Tuesday, June 26, 2018

Mudik Ke Jakarta, Bisa Kemana Saja?



Ketika orang-orang yang tinggal di Jakarta mudik ke kampung halamannya masing-masing saat lebaran, saya dan keluarga justru berkunjung dan menginap selama beberapa hari di ibu kota tercinta. Kadang sering kangen dengan momen pulang ke kampung halaman, bukannya pulang ke kota. Mudik ke kota mau ngapain? Ditambah lagi, mudik ke Jakarta, emang bisa kemana saja? Beneran nggak sih, Jakarta sesepi gambar meme-meme yang beredar di sosial media? Ayo kita buktikan.



Ritual pulang kampung ke Jakarta sudah kami jalani semenjak Eyang Putri yang tinggal di Boyolali meninggal dunia, dan sebagian besar keluarga yang ada di Solo hijrah ke ibu kota. Karena Mama saya hitungannya termasuk pangais bungsu, dan kakak-kakaknya semua bermukim di ibu kota maka jadi ada semacam ritual nggak tertulis bahwa kalau momen lebaran semua berkumpul di keluarga yang dituakan. Ditambah lagi keluarga dari Papa saya sebagian besar memang orang Betawi. Meskipun sebagian keluarga Papa yang asli Sunda juga sudah hijrah ke kampung halamannya di Pangandaran. Jadi, setiap lebaran template-nya hampir sama, kalau nggak mudik ke Jakarta ya, ke Pangandaran. 

Tahun ini kebagian mudik ke Jakarta. Setiap kali berlebaran di Jakarta, nggak pernah muluk-muluk membuat rencana mau kemana dan kemana. Pertama, karena jadwalnya pasti harus mengikuti jadwal seluruh keluarga besar. Biasanya, dari Bandung, daerah pertama yang kami tuju adalah ke daerah Brimob Kelapa Dua. Semua anggota keluarga yang tersebar di berbagai daerah di ibu kota ngumpul di rumah Pakde yang dituakan. Setelah itu lanjut ke Cimanggis, Cijantung, Cibubur, Duren Sawit, dan kalau sudah beres jadwal silaturahminya barulah menghabiskan waktu di Tebet. 

Agenda yang sudah default dari tahun ke tahun bikin kami jarang banget bisa improvisasi mau kemana gitu. Tahun ini rencananya sebenernya mau menginap di daerah Cibubur dan pengin menjelajahi area Jakarta Timur, Bintaro, dan BSD seperti beberapa tahun silam. Tapi rencana tinggal rencana, hahaha. 

Akhirnya karena menginap di daerah Tebet yang lebih dekat ke area Jakarta Pusat, di sisa-sisa waktu libur lebaran yang ada kami manfaatkan buat menikmati Jakarta dalam kondisi yang relatif lengang. Jadi, kita kemana saja dan ngapain saja waktu mudik ke Jakarta kemarin? Beneran nggak sih, Jakarta sesepi gambar meme-meme yang beredar di sosial media? 

Emang beneran sampe bisa gogoleran kayak gini? (credit pic by : www.jakartatraveler.com)
patung pancoran
Waktu lewat area Patung Pancoran, lalu lintasnya lumayan lancar, sih. Tapi kalau dibilang sepi kayaknya nggak juga. Mungkin kalau jalan-jalan pagi di sini selepas subuh bisa foto-foto ala piknik di tamannya. 

taman monumen nasional
Pas libur lebaran kemarin, area lapangan di Monas sedang ada acara, jadi nggak sepi-sepi amat juga. 


1. Menjajal Commuter Line Yang Relatif Sepi Penumpang. 

Kapan lagi kan, ngajak anak-anak naik commuter line sebebas dan selowong ini. Kalau hari biasa, kayaknya nggak mungkin bisa sesantai ini bawa anak-anak. Lumayan jadi bisa mengajari Kak Ezra soal transportasi publik, dan membandingkan sendiri bagaimana transportasi publik di ibu kota dengan kota-kota lainnya.  

commuter line saat idulfitri
Bisa main gelayutan di commuter line. 

sepinya commuter line saat libur lebaran

kereta commuter line sepi
Nyaris bobok siang di kereta ya, Kak. 

krl commuter line jakarta kota depok
Ini perjalanan dari Stasiun Jakarta Kota menuju ke Manggarai

