Friday, June 29, 2018

Bumi Herbal Dago & Catatan Tentang Menyembuhkan Alergi

bumi herbal dago



What you seek is seeking you.
Cara Tuhan dan semesta mendorong seseorang untuk menemukan sesuatu yang benar-benar dibutuhkannya memang unik. Sejak 2010, saya selalu berkeinginan untuk berkunjung ke Bumi Herbal Dago, namun baru delapan tahun kemudian, jalan menuju ke sana terbuka dengan mudah. Salah satunya karena kambuhnya alergi saya. Ini catatan tentang menyembuhkan alergi dan apa saja yang saya dapatkan di Bumi Herbal Dago. 

Cerita Alergi.

Dalam kurun waktu beberapa menit sekali, saya menggosok-gosok ujung mata hingga kelopaknya memerah saking gatalnya. Selain kelopak mata yang kemudian membengkak karena gatal, sudut mata bagian dalam juga mulai terasa gatal dan berair. Disusul dengan bersin-bersin setiap beberapa menit sekali. Bukan, saya tidak sedang terserang flu. Cairan yang keluar dari hidung pun bukan kental, melainkan seperti tetesan air. Kalau kepala ditundukkan, air menetes dari hidung. Pernapasan juga beberapa kali terasa sesak. 

Sejak kecil saya memang punya riwayat alergi dan sinus. Selama tinggal di Bandung, hampir setiap hari saya selalu mengawali hari dengan bersin dan pilek. Bersin-bersin dan pilek akan berakhir selepas pukul sepuluh, biasanya setelah saya mulai beraktivitas keluar rumah.

Menurut dokter, hanya ada dua pencetus alergi yang signifikan di saya; udara dingin dan debu. Baru ketika usia 30an diketahui kalau saya juga alergi dengan susu sapi dan produk turunannya. Padahal saya suka sekali mengonsumsi susu dan keju. Meski tidak menjadi pencetus reaksi alergi yang signifikan, namun bahan pangan tadi ternyata bisa menurunkan daya tahan tubuh, mudah terserang pilek, dan tidak lancarnya sistem pencernaan. 

Hari itu, tidak pasti apa yang menyulut reaksi alergi. Kamar saya di Bandung memang baru saja dicat ulang. Kertas dinding yang melapisi tembok sudah dikelupas, berganti cat tembok biasa berwarna krem. Sprei dan penutup tempat tidur dalam keadaan bersih, kamar juga tidak berdebu.

Sehari sebelum sampai ke Bandung, pola makan saya pun tergolong normal. Sahur dengan buah, berbuka dengan buah, lanjut makan seperti biasa. Saat perjalanan ke Bandung, saya sempat mengonsumsi gorengan buatan rumah yang diberi bumbu mayones berbahan telur. Namun bahan pangan itu sebelumnya tidak pernah mencetuskan alergi. 

Pilihan ke dokter selalu berakhir dengan resep obat yang mengandung antibiotik. Karenanya saya memutuskan mencari bentuk pengobatan lain. Salah satunya dengan bekam. Harapannya bisa membuang darah-darah kotor beserta toksinnya. 

Meski tubuh terasa agak baikan setelah bekam, namun mata masih saja terasa gatal, bersin-bersin juga belum reda. Napas belum selega biasanya, dan tubuh rasanya nggak berenergi. Menetesi mata dengan obat herbal yang salah satunya mengandung madu juga sudah dilakukan. Terasa baikan setelah ditetes, namun reaksi gatalnya akan berulang lagi setelah beberapa saat. 

Percakapan mengenai pilihan saya untuk mencari alternatif obat yang berbahan herbal pada akhirnya mengarah kepada satu nama, yaitu Bapak Suwarno M Serad, seorang dosen ilmu kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang anaknya memiliki kebun herbal di daerah Dago.  "Coba main-main ke sana, siapa tahu jadi punya tambahan pengetahuan tentang tanaman herbal yang bisa menyembuhkan alergimu."

Tidak terpikir sebelumnya bahwa kebun yang dimaksud adalah Bumi Herbal Dago.

Bumi Herbal Dago. 

Perjalanan saya menuju Bumi Herbal Dago terbilang sangat lancar dan mudah. Jalanan Dago di pagi hari masih terasa sepi, apalagi semakin ke daerah atas. Sesekali kendaraan kami bersisian dengan para pesepeda yang berjuang mengayuh pedalnya agar bisa melewati tanjakan. Iseng, melongok ke arah salah satu pesepeda, "Semangat, Pak," ujar saya sambil menikmati hangatnya sinar matahari yang menerpa wajah.

