Saturday, May 26, 2018

Menu Buka Puasa Ala Food Combining



Hiromi Sinya, seorang dokter dari Jepang pernah berkata : "Lapar itu sehat."  Menurutnya, orang-orang yang sering menahan lapar atau berpuasa itu sehat karena mereka menahan laju metabolisme tubuh mereka. Secara fisiologi, ketika berpuasa, tubuh memang seolah diistirahatkan. Jadi ketika tidak ada aktivitas mencerna makanan, tubuh bekerja untuk memperbaiki kerusakan sel. Banyak kajian ilmu pengetahuan masa kini yang mengkaji manfaat berpuasa bagi kesehatan, dan 1400 tahun yang lalu secara lisan Rasullulah sudah menyampaikan manfaat dari berpuasa. Tapi apakah berpuasa tetap menjadi sehat ketika kita berbuka puasa dengan cara yang tidak tepat, dan selepas berbuka kita justru 'membalas-dendam' dengan makan secara berlebihan? Kali ini, saya akan berbagi kiat Ramadhan sehat, salah satunya adalah dengan menu buka puasa a la food combining


Menahan lapar itu mudah, tetapi setelah kita diberikan kesempatan untuk mengasup makanan ke dalam tubuh setelah Adzan Magrib berkumandang, apakah kita masih bisa dengan bijak memilih dan memilah asupannya? 

Sebenarnya, apa yang terjadi dengan tubuh kita ketika sedang berpuasa? 

Sebelum sampai sekitar delapan jam sesudah makan kita yang terakhir, tubuh kita sebenarnya belum benar-benar beristirahat atau berpuasa. Barulah setelah delapan jam, usus halus kita berhenti menyerap sari-sari makanan.

Lalu bagaimana kita mendapatkan energi? Tubuh mencari cadangan glukosa yang ada di otot dan di hati. Kalau glukosa di otot dan hati sudah habis, barulah tubuh menyasar lemak-lemak yang tersembunyi di balik lipatan tubuh untuk dibakar menjadi energi. 

Di hari-hari pertama, kita akan merasa mudah lesu, kadang mengalami sakit kepala, mual, dan pegal-pegal. Hal itu terjadi karena tubuh kekurangan glukosa. Minggu pertama, tubuh belajar beradaptasi dengan kondisi ini. Asupan sehat seperti buah dan sayur yang banyak mengandung enzim, juga air sangat baik untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang. 

Tapi apa jadinya jika ketika berbuka puasa tubuh dihajar oleh gula yang berlebihan dari semangkuk kolak bersantan?

Tubuh yang sedang beristirahat akan kembali ke fase 'menyala' akibatnya seluruh energi dikerahkan untuk mencerna makanan yang berat tadi. Tak ayal kita jadi ngantuk saat menjelang shalat tarawih. 

Buka puasa a la food combining, memungkinkan untuk menjaga tubuh tetap dalam fase 'istirahat'. Nutrisi tetap masuk, namun padu padannya tidak mengurangi cadangan enzim yang ada di dalam tubuh.

Yang pertama diasup saat berbuka adalah air putih, kemudian bisa dilanjutkan dengan buah potong atau kurma. Buah potong apalagi yang lokal lebih disarankan karena buah-buahan lokal memang khusus diciptakan bagi kebutuhan gizi orang Indonesia. 

Setelah itu, kita memberi jeda bagi tubuh untuk menyerap air dan buah-buahan yang kita makan, barulah setelah selesai shalat magrib kita bisa mulai makan dengan padu padan menu food combining. Misalnya hari ini kita ingin makan nasi merah, maka paduan yang tepat adalah hidangan berbahan sayur dan protein nabati. Sebaliknya, jika kita ingin makan protein hewani maka paduannya adalah sayur-sayuran (disarankan yang mentah dan sudah dicuci bersih)

Benarkah bulan puasa identik dengan detoksifikasi ? Ini beberapa pernyataan Erykar Lebang dalam Twitternya, yang saya kutipkan di sini : 

Pertama kita harus luruskan dulu salah kaprah penyamaan puasa Ramadhan dengan detoks, puasa tidak berarti sertamerta berdetoks. Detoks dalam konteks pembersihan racun tubuh membutuhkan penghematan energi luar biasa ekstra dengan penyederhanaan pola makan. Detoksifikasi sejatinya menghapus pola konsumsi protein hewani dalam pengerjaannya, yang kita tahu dapat bebani sistem cerna. 

