Wednesday, June 6, 2018

Dua Hal Ini Membuktikan Indonesia Bakal Berjaya Di Masa Depan


Dalam acara bertajuk World No Tobacco Day 2018 (4/6/2018) yang digelar oleh Sembutopia, sebuah organisasi kesehatan asal Indonesia yang memiliki platform utama di Instagram (@Sembutopia), pembicaranya, Kafi Kurni mencoba membuka mata para Blogger yang hadir di Aston Semarang Hotel & Convention Center mengenai bagaimana 'menyembuhkan' Indonesia dengan bukti-bukti sejarah masa silam. Bulan November 2017 – Kafi Kurnia dan teman-teman memprakarsai sebuah platform digital yang diberi nama “SEMBUTOPIA”, dan 6 bulan kemudian “SEMBUTOPIA” telah memiliki followers lebih dari 52.000. “SEMBUHTOPIA” adalah ide sederhana untuk memotivasi dan menginspirasi Indonesia agar kita bersama-sama menciptakan sebuah lingkungan yang lebih sehat dan terbebaskan dari semua penyakit dan konflik baik secara kejiwaan dan keragaan. “SEMBUTOPIA” selama 6 bulan terakhir telah melakukan pemberdayaan komunitas lewat kegiatan seperti lomba foto dan lomba tulis blog. Berikut, 2 hal yang membuktikan Indonesia bakal berjaya di masa depan.





1. Tak Perlu Penghargaan Michelin, Kuliner Nusantara Jauh Lebih Kaya. 

Waktu menulis untuk novel My Cup of Tea, hampir empat bulan lamanya saya melakukan riset di sebuah hotel berbintang dan restoran di Jakarta, Bandung, dan Semarang untuk memahami bagaimana kehidupan koki dan dunia kuliner.

Namun yang paling berkesan adalah ketika saya banyak mendengar cerita-cerita kuliner dari salah satu koki asal Bandung yang bekerja sebagai eksekutif chef di sebuah hotel bintang lima di Semarang. Dari beliaulah pengetahuan dan ketertarikan saya terhadap dunia kuliner__terutama kuliner nusantara semakin mendalam.

Sebuah penggalan obrolan kala itu terasa relevan dengan apa yang akan saya tulis hari ini, "Chef, saya itu mau disuguhin masakan barat sekeliatan cantik dan enak gimana pun, nggak tahu kenapa lebih tergiur sama masakan tradisional Indonesia.

Banyak juga orang luar negeri yang bilang kalau masakan Indonesia itu sangat enak, tapi kenapa sampai hari ini belum ada restoran yang menyajikan makanan Indonesia yang dapet penghargaan sekelas Michelin?" tanya saya kala itu.

Chef yang sebagian rambutnya telah memiliki semburat abu-abu itu tersenyum kharsimatik (ehmmm) ke arah saya, "Karena masakan Indonesia mah memang nggak perlu dikasih predikat itu. Nggak relevan buat masakan Indonesia yang sangat beragam dan kompleks, sementara Michelin itu standarnya bukan soal enak atau kreativitas cara membuatnya saja. Ada unsur kualitas pelayanan ketika makanan itu disajikan,  juga interior restorannya. Intinya kalau penghargaan Michelin itu terkait dengan performa khas dari sebuah restoran.

Coba, kamu kalau makan Nasi Padang yang enak pisan, masih mikir interior rumah makannya nggak? 

Kuliner Indonesia itu, simpel sekaligus kompleks. Gampang sekaligus susah. Bikin standarnya jadi nggak mudah. Menu soto aja bisa macem-macem bentuknya di setiap daerah. Jangan jauh-jauh, coba lihat ada berapa sambel enak di tanah air kita ini? Sebutin deh, lima sambel yang kamu suka sok?" tantangnya.

"Sambel terasi, sambel bawang, sambel tomat, sambel goreng ati, sambel balado," balas saya. "Eh, yang dua terakhir masuknya sambel juga apa masakan, Chef?"

Nah, kan. Banyak pisan. Gimana kita mau mengkategorikan sambal sebagai condiment atau sambal sebagai masakan?

Orang Indonesia mah budaya makannya juga unik. Sambel goreng ati itu bisa jadi  sekadar condiment kalau dimakan bareng ketupat atau lontong sayur, tapi juga bisa sekaligus jadi masakan kalau pas disantap dengan nasi anget.

Kuliner nusantara itu bukan cuma lahir dari kebutuhan perut saja, tapi lahir karena tradisi yang dibentuk dari rumah ke rumah, dipengaruhi banyak nilai dan unsur budaya lokal, bahkan akulturasi beberapa budaya.

Fungsi makanan di nusantara kita itu selain untuk fungsi individu, juga untuk fungsi sosial, misal untuk hajatan, ritual tertentu atau upacara agama.

