Monday, December 10, 2018

Menuntaskan Rasa Penasaran dengan Pesona Legenda Dieng dan Banjarnegara (Bag.1)


Sulit rasanya membuat satu kalimat pembuka yang sesuai untuk disematkan pada kisah perjalanan ke Dieng dan Banjanegara saya kali ini. Saya tidak ingin mengumbar kata jatuh cinta, karena pada kenyataannya semua tempat yang indah selalu membuat saya mengatakan kalimat itu. Masalahnya, Dieng dan Banjarnegara bukan sekadar indah, dan membuat seseorang jatuh cinta pada pandangan pertama, melainkan ada getaran lain yang membuat saya tertarik untuk mengenalnya lebih dalam lagi.

Menuntaskan Rasa Penasaran dengan Pesona Legenda Dieng dan Banjarnegara. 


Sebagai dataran tinggi yang dijuluki sebagai 'Negeri di Atas Awan', saya yakin akan banyak penduduk perkotaan yang berhasrat untuk melarikan diri ke puncaknya. Konon 'Negeri di Atas Awan' itu dilindungi oleh kawanan kabut, hanya sedikit mata yang bisa menangkap keberadaan negeri itu lantaran gelombang tenang lautan awan menyelimuti puncak-puncaknya.

Bila tidak ada getaran yang dikirimkan oleh lekuk-lekuk buminya, bebatuan yang disusun sedemikian rupa menjadi candi-candi purbakala yang menatahkan jejak peradaban, kawah-kawah aktif yang sarat  akan cerita legenda, serta telaga yang berubah-ubah warna, mungkin orang-orang tidak akan bersusah payah mendaki gunung menuju 'Negeri di Atas Awan' tersebut.

Kisah-kisah itu jugalah yang membuat saya ingin mengenal Dieng dan Banjanegara lebih dekat lagi. Mungkin ada semacam dorongan dari dalam untuk mengenal asal-usul diri sendiri yang mungkin saja tersempil di antara pahatan kisah di dinding candi, atau seenggaknya untuk memupuskan rasa penasaran akan kisah-kisah legenda nusantara di masa purbakala.

Jika kalian sebelumnya mungkin sudah pernah membaca kisah-kisah tentang keduanya, izinkan saya menceritakan versi saya, berdasarkan hasil perjalanan di acara Familirization Trip Banjarnegara 2018 bersama Media & Blogger.

Perjalanan kali ini terasa agak berbeda, lantaran kami rombongan dari Kota Semarang yang terdiri dari Mas Wahid, Mba Ika, dan Mba Wati tidak langsung bergabung dengan para peserta lainnya yang sudah lebih dahulu hadir di Banjarnegara. Kami harus menempuh terlebih dahulu perjalanan dari Kota Semarang selama kurang lebih empat jam. Sesampainya di kantor Dinas Pariwista Kabupaten Banjarnegara, kami menyusul rombongan yang sudah berada di kawasan Candi Arjuna.

Sebenarnya sungguh sayang melewatkan kunjungan ke candi tersebut, meskipun beberapa minggu sebelumnya saya juga baru mengunjunginya. Masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab tentang keberadaan candi tersebut. Juga rasa-rasa penasaran lainnya, apa saja...

Candi Arjuna Bukan Cuma Sepenggal Kisah Purbakala. 


Pertanyaan yang sering muncul ketika sampai di kawasan ini adalah, benarkah ini adalah candi tertua di Jawa Tengah? Kalau bongkar-bongkar buku sejarah dan Mbah Google, ada yang bilang Candi Arjuna ini dibangun di abad 8 dan 9 masehi, pada saat Wangsa Sanjaya berjaya di era Mataram Kuno, tapi ada juga yang memberikan penanggalan sekitar tahun 780 masehi.

Candi Arjuna sendiri sebenarnya bukan satu-satunya candi yang ada, Arjuna merupakan bagian dari komplek Candi Dieng. Ada sejumlah candi peninggalan lainnya yang memiliki karakter khas agama Hindu yang melekat kuat di setiap lekuknya, misalnya saja Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Subadra, serta Candi Semar. Kelima candi tersebut masih berdiri hingga kini.

Sebelum masuk ke komplek candi, kita juga bisa menemukan jejak kisah yang semakin membetot rasa penasaran, yaitu dengan adanya keberadaan Sendang Maerakca dan Sendang Sedayu. Sendang Maerakaca diartikan sebagai tempat untuk membersihkan diri dan instropeksi diri, sementara Sendang Sedayu digunakan untuk mensucikan diri. Air yang ada di Sendang Sedayu ini digunakan untuk ritual jamasan sebelum ruatan pemotongan rambut gimbal.

