Monday, November 5, 2018

Trip To Thailand with Faber-Castell


Sudah hampir satu bulan yang lalu nih, saya ngetrip ke Thailand bareng sama Faber-Castell. Alhamdulillah, berkat tulisan ini jadi bisa liburan ke Thailand. Ngapain aja selama di sana, dan keseruan apa yang terjadi waktu ngetrip bareng anak-anak pemenang Family Art Competition 2018? Yuk simak ceritanya.



Pukul dua dini hari, wake-up call dari pihak Swiss-Bellin Airport Jakarta membuat saya segera bergegas untuk bangun dan berkemas. Untungnya, semalam sebelum tidur sudah merapikan semua barang bawaan. Rekan sekamar saya, Mba Dian, seorang jurnalis di media cetak yang ada di Jakarta juga sudah stand by dini hari itu.

Dini hari itu semua peserta trip ke Thailand berkumpul di lobby hotel, menunggu shuttle bus mengantarkan kami ke bandara. Pak Amar dari Golden Rama Travel juga sudah mulai mengabsen para peserta yang terdiri dari anak-anak, para orangtua pendamping, dan perwakilan dari Faber-Castell. Salut melihat keceriaan dan antusiasme anak-anak dmenyambut trip pertama mereka ke Thailand meski harus bangun begitu pagi dan menahan kantuk.

Ya, trip ke Thailand ini merupakan salah satu hadiah bagi para pemenang Lomba Family Art Competitions yang diselenggarakan pada kurun waktu November 2017-April 2018. Lomba yang bertujuan untuk mendorong keterlibatan dan kerjasama antara orangtua dan anak untuk bersama-sama membuat prakarya dengan menggunakan produk Connectorpen Faber-Castell ini dimenangkan oleh delapan anak dari berbagai kota di Indonesia.

Anak-anak pemenang Lomba Family Art Competition berfoto bersama di acara pelepasan pemenang di Kemendikbud

Ada Elena dari Jambi, Jericho dari Medan, Hanif dari Pekanbaru, Natha dari Bali, Afifah dari Banjarmasin, Afif dari Jogja, Sabrina dari Surbaya, dan Alia dari Bandung. Masing-masing anak yang rata-rata berusia 9 sampai 11 tahun ini berlibur ke Thailand bersama satu orang pendamping, yaitu ayah atau ibunya. Melihat keceriaan dan antusiasme mereka, sudah terbayangkan bagaimana serunya perjalanan bersama mereka nanti.

Tidak perlu menempuh perjalanan terlalu lama, sekitar sepuluh menit kemudian kami sudah sampai di Bandara Soekarno Hatta. Ini merupakan salah satu keuntungan apabila menginap di hotel yang berada di dekat kawasan bandara. Selain tidak terburu-buru, hotel juga menyediakan shuttle-bus khusus untuk mengantar-jemput tamu dari bandara.

Sesampainya di bandara, anak-anak mulai terlihat saling mengobrol satu sama lain untuk mengakrabkan diri dengan peserta yang lain. Para orangtua juga sudah mulai saling bertegur sapa dan mengobrol dengan orangtua lainnya. Saya sendiri, bersama Mbak Dian masih berusaha menghalau rasa kantuk yang belum hilang. Tidak lama kemudian Pak Amar yang akan menjadi tour leader selama trip ini mulai membagikan paspor dan boarding pass kepada kami.

Setelah menerima boarding-pass kami pun berjalan menuju lokasi keberangkatan Internasional. Pesawat Singapore Airlines rencananya akan terbang dan membawa kami singgah di Singapura. Jadi perjalanan menuju ke Bangkok nanti akan diselingi transit selama kurang lebih dua jam di Changi Airport. Melihat jadwalnya sih, perjalanan jadi terasa panjang. Semoga nanti di pesawat saya bisa melanjutkan tidur, hehehe.

Selepas imigrasi, anak-anak terlihat semakin nggak sabar untuk naik ke pesawat. Melihat polah-tingkah mereka, saya dan Mbak Dian jadi teringat anak-anak di rumah. Semoga suatu saat nanti bisa nge-trip bareng sama anak-anak juga.