Sampai di Taman Hutan Raya, saya turun sebentar untuk menikmati pemandangan pepohonan pinus dari area parkir. Ada rasa rindu yang menyeruak untuk berjalan-jalan di bawahnya. Tapi tempat tujuan saya masih naik ke atas lagi. Bumi Herbal Dago terletak di Jalan Bukit Pakar Utara, Kampung Negla, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Daerah tersebut justru lebih terkenal dengan destinasi wisata yang bernama Tebing Kraton.

Sesampainya di Bumi Herbal Dago, saya disambut sinar matahari yang justru terasa semakin hangat, dan udara yang semakin sejuk. Tanpa sadar, saya menarik napas dalam-dalam. Rasa segar sekaligus sinar matahari yang hangat menerpa kulit membuat saya melupakan bersin-bersin dan gatal yang mendera.

Sebuah gerbang bambu yang dililiti oleh perdu Bougenville berwarna ungu menyambut kedatangan kami. Suasana Bumi Herbal masih senyap. Hanya tampak satu-dua pegawai yang sedang menyiram tanaman dan menyapu kebun. Saat berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke bagian dalam, samar-samar di udara tercium aroma rempah yang manis. Entah apa.

Kemudian, sampailah saya di Pendopo Nirmaya. Sebuah bangunan yang menghadap langsung ke area perbukitan yang memiliki warna-warni yang memanjakan mata: merah, hijau, kuning, berpadu dengan langit yang biru.

pendopo nirmaya
NIRAMAYA berarti kesehatan. Selain menjadi Centre Point Bumi Herbal, pendopo ini juga memiliki fungsi sebagai Herbal Gallery kebun BumiHerbal


pendopo nirmaya di bumi herbal dago
Berbagai kegiatan di Bumi Herbal berlangsung di Pendopo Nirmaya. 

aneka bahan-bahan herbal yang dikeringkan
Berbagai koleksi tanaman herbal yang dikeringkan. 

Pendoponya didesain dengan aristektur Jawa Kuno. Di pendopo inilah biasanya kegiatan seperti lokakarya, sarasehan, dan kegiatan komunitas berlangsung. "Kalau datang bersama komunitas atau rombongan, biasanya ada beberapa aktivitas seperti demo kuliner sehat," ujar salah seorang pengelola di Bumi Herbal Dago.

Aroma rempah manis yang tercium di udara tadi rupanya berasal dari area bagian bawah. Di dapurnya sedang dilakukan pembuatan sirup yang berbahan dasar bunga Rosella. Bunga Rosella yang direbus tadilah yang menguarkan aroma rempah yang menenangkan hidung.

Saya pun kembali ngobrol-ngobrol dengan pengelolanya sambil menghirup dalam-dalam aroma tersebut. Dari cerita-cerita yang bergulir, saya jadi tahu asal-usul Bumi Herbal Dago. Rupanya, yang dimaksud sebagai anak perempuan Bapak Suwarno M Serad, adalah Mbak Santhi Serad. Bumi Herbal Dago ini dikembangkannya tahun 2006 bersama dengan Ilham Habibie, putra sulung mantan presiden BJ Habibie.

Memasuki kebunnya saya diperlihatkan sebagian koleksi tanaman herbal dari 400 jenis tanaman herbal yang ditanam di kawasan perkebunan seluas empat hektar. "400 itu belum seberapa. Masih banyak sekali keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia. Tidak semuanya bisa ditanam di area ini," jelasnya.

Mendengar hal tersebut saya sadar Indonesia amatlah sangat kaya. Bahkan ketika saya berjalan-jalan untuk melihat tanaman herbal yang ditanam di sana, beberapa kali mulut saya membentuk bulatan, "Oh, jadi tanaman ini tuh, ada khasiat obatnya, tho."

Banyak tanaman yang saya pikir sekedar perdu atau tanaman hias biasa ternyata memiliki banyak khasiat.

kebun bumi herbal dago
Gerbang masuk menuju ke area kebun herbal. 

kebun tanaman herbal
Aneka tanaman herbal ditanam dengan rapi dan diberi label.

kebun bunga matahari


Untuk bisa belajar tentang tanaman herbal dan khasiatnya, sebelum berkunjung ke tempat ini sebaiknya terlebih dahulu menghubungi nomer ini : Jakarta: 021-5763912 Bandung: 0851-0090-6629 untuk membuat reservasi.

