilmiah, kok. Dan ini berlaku juga bagi manusia dan mahluk hidup berakal, bukan hanya beda-benda mati.

Kalau fokus kita mencari partner kerja yang baik dan sesuai harapan, jadikan diri ini orang yang baik dan sesuai harapan juga. Pernah dengar ini :

"Sejauh apapun kita pergi, hanya akan menemukan diri kita sendiri. Dan dengan siapapun kita dipertemukan, sebenarnya akan dipertemukan dengan diri sendiri yang ada pada orang lain. Siapapun partnermu itulah dirimu." Kalimat itu, sepertinya intisari dari perkataan Rumi. Berlaku untuk partner apapun.

Ngomong-ngomong soal partner kerja, jadi ingat pidato eulogi yang diberikan Hayao Miyazaki untuk Takahata :

"Even now, I remember the first time we talked. It was while I was waiting at a bus stop"

"Paku-san, we were truly alive at that time..."

"Thank you, Paku-san, for talking to me at that bus stop 55 years ago. I'll never forget it." 

Tonton videonya, di bawah ini



Paku-san adalah nama panggilan yang diberikan Miyazaki kepada Takahata rekan kerjanya di Studio Ghibli. Setiap kali saya memutar ulang cerita ini, ada rasa haru memenuhi dada. Kita tidak pernah tahu siapa partner kerja terbaik kita. Yang harus kita lakukan adalah untuk selalu fokus memikirkan hal yang baik, hingga orang-orang yang tertarik kepada kita pun orang yang sesuai dengan yang kita harapkan. Dan jangan pernah meng-understimate siapapun yang kita temui dalam perjalanan hidup ini karena kita tidak pernah tahu sepenting apa orang itu untuk kita di kemudian hari.

5. Prioritie like crazy. 

Tanpa prioritas kita hanya akan menjadi sibuk, bukan produktif. Itu yang saya rasakan ketika ritme hidup belakangan ini berjalan terlampau cepat. Aslinya kita itu hanya bisa memikirkan satu hal dalam sekali waktu. Tapi kita selalu berusaha untuk jadi mahluk multitasking, dan nggak sadar secara kesadaran dan energi kita jadi mudah ambrol. Harusnya kita mengerjakan yang kadang kita benci tapi harus selesai lebih dulu. Seharusnya kita mengerjakan apa yang kita pikirkan terus-menerus. Harusnya kita mengerjakan yang paling sulit dan butuh fokus paling besar. Tetapi kita sering mangkir dari kenyataan-kenyataan tersebut, dan membuat alasan-alasan.

Slowing down, benahi lagi prioritasmu. Mana yang membuatmu sibuk, mana yang membuatmu produktif.








9 comments:

  1. Ini kayak suamiku, suka mnenyenangkan hati orang jadi gampang kena tipu. Mengorbankan diri sendiri. Tapi kembali lagi niat di awal sih, hidup adalah agar bermanfaat untuk orang lain. Belajar dari pengalaman gitu aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul Mba. Kadang aku mikirnya gini, niat kita adalah bermanfaat buat orang lain, tapi kalau orang lain ternyata punya niatan lain, itu urusan dia dengan yang di atas, hehehe.

      Delete
  2. Aku baca tulisan Mbak Nia ini kok mbrebes mili ya. Serasa lagi diajak ngobrol di depan Mbak Nia terus ngomong dari hati ke hati.

    Iya, seminggu yang lalu kali ya aku menemukan pernyataan kalau siapa teman kita, ya itulah cerminan diri kita. Nggak mau sok sokan paling suci tapi mereka seperti demikian karena aku begini.

    Terima kasih, Mbak, ini seperti konseling bagiku. Dan poin tentang, kita nggak bisa nyenengin semua orang itu betuuuuul banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wow, terima kasih ya Mba, komennya penyejuk hati banget. Senang rasanya kalau ada manfaat yang bisa dibagikan dari tulisan ini :)

      Delete
  3. Sip 3x. Saya suka tipsnya. Slow down tapi tetep penuh passion dan belief ya ��

    ReplyDelete
  4. Makasih mba nia. Banyak harta karun dari tulisan ini. Barakallah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 Mba Hapsari...Aamiin, makasiy ya sudah mampir ke sini

      Delete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...