Sayangnya karena telat bertemu dengan rombongan lainnya di Candi Arjuna, saya dan teman-teman tidak ikut menyambangi kedua sendang tersebut. Jadi, kalau ada kesempatan untuk berkunjung kembali saya bakal menggali kisah kedua sendang itu lebih dalam.


Dari kejauhan saya melihat keberadaan sebuah topeng raksasa berwarna kuning yang menjadi salah satu instalasi seni yang ada di lapangan komplek Candi Dieng. Topeng itu mengingatkan saya akan perhelatan akbar Dieng Culture Festival yang selalu menjadi magnet bagi wisatwan setiap tahunnya. Sayangnya tahun lalu, saya belum berkesempatan untuk ikut menyaksikan perhelatannya.

Keberadaan anak-anak berambut gimbal serta ritual pemotongan rambutnya, wacana bahwa masyarakat beragama Hindu di Bali juga membawa air suci dari Komplek Dharmasala ketika ada upacara-upacara keagamaan menjadi kepingan kisah yang selalu memantik rasa penasaran saya untuk menyusun kepingan sejarah nusantara. Bagaimana kepingan kisah-kisah menghubungkan negeri-negeri penuh legenda lainnya.

Rasanya masih ada alasan kuat untuk kembali mengunjungi Komplek Candi Dieng ini. Apalagi di kawasan ini juga masih ada beberapa objek wisata lainnya, seperti Soeharto-Whitlam dan Museum Kailasa.

Kawah Sikidang Lari-Lari Mencari Jodohnya. 


Pesona Dieng sekali lagi bukan semata-mata karena 'Negeri Di Atas Awan' yang disembunyikan pasukan kabut, justru keberadaan kawah-kawah yang masih bernyawa inilah yang selalu mengirimkan getaran penasaran.

Saya selalu bertanya-tanya, ada apa di balik bumi Dieng yang sedang saya pijak ini?

Sambil membayangkan Pangeran Sikidang, manusia berkepala kijang yang diam-diam jatuh hati pada Ratu Shinta Dewi, saya berjalan menyusuri bebatuan padas. Jalanan menurun mengarahkan saya ke area lapangan yang terbuka, di depannya ada bukit yang masih menghijau oleh tanaman yang khas tumbuh di daerah perbukitan yang kawahnya masih aktif. Jenis tumbuhan ini juga saya dapati ketika jalan-jalan ke Tangkuban Perahu.

Aroma belerang sungguh tidak dapat dibendung oleh kain penutup wajah atau masker. Satu-satunya cara adalah membiarkan aroma itu datang dan pergi dibawa oleh angin, tidak menghirupnya dalam-dalam, tetapi juga tidak menampik baunya. Biarkan saja. Mungkin ini semacam aroma kekecewaan yang ditebarkan Pangeran Sikidang yang ditolak cintanya oleh Ratu Shinta Dewi.

Konon ratu nan cantik jelita itu ogah punya pasangan berkepala kijang makanya ketika Pangeran Sikidang melamarnya, ia mengerjai Si Pangeran terlebih dahulu.

"Buatkan aku sumur yang besar dan dalam wahai Kakanda, baru nanti kamu bisa memperistriku," begitu kiranya Ratu Shinta Dewi memberi mandat.

Namun, ketika pangeran sedang bekerja keras menggali sumur, pengawal Sang Ratu menguburnya hidup-hidup, tentu saja itu bukan inisiatifnya sendiri, melainkan mandat dari Sang Ratu.

Pangeran Sikidang murka, ketika dikubur hidup-hidup ia pun menggeliat lalu meledakkan dirinya hingga muncul kawah di atas permukaan tanah. Amarahnya meletup-letup bagai gelembung air panas yang sanggup mematangkan telur rebus.

Kalau tadi saya bilang bau belerang itu serupa aroma kekecewaan, mendengar kisah tersebut, pikiran saya jadi mengidentikkan aroma belerang dengan aroma kemarahan Sikidang.

Kawah itu kelak akan terus berpindah-pindah sampai bertemu dengan jodohnya. Konon katanya apabila sudah bertemu dengan Kawah Sibanteng artinya sudah ketemu jodohnya. Semoga bantengnya betina ya, eh.