2. Naik Bajaj Sebelum Kendaraan Ini Hilang Dari Peredaran. 

Beberapa tahun sebelumnya sudah pernah sih, mengenalkan Ezra dan Tazka dengan transportasi ini. Tapi waktu itu, Tazka masih usia satu tahunan, dan kayak nggak nyaman dengan suara deru Bajaj. Kali ini, saat menjajal kembali naik Bajaj, anaknya kelihatan lebih excited. Yeay, keliling Jakarta naik Bajaj kita. 
transportasi bajaj

bajaj jakarta

3. Lari Pagi Di Taman Menteng. 

Niatnya sih, ke sini buat cari jajanan, tapi ya gitu deh, berakhir bingung mau makan apaan. Jadinya nggak lama-lama juga main ke sininya karena ternyata banyak yang belum jualan atau malah memang bukanya sore hari. Padahal di area ini ada beberapa yang rekomen, seperti Sate Padangnya. Waktu saya tanya ke beberapa orang, pusat jajanan kuliner yang ada di samping Taman Menteng ini memang bukanya jam lima sore.

Kalau menurut saya, Taman Menteng justru terasa lebih sepi pas hari kerja ketimbang hari libur lebaran. Bisa jadi karena warga Jakarta yang nggak mudik justru memanfaatkan momen yang reltif sepi untuk berkunjung ke fasilitas-fasilitas publik yang sudah disediakan pemkot.

image credit from : tribunnews


4. Menjajal Kuliner Khas Jakarta : Nasi Ulam. 

Ada satu gerobak nasi ulam yang direkomendasikan sama Chef Odie Djamil, kalau ngga salah itu ada di daerah Jakarta Pusat, seputaran Monas gitu. Cuma entah gimana setiap kali nyari Nasi Ulam ini malah nggak pernah ketemu.

Kalau yang belum tahu Nasi Ulam itu apaan? Nasi Ulam ini masakan khas Betawi yang sudah mulai langka. Biasanya ada dua macam. Nasi ulam kering  dan Nasi Ulam Basah. Nasi Ulam kering berisi nasi putih yang ditaburi serundeng, kacang tanah yang dihancurkan, daun kemangi, serta beragam lauk pauk seperti semur, ayam goreng, ikan pesmol, dan sebagainya. Konon, nasi ulam kering inilah yang benar-benar khas Betawi. Sedangkan, nasi ulam basah ditambahi kuah semur.

Selain yang di area Monas, ada juga Nasi Ulam Bu Yoyo di daerah Kuningan, tepatnya di belakang Mall Ambassador. Kalau ke sini mesti agak bisa menahan diri. Soalnya aneka jeroan yang dijadikan teman makannya itu menggoda pakai banget. Kalau kebetulan ke daerah Petak Sembilan, juga bisa mencoba Nasi Ulam Misjaya. 

5. Mengunjungi Stasiun Jakarta Kota. 

Buat penyuka sejarah, pasti pengin tahu dong bagaimana tampilan stasiun yang dirancang oleh seorang arsitek kelahiran Tulungagung, Frans Johan Lowrens Ghijsels. Dulunya, stasiun ini bernama Stasiun Beos yang merupakan singkatan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maattschapij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur). Sebutan ini masih bertahan hingga era 1980-an. Stasiun Jakarta Kota telah beroperasi sejak 1873. Saat itu, Stasiun Beos menjadi jalur kereta api pertama Batavia-Buitenzorg (Jakarta-Bogor).  Stasiun ini dijuluki ‘Het Indishe Bouwen’ atau ‘Gedung Hindia’. Konstruksi bangunan berbentuk huruf “T”. Rangka atau atap berbentuk kupu-kupu dengan penyangga kolom baja. Benar-benar bergaya Eropa yang klasik. Kalau menurut Ezra, stasiunnya mirip sama yang di film Hugo. Kamu detail banget sih, Kak. 

Stasiun Jakarta Kota
Stasiun ini dengan mengkombinasikan struktur dan teknik modern barat “Art Deco”. 

Stasiun Peninggalan zaman Belanda Di Jakarta Kota

peta penunjuk arah stasiun jakarta kota

6. Mengunjungi Kota Tua Jakarta.

Salah satu alasan saya kenapa pengin main ke Kota Tua Jakarta adalah ingin membandingkannya dengan Kota Lama Semarang. Pengin tahu juga faktor apa yang membuat Kota Tua Jakarta tidak bisa masuk ke dalam world heritage-nya UNESCO. Sayangnya, waktu main ke sini di libur lebaran, ternyata suasananya lumayan padat pengunjung. Kalau mau foto pun, pasti bocor di sana-sini. Selain itu, ada yang sudah bolak-balik mengeluh kepanasan. Jadi nggak bisa fokus mencari info. Foto-foto pun seadanya, saat mau bertanya-tanya di TIC pun nggak bisa. Sepertinya harus mengagendakan ke sini lagi di lain waktu.