Kuliner nusantara terlalu kaya jika dibandingkan penghargaan bintang dari Michelin yang awalnya mah sebuah buku panduan perjalanan yang dibuat oleh Michelin di tahun 1900-an."

Percakapan beberapa tahun lalu itu kemudian seperti kembali memiliki getaran ketika Kafi Kurnia dari Sembutopia berujar hal yang senada. Pakar marketing dan motivator yang terkenal karena buku bertema pemasarannya, Anti Marketing: Jurus Ampuh Menumpas Persaingan! itu mengutarakan beberapa bukti kejayaan kuliner nusantara kepada para Blogger yang menjadi peserta acara World No Tobbaco Day di Aston Semarang Hotel & Convention Center (4/6/2018). 


nasi bungkus
Nasi hangat yang dibungkus daun pisang memiliki aroma yang lebih sedap. Sebelum ditemukan alas makan dari tembikar, nenek moyang kita sudah sering memadu-padankan proses pengolahan makanan dengan bungkus daun pisang ini. Selain soal rasa yang lebih enak, konon juga menjamin makanan yang dibungkus tetap higienis.

sambal matah
Sambal merupakan ikon kuliner Nusantara. Memiliki aneka jenis sambal yang tersebar di seluruh Nusantara. 

Awalnya, saya sedikit kesulitan mencoba mencari benang merah antara tagar Indonesia 2020, World No Tobbaco Day 2018, dan Sembutopia dengan penjelasan beraroma kuliner yang dilontarkan Kafi Kurnia dengan gaya bicaranya yang santai itu. 

Seolah tidak runut, apa hubungan kecap asin yang ditemukan etnis Tionghoa, tempe, kerupuk, dan sambal dengan semua hal yang berkaitan dengan wangsit atau ramalan kejayaan Indonesia di masa depan. 

Namun, kemudian Kafi seolah menegaskan bahwa berdasarkan sejarah, riset-riset akan literatur kuno, misalnya saja Serat Centhini, budaya kuliner nusantara berabad-abad yang lalu sudah menggambarkan bagaimana kehidupan Nusantara yang berjaya. 

Masyarakat Indonesia bukan saja dianugerahi hasil bumi yang beragam, dari mulai umbi-umbian, buah-buahan, sampai berbagai macam tanaman herbal dan rempah-rempahnya, tetapi juga kearifan lokal dalam hal mengolah bahan pangan. 

Contoh dari kecerdasan bangsa Indonesia dalam memadukan keunikan geografisnya berupa negara kepulauan yang memiliki laut-laut yang menghasilkan banyak ikan sekaligus garam adalah dalam pengolahan makanan yang dikenal dengan 'ikan asin'.  Nenek moyang kita memiliki kecerdasan naturalis sehingga mampu membaca gejala alam, bahwa melimpahnya hasil bumi berupa ikan dari dalam lautan bisa diawetkan dengan garam yang sama-sama dihasilkan dari laut.  

Bukan cuma tentang ikan asin saja. Soal makanan bernama 'Tempe' bahkan sudah disebutkan di dalam Serat Centhini sekitar tahun 1600-an. Makanan berbahan dasar kedelai ini sedang diusulkan agar menjadi salah satu warisan budaya UNESCO pada tahun 2021. 


oseng tempe kering
Begitu beragamnya olahan tempe, bukan hanya digoreng saja. Tempe menjadi salah satu pengganti protein hewani yang cukup banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia.

tempe bacem
Tempe bacem merupakan salah satu olahan yang cukup terkenal di budaya masyarakat Jawa.

Bayangkan, di tahun 1600-an, bangsa kita telah bisa memproses makanan dengan bantuan ilmu mikrobiologi. Meski sering diasosiasikan dengan hal negatif, misalnya 'mental tempe', namun kenyataannya tempe adalah makanan bergizi yang bisa menggantikan protein hewani. 

Dari mana koki-koki rumahan masa itu mendapat ilmu tentang mengolah tempe? Jika bukan karena bangsa kita adalah bangsa yang dianugerahi kecerdasan dan kreativitas, rasanya mustahil biji-biji kedelai yang terpisah satu sama lain, bisa menyatu, membentuk bongkahan nilai gizi setara protein hewani, dan memiliki rasa yang lezat. Inilah hasil ketika lidah, mata, hidung, dan tangan saling kolaborasi berkarya. 



Bukan itu saja. Nusantara ini merupakan sebuah negeri yang dianugerahi iklim dan dua musim yang justru bisa menghasilkan tanaman yang mampu menghangatkan tubuh orang-orang di negeri empat musim. Lada, cengkeh, pala, vanila adalah beberapa rempah yang aromanya menarik bangsa-bangsa lain berdatangan ke Indonesia jauh sebelum zaman Majapahit. 