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan di Bumi Herbal Dago salah satunya adalah program Wisata EduHerbal. Dengan mengikuti Wisata EduHerbal, pengunjung tidak hanya dapat berkeliling kebun dan menikmati pemandangan, tetapi juga akan diberikan pengetahuan tentang berbagai tanaman obat, mulai dari pengenalan tanaman, khasiat yang dikandung, hingga proses pengolahan tanaman obat. Jumlah pengunjung minimal 20 orang, dan maksimal 30 orang.

Wisata Edukasi ini bisa diikuti dari mulai anak TK hingga masyarakat umum. Kegiatannya pun akan disesuaikan dengan peserta yang mengikuti wisata edukasi tersebut.

Menyembuhkan Alergi, Membuka Diri, Dan Menemukan Yang Dicari. 

Manusia, seperti halnya tumbuhan membutuhkan sinar matahari. Itulah mengapa tetua manusia disebut pu'un, atau buhun yang akar katanya dari pohon. Sinar matahari itu menyembuhkan dan menumbuhkan.Sayangnya, manusia zaman now takut dengan matahari.

Berjemur merupakan salah satu cara agar sistem imunitas tubuh manusia bekerja dengan optimal. Yang baik tentunya adalah sinar matahari pagi. Dengan berjemur di bawah sinar matahari pagi, metabolisme tubuh akan bekerja lebih optimal. Kalau tumbuhan punya klorofil untuk menjalankan sistem fotosintesis, manusia punya hemoglobin, juga melatonin. Sinar matahari yang ditangkap oleh pigmen ini kemudian akan diolah oleh sel-sel tubuh menjadi energi.

grounding for health
Grounding di Bumi Herbal Dago

Dengan fakta tersebut, tidak heran jika bersin-bersin saya seringkali berakhir apabila sudah terkena sinar matahari pagi. Ternyata moyan itu menyembuhkan manusia, luar dan dalam. Terhubung dengan alam, misalnya dengan grounding (berjalan tanpa alas kaki) juga ternyata memiliki manfaat untuk menyerap ion-ion yang dikandung bumi. Semuanya baik untuk tubuh manusia. Maka yang harus dilakukan manusia untuk menyembuhkan dirinya sebenarnya adalah kembali terhubung dengan alam.

Berkunjung ke Bumi Herbal memberi saya pelajaraan bahwa alam sebenarnya telah menyediakan begitu banyak sarana yang dibutuhkan manusia untuk hidup seimbang. Kitalah yang menjaga jarak dengan alam, juga lebih banyak merasa terintimidasi karena ketidaktahuan kita. Mempelari kandungan herbal tanaman-tanaman yang dimiliki Indonesia menjadi salah satu ketertarikan tersendiri untuk saya. Ini semakin mendorong saya untuk mempelajari ilmu naturopathy.

Jadi apa yang saya lakukan untuk menidurkan gen alergi yang sudah tersemat : Tetap makan dan minum sesuai irama tubuh atau siklus sirkadian, mengonsumsi teh herbal di pagi hari, menabung enzim dengan mengonsumsi sayuran segar (raw food) dan lebih banyak mengonsumsi plant based food.

naturopathy
Semakin ingin menekuni ilmu naturopathy. 

raw salad and mushroom satay
Raw salad dan sate jamur, buat makan siang. 

herbs tea
herbs tea every morning, beside jeniper. 

Yang juga tidak boleh dilupakan, berjemur sinar matahari pagi, dan terhubung dengan alam terbuka.  

8 comments:

  1. Back to nature banget. Obat kimia memang sebaiknya jadi pilihan terakhir dan menurut saran dokter yang memang menjaga pasiennya agar tidak bergantung pada obat kimia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, ternyata masih banyak alternatif penyembuhan dari alam

      Delete
  2. Seger banget ya. Sampai ada alternatif makanannya juga. Semoga bisa segera baikan alerginya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa, seger banget di sana. Thanks yaa

      Delete
  3. muter2 kebunnya nyeker gituh? termasuk tips terapi bukan, apa pengen nyobain aja ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. nyeker alias grounding, biar ion2 dari tanah terserap oleh tubuh...kitu

      Delete
  4. Kyaaa dulu rumah saya di dago Teh🤗 semoga cpt baikan ya ga alergi lagi😊

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...