7. Berburu Mie Aceh Enak di Seputaran Jalan Saharjo.

Belum berhasil menjajal Nasi Ulam di Monas, nggak bikin kita patah semangat. Di perjalanan pulang ke Tebet kita sengaja mengagendakan waktu untuk berburu Mie Aceh enak. Di deket-deket Saharjo, ada dua rumah makan yang menyajikan Mie Aceh yang masuk ke dalam list, yaitu Mie Aceh Ayah di Jalan Saharjo, dan Mie Aceh Seulawah di Pasaraya Manggarai.


Karena penginnya makan Mie Aceh Kepiting, saya memilih Mie Aceh Seulawah di Manggarai, tapi karena di rumah sudah ditunggu keluarga yang datang untuk silaturahmi maka kami memutuskan makan yang deket-deket rumah saja, yaitu Mie Aceh Ayah. 

Lokasi: Mie Aceh Ayah Jl. Dr. Saharjo No. 188, Tebet, Jakarta. Telp. (021) 8296509.


Jadi, itulah beberapa kegiatan yang bisa dilakukan selama di Jakarta. Oh ya, kemarin itu dalam satu hari kita bisa ke empat tempat sekaligus dengan kendaraan pribadi lho. Dari area Cibubur sampai ke Duren Sawit. Kalau hari biasa, kayaknya nggak bakalan bisa kan ya. Jadi, ada enaknya juga kan mudik ke ibu kota. 

14 comments:

  1. Wah lihat foto-fotonya aku jadi kangen suasana macet hiruk pikuknya Jakarta .. dan pengin ngerasain lagi desak2an naik komuter line saat jam berangkat pulang kerja.

    Kapan ada waktu aku pengin liburan ke Jakarta buat mengenang masa lalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebelumnya tinggal di Jakarta ya, Mas. Asiik dinikmati pas lagi sepi ya, Jakarta itu.

      Delete
  2. Aku hampir semuanya pernah nyobain mbak. Kurang nasi ulamnya. Blum kepikiran nasi ulam itu kayak gimana --"
    Tahun kemarin nikmati daerah kuningan yang sepi :D
    Oyaa, itu cimanggis,cijantung,cibubur,duren sawit berada di satu area yaa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cimanggis sama Cijantung dan Cibubur deketan siih. Tapi kalo Duren Sawit agak jauhan. Waah gimana rasanya tuh Kuningan pas lagi sepi.

      Delete
  3. Jakarta yang hiruk pikuk, rehat ketika lebaran tiba. Jadi unik memang kalau mau dibahas mudik tapi ke Jakarta. Informatif sekali, thanks!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah berkunjung...iyaa, mudik tapi ke kota, yah.

      Delete
  4. Asyiik MB jln2nya..pingin bgt k Jakarta naik commuter line

    ReplyDelete
    Replies
    1. klo pas ngga libur penuuh berdesak-desakan Mba. Klo pas libur kayak kmrn, enak sepi.

      Delete
  5. Wah seru juga libur lebarannya dijakarta y teh. Baru denger nih nasi ulam nya. Kayaknya enak ya

    ReplyDelete
  6. Komuter linenya bisa dipakai main bola ya, Mbak. Hahaha. Sepi amat. Kupikir bajaj itu emang sudah nggak ada, ternyata masih to.

    ReplyDelete
  7. Jakarta yang masih selalu kebayang di benakku itu macet dan macet lagi. Padahal udah lama banget nggak ke Jakarta, hihi

    ReplyDelete
  8. Huwaaaa sepi bisa selonjoran asikk ya Mba Nia.
    AKu udah lama nggak ke Jakarta, lewat-lewat doang.
    Semoga kapan-kapan kesampaian buat ngunjungin semuanya.
    Penasaran juga dengna rasa nasi ulam. Ulam di Jawa padahal artinya ikan hehehe . Thank cerita mudiknya mba Nia.

    ReplyDelete
  9. Ulam itu kalau Bahasa Jawa artinya iwak cenderung ke lauk. Jadi klo ada yg nanya "ulame nopo", bisa jadi itu nanyain mau pake lauk apa hehehee... ternyata ya kok sama ya dengan Jakarta.

    Asyiknya mudik ke ibukota, mumpung sepi suasananya ya Nia ;)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...