Lada yang dihasilkan Nusantara sempat menjadi yang terbaik di dunia, namun kini Indonesia justru disalip oleh Vietnam yang belajar menanam lada dari Indonesia. Dahulu bahkan harga jual Cengkeh di Nusantara setara dengan harga jual sebatang emas. 

Kejayaan kuliner masa silam, bisakah digantikan dengan penghargaan Michelin? Rasanya tidak sebanding. Namun, jika generasi muda saat ini abai, lebih tertarik kepada sejarah Milo Kepal ketimbang rempah-rempah Indonesia dan tempe yang akan jadi warisan budaya UNESCO maka kejayaan kuliner masa lalu tidak akan terulang dan hanya akan menjadi sejarah saja. 


2. Indonesia Punya 17504 Pulau, dan Potensi yang Tak Terbatas. 


Bapak Kafi Kurnia sedang memberikan penjelasan tentang bahaya tar yang ada dalam rokok kepada peserta.

Yang termudah, mari bicara soal potensi wisata dari pulau-pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Saat ini, serpihan surga bukan cuma tertinggal di Pulau Dewata saja. Sebut saja nama-nama eksotis ini; Mandalika, Labuan Bajo, Morotai, Kepulauan Seribu, Bangka Belitung, Bromo, Tanjung Lesung. Masih ada yang saya lewatkan? Tentu saja itu baru sebagian dari pulau-pulau besar yang sudah memiliki nama dan didaftarkan pemerintah Indonesia ke PBB.

Labuan Bajo
Serpihan surga lain selain Pulau Dewata yang wajib kita kunjungi (image from : the jakartapost)

Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri Eko Subowo mengungkapkan bahwa delegasi pemerintah Indonesia telah melaporkan 16.056 pulau bernama di Indonesia ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. (Kompas.com 2018/05/04). 

Bagaimana dengan pulau-pulau kecil yang belum bernama dan masih misterius potensinya? Indonesia setidaknya masih memiliki 'kotak harapan' yang belum dibuka karena generasi mudanya terlampau terpesona dengan Santorini, Machu Picchu, atau Great Wall. 


Jika memiliki waktu luang cobalah pergi ke Candi Borobudur. Prastati batu tersebut merekam bukti sejarah asal usul agama Budha yang justru berkembang dan berawal di Indonesia. 

Itu baru soal sejarahnya, lalu bagaimana dengan kandungan isi perut buminya. Mineral dan logam mulia yang tertanam jauh di perut bumi Freeport awal mulanya ditemukan karena sejumlah ahli sedang mencari minyak bumi, namun menemukan bahwa tambang emas terbesar di dunia justru ada di Indonesia.  

Dengan sejumlah pulau yang dimiliki Indonesia, apakah pembangunan lagi-lagi harus disentralisasikan di Pulau Jawa saja? Ataukah pariwisata hanya milik Pulau Bali saja? Seharusnya tidak demikian bukan.

Jika kita hanya berbicara potensi di bidang pariwisata yang apabila dibedah lagi pasti sangat kompleks karena di dalamnya melibatkan banyak faktor, misalnya SDA dan SDM maka bisa dikatakan semestinya Indonesia tidak akan kekurangan sumber daya, baik potensi manusianya maupun potensi alamnya untuk menjadi negara yang berjaya.


Kafi Kurnia dalam acara kemarin sempat menyinggung bahwa Indonesia di tahun 2030 diramalkan akan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar ke 5 di dunia dengan nilai ekonomi US$ 5.424 triliun.

Perkiraan itu, menurutnya juga didukung oleh ucapan  nenek moyang kita  “Gemah Ripah Loh Jinawi tata tentrem kerta raharja”. Kafi percaya itu bukan sekadar lontaran tanpa isi. Ada wangsit dan sebuah misi yang coba diwariskan pada anak muda saat ini untuk merebut kembali kejayaan tersebut. 

Dengan dua bukti tersebut kira-kira masihkah kita sebagai generasi muda bakal terlena dengan hal-hal yang justru menenggelamkan kesempatan Indonesia untuk bangkit dan berjaya kembali?

Salah satu perilaku 'terlena' yang masih menjadi penyakit generasi muda salah satunya adalah merokok. Meski telah ada larangan yang cukup tegas, namun aktivitas ini masih cukup diminati kalangan anak muda.  

Dorongan atau motivasi sebagai bangsa besar yang pernah berjaya di masa silam merupakan salah satu langkah yang dilakukan Sembutopia agar generasi muda 'bangun' dan mau memenuhi takdir masa depan gemilang yang sudah tertulis dalam sejarah. 

Berhenti merokok. Satu langkah kecil yang seolah tidak memiliki benang merah, namun pada kenyataannya, bangsa besar selalu dinilai dari apakah ia bisa menaklukan kebiasaan-kebiasaan buruknya dan menggantinya dengan kebiasaan-kebiasaan baik.