Legenda itu justru membuat pijakan saya di batuan padas Sikidang agak oleng. Bukan karena takut akan gempa dan kemungkinan-kemungkinan lain yang mungkin terjadi sebab saat ini Kawah Sikidang dan Sibanteng belum ketemu, melainkan karena rasa lapar mulai melanda.

Melirik deretan warung tenda warna-warni di area pinggir Kawah Sikidang terbit rasa ingin jajan, meski sungguh sebenarnya warna-warni tenda ini sedikit merusak pemandangan. Menurut Gesavitri, Mbak Bloger asal Banjanegara yang senyumnya manis dan berkacamata frame bulat itu, tenda-tenda tersebut bakal dirapikan oleh pengelola setempat. "Biar nggak kayak tenda pengungsian," begitu ujarnya.

Saya setuju, sih.

Mata saya menyisir area tenda mencari jajanan. Nggak mungkin kan makan kentang hidup-hidup atau cabe gendot yang sebenernya tampak menarik buat digigit itu, pikir saya ketika tidak menemukan satu pun penjaja makanan yang siap hap.

Ini lhooo makanan yang dimaksud. Mirip Gandos, tapi namanya bukan itu. ada yang tahu?

Ketika ada yang penjual makanan semacam Gandos yang dipanggang dengan arang, langsung saya dan Mbak Wati bersegera menuntaskan rasa lapar. Panganan itu bahannya mungkin ketan dan kelapa yang diparut kemudian diberi taburan gula pasir. Rasanya bisa membuat saya melupakan sejenak Sibanteng yang bergejolak di dalam perut tadi.

Nama pastinya, nanti saya tanyakan kalau kembali ke sana. Serius, karena lapar kami lupa tanya panganan itu namanya apa.

Kalau boleh saran, udara yang dingin, pemandangan indah, dan bau belerang merupakan kombinasi pas yang setara dengan rasa lapar. Seandaianya saja kawasan Kawah Sikidang punya Pujasera yang menjajakan lebih banyak makanan berkearifan lokal di sekitar kawasan wisata, dikelola dengan tertib pasti makin ciamik, deh.

Maknyuk Di Desa Wisata Dieng Kulon. 

Saya selalu punya harapan lebih kalau berkunjung ke desa wisata. Bagi saya yang tinggal di perkotaan dan daerah pesisir, menemukan desa wisata di daerah pegunungan itu rasanya seperti menemukan Gandos di tengah-tengah lautan kentang dan cabe gendot.


Sebuah desa wisata harus punya sesuatu, jangan sekadar tempat nginep di rumah warga yang lokasinya jauh dari keriuhan suasana perkotaan.

Orang kota datang ke desa wisata karena ingin merasakan kehidupan di desa. Jadi, saat bis yang mengantarkan kami sampai di gerbang masuk Desa Wisata Dieng Kulon, pertanyaan yang langsung terbit adalah "kita mau ngapain, nih?"

Salah satu kerajinan tangan yang bisa menjadi salah satu atraksi atau kegiatan yang dilakukan ketika berkunjung ke Desa Wisata Dieng Kulon

Penginapan yang ada di Desa Wisata Dieng Kulon

Kalau sudah 'nginep di desa' kita pasti bukan hanya ingin merasakan suasana pedesaannya, tetapi juga ingin ikut melakukan apa yang dikerjakan masyarakat setempat, makan seperti orang desa, dan melakukan aktivitas rehat a la orang desa.

Di Desa Wisata Dieng Kulon, tersedia cukup banyak homestay yang merupakan rumah asli penduduk setempat, meskipun ada juga rumah-rumah yang pada akhirnya diperuntukkan sebagai homestay saja, bukan sebagai rumah tinggal warga setempat. Pilihan harga homestay-nya beragam, dari mulai harga 150ribuan hingga 300ribuan per malam.

Di bagian ujung desa, saya melihat sebuah perbukitan yang dijadikan ladang oleh warga. Menurut Pak Alif selaku ketua Pokdarwis setempat, pengunjung bisa melakukan trekking ke bukit tersebut dan memetik sayuran di sana. Atau ada juga aktivitas memetik buah Carica.

Di salah satu rumah warganya, ada sebuah rumah yang dijadikan workshop membuat batik kayu. Kami pun ikut menjajal membatik di atas kayu-kayu bekas dengan menggunakan alat lukis yang dibuat sendiri oleh pengagas batik kayu tersebut. Cukup banyak juga kerajinan tangan yang sudah dihasilkan dengan teknik batik kayu ini.