Mba Dian di sebelah kanan saya, dan Pak Roy perwakilan dari Faber-Castell

Setelah berada di pesawat, entah bagaimana keinginan untuk tidur malah hilang, hehehe. Kebetulan saat berangkat, saya duduk bersebelahan dengan Mbak Dian, dan Pak Roy perwakilan dari Faber-Castell, jadinya kami justru ngobrol dan mulai menanti-nanti makanan yang akan disajikan oleh Singapore Airlines. Setelah beberapa kali mencoba makanan di pesawat, akhirnya baru bisa bilang kalau makanan yang disajikan Singapore Airlines itu enak. Atau mungkin, saya memang lagi lapar berat.
Lupa kenapa saat itu saya milih menu yang ini. Yang jelas di penerbangan ke Bangkok saya memilih menu Pad-Thai yang rasanya lumayan enak. 

Tidak terasa akhirnya kami pun tiba di Changi Airport. Begitu keluar dari pesawat langsung disergap hangatnya sinar matahari Singapura yang menembus kaca jendela connector dari pesawat menuju area kedatangan. Jam delapan pagi waktu Singapura kala itu.

Changi Airport

Selamat datang di Singapura. Harapannya sih, bisa jalan-jalan sebentar untuk menikmati kotanya, tapi waktu transit kami sangat singkat. Hanya dua jam, dan itu pun harus diefektifkan untuk pindah gate menuju ke tempat pesawat yang akan membawa kami ke Thailand.

Singgah sebentar di Changi, kami pun kembali bergegas menuju gate berikutnya. Tidak banyak yang bisa dilakukan di Changi selain mengenang beberapa hal tentang bandara tersebut yang kini sudah banyak mengalami kemajuan. Rombongan pun kembali masuk ke dalam pesawat dan kali ini saya bisa tertidur selama beberapa menit. Lumayan buat mengisi ulang baterai yang nantinya akan digunakan seharian saat nge-trip. Mengingat jadwal jalan-jalan yang lumayan padat.

Selamat Datang Di SvarnaBhumi Airport. 

Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Svarnabhumi, saya buru-buru mengemas barang-barang yang saya letakkan di bawah kursi ketika tanda sabuk pengaman sudah mati. Sambil merenggang-renggangkan tulang belakang dan mengusir rasa kantuk yang masih mengelayuti mata saya pun bersiap untuk turun dari pesawat. 

Selamat datang di Thailand, begitu ujar saya pada diri sendiri. Tidak ada perbedan waktu antara Jakarta dan Thailand. Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat sekian menit. 

"Sesampainya di Thailand, kita nanti akan ditemani oleh pemandu wisata setempat," ujar Pak Amar kepada kami. Anak-anak yang awalnya berjalan dengan tertib bersama pendampingnya masing-masing, sesampainya di bandara langsung berbaur dengan sesama anak-anak lainnya. Mereka asyik bersenda gurau sementara kami para orangtua bersiap untuk menuju imigrasi. 

Ada beberapa hal yang kembali ditekankan oleh Pak Amar, Tour Leader kami; "Jangan mainan hape dan memotret ya, saat nanti di imigrasi." Memang sih, waktu di Bandara Soekarno Hatta saya sempat diperingkatkan oleh petugas imigrasi karena kelupaan take-video saat akan mengambil gambar anak-anak yang sedang menyerahkan paspor mereka. "Di Thailand jangan diulang ya, Mba. Petugas di sana lebih galak dinanding kita." 

Sebenarnya bukannya saya nggak tahu peraturan tersebut, cuma kemarin itu keasyikan mengabadikan polah-tingkah anak-anak jadinya sampai lupa, hehehe. Nah, saat di Thailand saya pun berusaha untuk nggak mainan hape apalagi memotret. Meskipun sebenarnya banyak juga dari pengunjung yang sedang mengantri di imigrasi tetap memainkan ponselnya. 

