Friday, January 4, 2019

Dialog Akselerasi Pembangunan Pariwisata Jawa Tengah Bersama Menteri Pariwisata Republik Indonesia.

Dialog Akselerasi Pembangunan Pariwisata Jawa Tengah Bersama Menteri Pariwisata Republik Indonesia.

Siang tadi ( Jumat, 4 Januari 2019) Grand Maerakaca, yang juga dikenal dengan Taman Mini-nya Jawa Tengah tampak ramai. Terutama di dua anjungannya, yaitu anjungan Salatiga dan anjungan Semarang. Rupanya Pak Arief Yahya sedang melakukan lawatan ke Kota Lunpia untuk bertemu dengan para penggiat pariwisata digital yang dimotori oleh Komunitas Generasi Pesona Indonesia. Sekaligus juga bertemu dengan stakeholder di bidang pariwisata dan Disporapar Prov. Jateng. Apa saja yang digarisbawahi Pak Menteri dalam Dialog Akselerasi Pembangunan Pariwisata Jawa Tengah Bersama Menteri Pariwisata Republik Indonesia.

Menpar Arief Yahya Berkunjung Ke Grand Maerakaca

Dialog Akselerasi Pembangunan Pariwisata Jawa Tengah Bersama Menteri Pariwisata Republik Indonesia.


Mencari jawaban dari sumbernya langsung adalah salah satu cara untuk bisa memahami sebuah isu yang kadang masih belum saya pahami tujuannya.

Berulang kali mempertanyakan mengapa konsep pariwisata digital dibuat membuat saya ingin sekali bisa mengajukan pertanyaan ini kepada Pak Arief Yahya secara langsung.

Sebenarnya beberapa minggu sebelumnya pertanyaan mengenai hal itu sudah terjawab ketika membaca beberapa buku tentang marketing dan bisnis, serta manajemen.

Ketiganya mengarisbawahi hal yang sama, bahwa dunia sedang shifting ke era digital. Hampir di semua ranah, tidak terkecuali pariwisata. Tanpa peran serta teknologi digital, Indonesia tidak mungkin bisa tumbuh hingga 26 persen, ujar Pak Menteri.

Mendengar sendiri dari seorang pakar, praktisi, bahkan pemangku kebijakan pasti akan seketika menggeser paradigma. Maka ketika ada tawaran untuk mengikuti dialog, saya pun meluangkan waktu untuk acara tersebut.

Saya berkata pada diri sendiri, jangan cuma selfie aja niatnya. Meski kemudian niat itu seperti sebuah paradoks. Karena pada akhirnya muncul juga keinginan tersebut. Ya,  minimal ngga jadi niat utama lah.

Kebutuhan kita hari ini sudah bertambah, kalau boleh dikatakan, bukan bergeser, tetapi tumbuh kebutuhan baru. Needs baru, yaitu Esteem.

Hal serupa juga diutarakan Pak Arief Yahya, bahwa generasi milenial saat ini memiliki kebutuhan baru yang tak terelakkan, yaitu needs of esteem.

Kita semua butuh pengakuan, seperti halnya butuh colokan di setiap kesempatan ketika indikator baterai di ponsel sudah menurun.

Kita lebih butuh eksis ketimbang sekadar memenuhi hasrat sandang, pangan, dan papan. Buktinya, ketika sebenarnya kita bisa kenyang hanya dengan makan nasi di warteg seharga tujuh ribu rupiah, tapi memilih kafe yang menyajikan nasi seharga 45ribu dan bisa berfoto dengan nasi tersebut.

Destinasi Digital, Wonderful Start-Up Academy, dan Nomadic Tourism. 


Menpar Arief Yahya bersama Komunitas Genpi
Menpar Arief Yahya sedang memberikan video sambutan yang akan diputar untuk Pasar Lodra Jaya

Kita sudah memasuki era revolusi 4.0, dan saat ini ada tiga hal penting yang menjadi perhatian Kemenpar terkait pengembangan produk pariwisata, yaitu Destinasi Digital, Wonderful Start-Up Academy, dan Nomadic Tourism.

Tentu produk-produk tersebut dibuat berdasarkan pertimbangan strategi marketing dan positioning.