Sayangnya, memang tidak ada agenda untuk menginap di Desa Wisata Dieng Kulon hari itu. Namun, sudah cukup terbayang kelak akan melakukan apa jika berkesempatan untuk menginap di sana. Salah satunya, ingin memetik buah carica sendiri, kemudian melihat bagaimana buah tersebut diolah menjadi oleh-oleh yang branding-nya sangat melekat dengan Dieng.

Mampir Ke Jalatunda untuk Menitipkan Harapan, Meski Kisah Legenda Di Dalamnya Mematahkan Harapan.

Agenda famtrip hari pertama itu sebenarnya akan ditutup dengan acara berendam air hangat di D'Qiano. Namun, bis yang kami tumpangi berputar arah ketika sudah sampai di D'Qiano, dan menuju ke tujuan wisata lainnya. Kali itu, tempatnya kembali menggetarkan rasa penasaran saya akan pesona legenda Dataran Tinggi Dieng.

Bis yang kami tumpangi memasuki sebuah kawasan berbukit. Kabut nampak mulai turun sehingga area sekitar terasa berbalut aura mistis. Sebelum sampai di tujuan yang dimaksud, yaitu Sumur Jalatunda, kami harus menaiki anak tangga sambil menghitungnya karena begitu sampai di atas, kami akan ditanyai berapa jumlah anak tangga yang kami lewati. Jawaban yang benar harus berupa angka yang genap. Saya sendiri menghitung ada 88 anak tangga yang saya pijak.

Sampai di atas, ketika sebagian orang berdebat tentang berapa jumlah anak tangga yang dipijak, Pak Chaerudin langsung mengenalkan kepada saya kisah di balik Sumur Jalatunda tersebut. Sebenarnya, penampakannya buka semata-mata kayak sumur yang biasa kita lihat, lebih seperti sebuah rawa-rawa atau danau yang letaknya yang dikelilingi  oleh tebing yang dindingnya ditutupi tanaman.

Suasana sekitarnya tampak hijau, ditambah lagi warna air di rawa-rawa tersebut juga kehijauan. Dinding yang melingkupinya seperti sesosok wajah yang diam tanpa ekspresi. Pun ketika wajah itu dilempari batu oleh pengunjungnya, demi menitipkan harapan yang semoga dikabulkan.



Begitulah konon legenda yang dibangun di seputaran dinding Sumur Jalatunda. Apabila kita melemparkan batu dari seberang, dan batu itu berhasil menyentuh dindingnya, maka harapan yang diam-diam kita ucapkan dalam hati saat melempar akan terkabul.

Ada yang bilang, Sumur Jalatunda ini terkait dengan legenda Roro Jonggrang yang meminta Bandung Bondowoso membangun Sumur Jalatunda, namun kemudian Roro Jonggrang justru meminta Patih Gupolo menimbun sumur itu ketika Bandung Bondowoso sedang mengecek bagian dasarnya. Bubrah sudah harapan Bandung Bondowoso meminang Roro Jonggrang.

Legenda lainnya mengisahkan kalau Sumur Jalatunda merupakan jalan menuju dunia atau dimensi lain. Menurut riwayat pewayangan Mahabrata, Jalatunda disebut sebagai Sapta Pratala, yaitu bumi lapis tujuh, tempat tokoh-tokoh legenda seperti Antaboga, Nagagini dan Antareja berada.

Lepas dari legenda tersebut, Sumur Jalatunda yang berasal dari dua suku kata, yaitu Jala dan Tunda juga menitipkan sebuah wejangan bagi pengunjungnya : Jika seseorang punya cita-cita, jangan menundanya karena rasa malas atau menunggu kesempatan yang lain, karena waktu tidak akan terulang kembali.

Melarutkan Lelah Di Sumber Mata Air Panas D'Qiano 


Hari sudah mulai gelap ketika bis kami merapat di parkiran D'Qiano. Bayangan tentang air hangat yang bisa meredakan syaraf-syaraf yang kelelahan sudah membuat saya merasa relaks ketika sampai di halaman D'Qiano.

Kami pun dibagi kamar-kamar untuk beristirahat. Kamar yang ada di D'Qiano ini ukurannya relatif besar, terdiri dari dua tingkat, dan bisa ditempati satu keluarga yang terdiri dari empat orang, bahkan lebih. Menurut informasi, harga untuk kamar yang disewakan di sana adalah antara 500.000 sampai 800.000 rupiah.