Program detoksifikasi sejatinya membuat tubuh hanya ekslusif terpapar oleh bahan makanan mudah cerna, berdaya hidup dan segar. Dalam hal ini buah dan sayur mewakili kebutuhan detoksifikasi. Selama berada dalam keadaan segar & disantap dengan cara benar. Program detoks biasa disertai dengan masa istirahat selama pengerjaan. Untuk mengimbangi efek samping racun tubuh dalam darah. Sekaligus memaksimalkan efek penghematan energi tubuh yang sudah didapat dari penyederhanaan pola makan yang dilakukan tadi. 

Bagaimana dengan Ramadhan? Di luar ritual spiritual, puasa bulan ini, aplikasikan konsep detoksifikasi yang lebih sederhana. Yaitu dengan pengurangan beban sistem cerna. Dengan mengosongkan perut selama waktu normal sistem cerna diisi bahan makanan. Konsep ini jauh lebih maksimal bila dikaitkan petunjuk Rasul yang lalui hari bulan Ramadhan sarat (buah) kurma dan air putih. Tapi Ramadhan tidak ekslusif identik dengan detoksifikasi biasa, karena tidak ada perintah untuk beristirahat secara khusus. Malah sejarah menunjukkan bulan Ramadhan dilalui dalam keadaan berperang, proses detoksifikasi jelas tidak sesuai disini. Ramadhan pun tidak diwarnai dengan gejala efek detoksifikasi lazim diceritakan, rasa pusing ke peminum kopi, batuk ke perokok. Karena memang puasa Ramadhan dan detoksifikasi, kendati secara prinsip sepaham, memiliki intensitas yang sangat berbeda. Terutama tradisi Ramadhan sesuai budaya kuliner malah membuat konsep puasanya makin kabur dan makin jauh dari konsep sehat.

Berikut ini contoh-contoh menu tersebut : 




Setelah berbuka dengan kurma dan red smoothies, dilanjutkan dengan menu hidangan utama berupa : jamur goreng crispy, salad pagoda dan mentimun yang dikucuri saus santan dan kacang mede, lalu semangkuk lari vegetarian dengan bumbu a la Jepang. 


Lalu  bagaimana jika kita ingin menjajal berbuka puasa dengan menu-menu takjiil yang juga dikonsumsi orang-orang? Apakah masih bisa? Tentu saja bisa selama kita bisa mengkreasikan menu-menu dengan padu padan yang tepat dan minim bahan kimiawi tambahan. Contohnya adalah kreasi di bawah ini : 


Kolang-kaling sangat baik nutrisinya bagi tubuh yang sedang berpuasa. namun, bisa rusak kandungan gizinya jika yang digunakan untuk mengolah adalah pewarna kimiawi. Untuk itu, kolang-kaling ini diberikan pewarna alami dari bahan tumbuhan seperti bunga rosella, telang, dan daun pandan. 

Kemudian dikreasikan bersama serutan blewah dan kelapa. Pemanisnya cukup dari air kelapa dan air jeruk saja sehingga tidak ada kandungan gula tambahan yang justru akan merusak. 

Makan kolak pun masih bisa. Pisang tidak direbus, santan kelapa bisa digantikan dengan susu kacang mede, atau santan kelapa yang tidak dimasak. Susu tadi diblend bersama kurma sebagai pemanis, lalu diberi bubuk kayu manis sebagai penambah aroma. 
Beberapa resep minuman segar untuk berbuka puasa juga bisa dibaca di sini. 

Gimana? Gampang kan berpuasa sambil menjalani pola makan food combining?



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...