Mbak Dian malah sedikit khawatir dirinya tidak bisa lolos masuk ke Thailand karena sedang sakit flu. Apalagi dari pengeras suara, kami mendengar himbauan agar yang sakit flu berat harus menjalani prosedur karantina terlebih dahulu. Duh, bikin deg-degan, kan. Untungnya karena berusaha bersikap sehat dan normal. semua rombongan lolos dari bagian imigrasi tanpa ada masalah. Oh ya, kecuali sedikit insiden tertinggalnya tas milik ayah Afifah dari Banjarmasin. 

Svarnabhumi Airport

Selesai dengan urusan imigrasi, kami pun berjalan menuju gerbang kedatangan. Akhirnya menjejakkan kaki juga di salah satu bandara yang sejak dulu ingin saya kunjungi. Svarnabhumi terlihat cukup megah dan tertata sangat baik. 

Di bandara inilah kami pertama kalinya bertemu dengan local guide yang sangat ramah dan bisa berbahasa Indonesia juga, yaitu Pak Ali dan Pak Pranya. Dengan keramahan keduanya, anak-anak dan peserta lainnya langsung terlihat cepat akrab. 

"Apa kabar," ujar Pak Pranya dengan logat khasnya, menyapa kami semua sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. 

"Bisa Bahasa Indonesia, belajar dari mana, Pak?" tanya saya saat itu, yang kemudian disambung dengan cerita saat ia menjadi awak kapal pesiar dan belajar dari orang-orang Melayu dan Indonesia yang ada di sana. 

"Nanti saya yang akan temani semua jalan-jalan keliling Thailand, ya," tambah Pak Pranya lagi dengan mimik wajah yang khas ketika anak-anak mendekatinya. Tampaknya Pak Pranya juga sangat mahir bergaul dengan anak-anak.

Dari bandara kami dijemput mengunakan bis yang dijuluki Bisbasbus oleh Pak Pranya lantaran bis yang kami tumpangi memang bertuliskan B3. "Ayoo, kita naik Bisbasbus," ujar Pak Pranya kepada anak-anak yang sudah nggak sabar ingin menjelajahi Kota Bangkok. Anak-anak pun menyambutnya dengan antusias dan segera menaiki bis. 


Jadwal pertama yang akan kami lakukan setelah dari bandara adalah menuju ke tempat makan siang. Selama di perjalanan anak-anak berkomentar tentang pemandangan yang mereka lihat selepas dari bandara. 

"Oh, Thailand tuh kayak gini, ya." 
"Kok hampir sama kayak di Jakarta, ya," ujar Hanif dari Pekanbaru ikut menimpali. 

Bangkok Day 1

Kecuali tulisan-tulisan keriting yang banyak menempel di sepanjang papan reklame atau dinding gedung, Thailand sekilas memang tampak seperti Jakarta. Dari balik jendela bis, terasa udara di area luar yang cukup panas. Tidak salah memang himbauan dari pihak pengelola perjalanan untuk mengenakan baju yang menyerap keringat dan mengenakan tabir surya. Untungnya jadwal jalan-jalan kami hari itu lebih banyak di dalam ruangan. 


Setelah menikmati makan siang di sebuah restoran yang ada di dalam sebuah hotel bernama Crystal Su, yang tentunya menyajikan menu-menu khas Thailand seperti Tomyum, tempura sayuran, ayam goreng dengan saus a la Thailand kami pun melanjutkan perjalanan ke MBK dan Madam Tussaud dengan mengunakan Bisbasbus.

Kuliner Thailand memang nggak terlalu jauh dari masakan Indonesia atau Melayu. Masih ada nasi yang cukup enak untuk dinikmati hangat-hangat bersama Tomyum. Yang membedakan hanya bumbu dan rempahnya saja yang lebih terasa. Tambahan rempah dan herbs segar seperti daun ketumbar, kemudian irisan atau kucuran air jeruk nipis membuat masakan Thailand identik dengan rasa asam. 