Di Jerman, pengemudi kendaraan sangat santun dan menepati aturan lalu lintas karena pelanggaran sama dengan pencorengan terhadap karakter bangsa.

Di Indonesia, kebiasaan buruk (yang diadopsi dari kultur lain) justru dipelihara, lantaran sebagai pribadi belum mengenal karakter bangsa besar yang sejatinya mengalir di darah kita.

Jika ingin meraih takdir kejayaan yang sudah digariskan, ubahlah kebiasan-kebiasaan buruk yang menghalangi langkah menjadi bangsa maju. Sudah saatnya Indonesia kembali berjaya. 

Berfoto bersama dalam World No Tobacco day, Indonesia 2020. 






24 comments:

  1. Hoo.. Pertemuan yg membuka mata ya ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba...semoga bukan cuma terinspirasi soal kulinernya saja, tapi juga tentang menghapus kebiasaan buruk, salah satunya merokok

      Delete
  2. Aku suka dengan cara Pak Kafi sharing materi kemarin. Karena ada benang merah dalam tiga topik yang sejatinya tidak berhubungan

    ReplyDelete
  3. Iya. Awalnya agak..hmmm random nih, materinya. Tapi terus jadi kerasa yang dibagi kok cuma dikit, masih pingin tahu lebih banyak lagi, hehehe

    ReplyDelete
  4. Semakin optimis yaa mba buat meraih kejayaan,benar2 membuka mata materi kemarin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kemarin itu mendadak jadi kurang lama bagian sharing materinya

      Delete
  5. Indonesia kalau mau berjaya, harus bersatu padu SDM mengolah SDA agar maksimal dan go internasional sehingga mendatangkan devisa negara, rakyat makmur sejahtera

    ReplyDelete
  6. Semakin optimis yaa mba buat meraih kejayaan,benar2 membuka mata materi kemarin..

    ReplyDelete
  7. Wah... baca ini mendadak berasa tambah ilmu. Bagus banget cara penyampainnya teh nia. Dan ak teetohok banget dgn kalimat bahwa bangsa besar itu bs menaklukkan kebiasaan buruk dan menggantinya dgn kebiasaan baik. Hmmm semua harus berawal dr kita sendiri dl ya. Jd semangat nih. Semoga kedepannya Indonesia jd bangsa besar yg maju dan lebih baik lagi. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, aku juga kemaren merasa kurang dapet banyak ilmunya. Thanks Mba, seneng kalo tulisannya bermanfaat.

      Delete
  8. Kunci : merubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik

    ReplyDelete
  9. Kuncinya pada SDM ya mbak. Banyaknya kuliner di Indonesia seolah tergerus makanan cepat saji. Bukan hanya prestige tetapi memang keberadaannya lebih menguasai pasar. Semoga banyak pebisnis yg mulai melirik masakan khas Indonesia.

    Banyaknya pulau menghasilkan banyaknya adat & budaya. Menjadi PR terbesar untuk saling toleransi & menghargai. Dimulai dari diri sendiri.

    Tulisan yg bagus mbak. Ada rasa bangga sbg orang Indonesia pas bacanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba, aku juga bangga dgn tanah air. Tinggal menunggu waktu dan bersama2 buat mewujudkannya. Thanks Mba

      Delete
  10. Generasi kekinian sudah waktunya mengangkat potensi lokal agar bisa go internasional sekaligus dicintai di negeri sendiri. Ada banyak kan buktinya, kekayaan warisan budaya yg sukses di manca negara tapi orang kita sendiri malah enggak aware.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooh, bener banget. Nanti nyesel tau2 produk asli Indonesia dihaki sama negara lain.

      Delete
  11. Indonesia mmg sgt kaya y..bersyukur bs tinggal di Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget, Mba. Kita yang kadang nggak sadar yaa.

      Delete
  12. Iya, aku juga ngerasa random banget Mbak, kemarin penyampaian Pak Kafi. Tapi, akhirnya aku menemukan titik cerah juga, maunya dibawa ke mana yang kusesuaikan dengan niche blogku. Hihi. Yes, kegiatan kemarin membawa warna baru dalam langkah hidupku. Action action, dimulai dari diri sendiri untuk berbuat sesuatu untuk negeri ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren, Mba. Apalagi kamu juga udah pernah nulis tentang 'Rokok Harus Mahal' itu, ya.

      Delete
  13. Hehe temanku blogger jogja juga bilang random obrolannya agak susah ditangkap arahnya..terima kasih sharingnya Niaa..

    ReplyDelete
  14. Wah keren baru tahu kalau tempe sufah ada sejak jaman baheula..sudah saatnya Indonesia bangkit!!

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...