Kita semua tahu, dengan bonus demografi yang akan terjadi pada tahun 2045 nanti, sebagian besar generasi usia produktifnya adalah generasi milenial. Traveler millenial merupakan costumer terbanyak di era revolusi 4.0 ini.

Destinasi Digital ditargetkan dapat tumbuh 100 destinasi, sementara untuk saat ini baru ada 58 Destinasi Digital, jadi masih ada kesempatan bagi Jateng dan DIY untuk menyiapkan Destinasi wisata digital ini. Targetnya di kuartal pertama tahun 2019 sudah terpenuhi.

Menpar Arief Yahya Menaiki kapal untuk berkeliling di kawasan wisata Grand Maerakaca
Menpar Arief Yahya Menaiki kapal untuk berkeliling di kawasan wisata Grand Maerakaca

Investasi yang dikeluarkan untuk membuat Pasar Digital adalah 200 juta, jika dikalikan 100 destinasi maka Kemenpar mengeluarkan sebesar 20 milliar. Jika pendapatannya 4 milliar, dan untungnya tidak sampai 10 persen, maka hanya ada 400 juta. Jika hanya mengandalkan cara konvensional maka investasi yang digulirkan Kemenpar tidak akan pernah kembali. Untuk itulah dibuat strategi pemasaran secara digital. Dengan begitu, media value-nya akan jauh lebih besar.

Sementara untuk WSA diharapkan ada talenta-talenta baru yang muncul untuk membuat bisnis rintisan digital yang mampu memberikan manfaat bagai perkembangan pariwisata di Indonesia. Apakah itu sistem payment-nya, ticketing, atau pemasaran destinasi pariwisata-nya. 

Wonderful Startup Academy adalah program pengembangan startup business yang bergerak pada sektor pariwisata di Indonesia, hasil kolaborasi antara Kementerian Pariwisata, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dan ICSB Indonesia.

Salah satu tujuan program ini adalah menciptakan ekosistem agar Indonesia menjadi destinasi wisata utama mancanegara. Wonderful Startup Academy juga didukung oleh Indigo Creative Nation dan beberapa yayasan lainnya yang peduli dengan perkembangan startup business.

Pada 20 Desember lalu sudah ada soft-launching terkait perusahaan rintisan digital, nanti pada bulan Januari direncanakan akan ada rilis terkait start-up tersebut.

Dalam bisnis yang memiliki platform digital, valuasinya bukan persoalan angka pendapatan, tetapi jumlah customernya. Sementara soal nomadic tourism, strategi ini muncul karena melihat kondisi geografis Indonesia dengan 17 ribu pulau yang letaknya tersebar dari ujung barat sampai timur. Untuk menghubungkannya diperlukan satu konsep yang bisa menjembatani kelebihan dan keunikan setiap pulau-pulau tersebut.

Pak Menteri sangat berharap bahwa dengan guliran yang dilakukan Genpi saat ini bisa meningkatkan valuasi dari destinasi-destinasi digital yang saat ini sedang dikembangkan.

Beliau juga berharap dan akan memberi kesempatan bagi rintisan bisnis digital agar tumbuh dan berkembang, terutama jika itu dirintis oleh teman-teman dari Genpi. 

Saran beliau, jika ingin memulai start-up, perjuangkan dulu idenya, sampai tidak ada celah atau sanggahan terhadap ide tersebut, baru kemudian buat programnya. Jangan buat program sebelum idenya benar-benar matang.

Jadi, siang nge-gas di tahun 2019 menyambut revolusi 4.0? Jangan cuma bisa selfie, tunjukkan apa kontribusimu. Salam Pesona Indonesia.

2 comments:

  1. Meski blm sepenuhnya paham (aku msh perlu mengulang membacanya agar makin paham), tp scr garis besar...road map p mentri aku bisa pahami.
    Suwun sdh memberikan pemahaman simpel. Barokallah

    ReplyDelete
  2. Revolusi industri 4.0 benar-benar mengunakan teknologi untuk pengembangannya.

    Setuju jikan destinasi digital memang perlu dikembangakan, tapi jangan pernah kehilangan esensi dalam sebuah perjalanan. Perbanyak interaksi, jangan malah sibuk selfie

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...