Bisbasbus melaju membelah lalu lintas Thailand menuju ke kawasan pusat perbelanjaan MBK. Basbisbus akan di parkir di kawasan parkir MBK, dan dari sana rombongan akan berjalan menuju ke Discovery Mall untuk menuju ke Madam Tussaud. Sesaat setelah turun dari bis, Pak Amar memberikan beberapa kiat dan peraturan demi kekompakan perjalanan kami, misalnya berapa lama kami akan berada di Madam Tussaud, dan kapan kami harus kembali lagi ke titik berkumpul. 



Di Madam Tussaud kami menghabiskan waktu kurang lebih sekitar 45 menit untuk menjelajah, setelah itu kami harus kembali ke MBK untuk naik bis dan berkendara menuju ke Chocolate Ville. Lokasi Chocolate Ville ini ada di luar Kota Bangkok dan perjalanan yang ditempuh juga lumayan lama. Apalagi perjalanannya bersamaan dengan jam orang-orang pulang dari kantor, jadinya lumayan macet. 

Untungnya selama perjalanan, Pak Pranya banyak bercerita tentang Kota Bangkok, juga bercerita tentang sejarah kota dan Raja-rajanya, jadi meskipun macet waktu kami tidak sepenuhnya terbuang. Setelah kurang lebih dua jam, dan hari sudah mulai gelap, kami pun sampai di Chocolate Ville. 

Di arena parkiran sudah banyak bis-bis pariwisata yang berderet, juga beberapa kendaraan pribadi. Ada yang unik dengan para wisatawan yang datang ke sana berombongan dan menggunakan pemandu. Setiap tour leadernya selalu membawa bendera dengan ciri khas biro perjalanan masing-masing. 


Chocolate Ville ini sebenarnya sebuah tempat wisata macam Farm House Lembang, yang terdiri dari bangunan-bangunan bergaya Eropa klasik. Ada kincir angin besar, kolam, air mancur, dan beberapa wahana lainnya. Sayang banget kami datang saat hari sudah gelap, jadinya tidak bisa menikmati dengan detail pemandangan taman-tamannya yang cantik. Jadi selama di Chocolate Ville ini kami menikmati hidangan a la Thailand yang cukup lengkap sambil bercengkarma dan mengobrol satu sama lain. 

Wajah lelah mulai tampak di wajah masing-masing peserta, baik yang anak-anak maupun orangtuanya. Saya sendiri sudah mulai kehabisan baterai, baik baterai ponsel untuk merekam aktivitas, sekaligus juga baterai tubuh, hehehe. Chocolate Ville adalah tujuan terakhir kami di hari pertama. Selanjutnya kami akan menuju hotel yang berada di kawasan China Town-nya Bangkok. 

Prime Hotel tempat kami menginap berada di pusat kota, tepatnya di daerah Krung Thep Maha Nakhon, jadi perjalanan dari Chocolate Ville ke hotel lumayan jauh juga. Rasa lelah selama perjalanan di hari pertama terbayar dengan istirahat yang cukup di hotel yang nyaman. 



Hotel tempat kami menginap memiliki pemandangan ke arah pusat kota. Setiap pagi saat sarapan, saya bisa menyaksikan bagaimana nadi Kota Bangkok mulai berdenyut. Sementara dari bagian belakang hotel, saya bisa melihat pemandangan kuil-kuil yang menjadi ciri khas negara ini. Sebuah negara yang syarat budaya dan unsur spiritual. 

Inilah perjalanan hari pertama saya di Bangkok bersama Faber-Castell. Selanjutnya, saya akan membagikan cerita hari-hari berikutnya lewat vlog , biar lebih hidup dan bisa melihat keceriaan anak-anak pemenang Lomba Family Art Competition. Ditunggu yaa, cerita lanjutannya. 









2 comments:

  1. Yah,, kok ke Chocolate Village-nya pas gelap sih. Besok diulang lagi mbak nia.

    ReplyDelete
  2. Pemandu wisata di negara2 sekitar ini emang lancar ya bahasa Indonesianya. Pas ke Kamboja tempo hari pemandu wiasatanya juga fasih banget berbahasa Indonesia.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...