Monday, February 9, 2015

Pregnancy Journey : Menuju Hari H VBAC & Gentle Birth After Cesarean Part #2

40 Weeks

Hari Senin, 12 Januari 2015. Usia kehamilan sudah memasuki 40 Minggu + 3 Hari, dan belum ada tanda-tanda persalinan yang signifikan. Setelah kontrol ke Bidan Naning di Ngesti Widodo, diperiksa, ternyata sudah bukaan 1 tapi masih sempit. Kondisi mulut rahim sudah lebih lunak dan tipis dibandingkan sebelumnya. Dan selebihnya yang harus dilakukan selain jongkok berdiri, pelvic rocking, induksi alami, adalah bersabar. Keep calm and surrender.

Pregnancy Journey : Menuju Hari H VBAC & Gentle Birth After Cesarean Part #1

36 Weeks
Memasuki usia kehamilan 36 minggu (periode tanggal 15-21 desember 2014) banyak sekali pemecah fokus yang bikin daftar check list persiapan persalinan terabaikan. Pasalnya, di minggu ini saya malah keasyikan untuk mempersiapkan barang-barang kebutuhan bayi dan mengepak barang-barang karena rumah akan direnovasi.

Pregnancy Journey : Kehamilan 35 Minggu-Gentle Birth After Cesarean Part #3

Memasuki usia kehamilan 35 minggu ini, rasanya waktu berjalan cepeeet banget. Sebentar lagi bakal memasuki usia kehamilan 36 minggu dan tinggal menghitung minggu atau hari untuk menyambut si kecil bergabung bersama keluarga kecil kami. Afirmasi positif sudah dibangun sejak belum hamil, alias sudah bercita-cita untuk melahirkan secara normal dan gentle birth. Kalau ingat cerita-cerita awal kehamilan ini, rasanya bersyukur banget saya bisa diberi kesempatan untuk hamil lagi. 

Berkat ngumpul dengan teman-teman komunitas di GBUS juga saya jadi tahu kalau afirmasi positif saja belum cukup untuk bisa menyukseskan seorang ibu untuk bisa melahirkan secara normal dan gentle. Apalagi dengan kasus seperti saya, yang pada kehamilan pertama harus melakukan persalinan dengan proses SC. 

Afirmasi positif tanpa dibarengi dengan pemberdayaan diri itu sama saja dengan bermimpi. Dari hasil sharing dengan teman-teman yang sudah duluan melahirkan dengan cara gentle birth, supaya bisa sukses memanajemen rasa sakit ketika bersalin, sampai tidak dilakukan epistiomi atau pengguntingan bagian perineum dengan sengaja, ada usaha-usaha yang harus dilakukan.   

Dari hasil sharing itu juga akhirnya saya membuat semacam daftar check list sebagai cara untuk memantau pemberdayaan diri yang sudah saya lakukan selama ini. Sebelum membuat daftar check list, langkah pertama yang saya lakukan adalah : 
  1. Menetapkan tujuan persalinan. Tuliskan kenapa ingin melakukan persalinan normal? Bagaimana persalinan tersebut akan dilakukan, dimana, dan siapa yang akan membantu persalinan. Tuliskan juga apa keragu-raguan dan kecemasan yang masih menghalangi tujuan tersebut. Menetapkan tujuan persalinan dan rencana persalinan juga bisa sekalian dituangkan dalam bentuk birth plan yang nantinya akan kita komunikasikan dengan pihak lain, misalnya pendamping persalinan, orang yang akan membantu kita bersalin seperti dokter atau bidan, bahkan pihak rumah sakit atau klinik tempat kita akan bersalin. Contoh membuat birth plan bisa dibaca di sini. Kalau yang ini adalah birth plan yang saya susun. Masing-masing bisa memodifikasikan sesuai kebutuhan, ya.
  2. Sempurnakan niat. 
  3. Mulai buat daftar check list sedini mungkin. Kalau saya, mulai membuat daftar check list di usia kehamilan 28 minggu. Isi daftar check list ini antara lain  catatan tentang bagaimana asupan nutrisi kita selama hamil, olahraga apa yang kita lakukan, persiapan persalinan apa yang sudah kita lakukan, sampai dengan catatan pendidikan pralahir untuk si baby. 
  4. Kerjakan dan isi daftar check list tersebut dengan mencatat kemajuan atau kemundurannya.
  5. Yang tidak kalah penting dari semua itu adalah, buat diri kita berada di support system atau lingkungan yang mendukung rencana persalinan kita. Teman-teman di komunitas GBUS adalah salah satu support system yang menguatkan tekad saya untuk melakukan gentle birth after cesarean ini. Semangat pemberdayaan diri mereka sangat-sangat menginspirasi. Beberapa catatan tentang sharing dan pertemuan mingguan yang dilakukan komunitas ini bisa diintip di blognya Mbak Arum, seorang Psikolog Anak yang juga sangat rajin menggerakkan komunitas ini. Monggo diintip di sini.
  6. Lakukan 'sealing', yang dimaksudkan dengan sealing di sini adalah berusaha untuk mengunci fokus kita hanya pada hal-hal yang positif dan sefrekuensi dengan harapan atau mimpi kita. Ini menghindarkan diri kita dari hal-hal yang dapat memecah fokus, bahkan niat. Termasuk mengunci niat dengan doa-doa baik juga.
Remember : "Affirmation without discipline is the beginning of delusions." (Jim Rohn)
Oke, sementara ini dulu sharingnya, ya. 
Pak Suami lagi belajar merelaksasi istrinya, dan...sakseiss :) 
Peserta pelatihan dan para suami yang semangat memberdayakan diri untuk menjadi pendamping persalinan

Wednesday, January 14, 2015

Baby T Milestones : One Month

Yeaayy. Seneng rasanya hari ini baby T genap satu bulan. Kalau masih mungil begini, mantra yang sering didengung-dengungkan ibunya pasti adalah: "Cepet gede ya, sayang...," Padahal nanti kalau sudah melewati masa balita pasti pengin anaknya balik jadi mungil lagi, atau bisa dimasukin ke perut lagi. Ini kejadian sama saya ke Si Sulung Ezra; "Don't grow up too fast kiddos, enjoy your moment as a kid.." Jadi, mantra ke Ezra adalah: Jangan buru-buru gede, kalau mantra ke baby T: Yuuk, cepet gede ya, sayang. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...