Thursday, November 22, 2018

Menunggu Matahari? Ngapain Ditunggu Tiap Hari Juga Terbit.


"Bramasole tuh, artinya apaan, sih? Eh, itu mau bikin sekuelnya Brama Kumbara? Blog lo, namanya apa, eh, Sule-sule apa, itu?" Itu adalah beberapa pertanyaan ketika orang-orang bertanya soal nama blog ini. Atau biasanya kalau udah dijelasin kalau itu berasal dari Bahasa Italia yang artinya 'Menunggu Matahari' nanti masih ada yang komen : "Menunggu Matahari? Ngapain ditunggu, tiap hari juga terbit. Komen-komen itu bukan rekayasa, simak aja penggalan komen di laman Facebook di bawah ini...





"Mas, Mas Eko. Panjenengan udah nggak penasaran kan, sekarang?" 
Kalau Mas Belalang Cerewet pasti udah tahulah yaa, saya nggak pernah punya mantan yang namanya Bram. Jadi blog ini memang nggak didedikasikan buat mantan apalagi Brama Kumbara. 

Sebenernya ini perihal yang paling males buat dikisahkan di blog karena kalau dikisahkan jatuhnya terlalu filosofis yang mana sebagian orang pasti akan dengan senang hati langsung menutup laman ini lantaran bosan. Dan lagian juga sudah pernah ditulis di sini dan di sini. 

Mendingan saya bahas saja bagaimana branding brama-sole.com ini, apakah sudah membekas di ingatan. Apakah isinya sudah sesuai dengan harapan, dan apakah-apakah lainnya yang lebih berfaedah ketimbang sejarah pemilihan nama blog. 

Bramasole awalnya dipakai untuk mencatat perjalanan karir kepenulisan. Di masa-masa awal nge-blog, fokus masih terbagi dua. Hal-hal remeh tapi enggan disinggirkan begitu saja dari meja kehidupan saya simpan di Multiply, sementara perjalanan untuk menulis Novel 29 1/2 Hari saya tulis di sini. 

Sampai akhirnya Multiply berubah jadi e-commerce bagi online shop, lalu kemudian berhenti beroperasi. Jejaring yang dibangun lewat Multiply pun seketika tercerai-berai. Sebagian reunian di Facebook, sebagian entah pada kemana. Yang saya ingat, ketika awal mulanya Srikandi Blogger yang diprakasai oleh KEB (Kumpulan Emak-Emak Blogger) orang-orang sudah mulai beralih ke platform blogpost atau wordpress dan nge-blog dengan serius di sana. 

Seberapa seriusnya, saya sampai nggak tahu karena kala itu fokus saya adalah menerbitkan buku, kuliah lagi, nyambi kerja, nulis, dan menerbitkan buku lagi, kerja, nyambi nulis, momong anak, dan seterusnya. Seandainya waktu bisa kembali, yang nyatanya nggak bisa, mungkin saya akan fokus menulis di ranah traveling dengan branding brama-sole ini. 

Menunggu Matahari, menurut saya cocok sebagai blog jalan-jalan. Kesukaan manusia main-main ke alam, seringkali berkaitan dengan ingin menyaksikan matahari terbit atau tenggelam. Kenapa tidak, sembari menunggu momen itu, di tengah-tengahnya kita menjelajah, mengumpulkan kisah-kisah dan mengabadikannya dalam sebuah blog. 

Dalam perjalanannya, jalan-jalan selalu kalah dengan kerjaan, atau prioritas yang lain sehingga sebagai jalan tengah saya memilih menuliskan apa saja yang menjadi bagian dari keseharian di blog ini. Bramasole jadi blog lifestyle, isinya mulai dari parenting, ulasan, jalan-jalan, kecantikan, pokoknya apapun yang berkaitan dengan gaya hidup. 

Mungkin nih, baru mungkin, saya bakal membuat satu blog lagi, kali ini menggunakan Bahasa Indonesia, dengan nama yang diterjemahkan dari kata 'Bramasole', yaitu 'Menunggu Matahari'. 


Tapi kemudian saya pikir-pikir lagi, selama menunggu matahari terbit dan tenggelam, banyak kisah selain perjalanan yang juga ingin dikenang. Hidup adalah apa yang terjadi di antara waktu matahari terbit dan tenggelam. Kenapa harus dipisah-pisah, sih. Oh apa mungkin lebih baik itu jadi judul buat buku aja, ya. Sebuah buku yang mengisahkan kisah-kisah perjalanan macam yang ditulis Eric Wiener gitu. 

Ehm, jawabannya jadi filosofis. Please, jangan jadi bosen dan ditutup ya, lamannya. 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...