Setelah masuk ke dalam kamar dan beristirahat sejenak, kami pun melanjutkan kegiatan dengan acara makan malam. Setelahnya, kami bersiap-siap dengan pakaian berendam masing-masing. Suhu air yang ada di kolam berendam D'Qiano sekitar 50 derajay celcius. Mengingat suhu udara di luar cukup dingin maka bayangan untuk segera nyebur dan merendam sungguh terasa menyenangkan. Di area berendam ada juga area Waterpark dan Playground, tapi karena sudah malam jadi kami memilih untuk berendam saja.

Sambil melarutkan rasa letih selama berjalan-jalan seharian, saya mulai memikirkan satu per satu kepingan legenda Tanah Dieng yang rasa-rasanya masih terlalu sedikit untuk bisa menyusun kepingan cerita yang lebih besar.

"Ini baru kepingan kecil saja," begitu batin saya. "rasanya ingin membaca semua kisahnya dengan lebih runtut, sambil mendatangi tempat-tempat penuh legenda itu satu per satu. Lalu menyusunnya, seperti menyusun kepingan pegunungan Dieng, yang konon pada masa purbakala merupakan gunung  raksasa.

Gunung raksasa tersebut kemudian mengalami letusan vulkanik yang dahsyat yang kemudian membentuk ratusan bahkan ribuan pegunungan atau perbukitan. Sumber mata air panas yang sedang saya nikmati kehangatannya merupakan satu bentuk bukti bahwa di dalam tanah Dieng masih ada aktivitas vulkanis. Adanya bekas letusan gunung kemudian membentuk kawah-kawah, dan telaga-telaga. Semuanya merupakan kepingan legenda yang menjadi pesona yang tidak pernah habis dikisahkan.

Keesokan harinya, saya masih akan menuntaskan rasa penasaran dengan menyambangi sebuah bekas kawah yang disihir menjadi padang savanna nan indah. Untuk bisa sampai ke sana, diam-diam istirahat yang cukup dan perut yang kenyang harus sudah disiapkan sejak malam.

Jadi, selamat istirahat rasa penasaran, besok saat matahari naik ke peraduan kita akan sama-sama menuntaskannya di Padang Savana Bukit Pangonan. 

12 comments:

  1. Selalu menarik, tak pernah berhenti membaca kisah-kisah tentang Dieng. Apalagi dibawain dgn mendayu santai spt bahasa khas nya seorang Nia..jd makin ehem nih.

    Keep it up

    ReplyDelete
  2. Kalo aku bisa berkali-kali jatuh cinta pada tempat yg berbeda, haha. Tempat yang indah, suasana yg syahdu. Yah, semudah itu aku jatuh cinta. Makanya aku masih pengen kesana lagi

    ReplyDelete
  3. Aiih, Mantap kali itu yang cerita Kawah Sikidang, mengalir begitu saja alurnya dan membuatku larut dala lara kekecewaan Pangeran Sikidang. hahaha..

    Oh, Ratu Shinta Dewi, mengapa engkau hanya memandang fisik.. tak tahu kah kau? Pangeran Sikidang rela membuat sumur untuk pemandian dengan tangannya sendiri. Hhihihihi

    ReplyDelete
  4. baru mampir ke blog ini dan langsung tau kalau gaya kepenulisannya mirip seorang ibu yang sedang menceritakan dongeng sebelum tidur kepada anaknya. menarik, membaca lagi tentang dieng dengan sudut pandang yang lain.

    ReplyDelete
  5. Biasanya baca cerita perjalanan ini dengan bumbu dongeng yg menyertai. Nice writing, jadi ngebayangin Pangeran Sikidang. Hihi

    ReplyDelete
  6. Wah keren ceritanya, jadi kangen ke Dieng lagi...

    ReplyDelete
  7. dieng cantik ya, 4x ke dieng tetep aja minta tambah, hehehe
    ceritanya juga oke.

    ReplyDelete
  8. Mbak nia, aku baru tau klo kawah sikidang ada legendanya begitu. Ratunya jahat bgt ya, gak suka tggl tolak aja,knp musti ngubur org idup2 dg dberi harapan dlu

    ReplyDelete
  9. Sukak sekali dgn alur penceritaannya mba. Berasa seperti sedang belajar sejarah melalui dongeng nan indah...membuat rasa oenasaran akan keindahan dieng ikut tergugah...

    ReplyDelete
  10. Semoga aku bisa membuktikan cerita mba nia ttg dieng ini..

    ReplyDelete
  11. Yang mirip gandos itu kalau di jatim nyebutnya rangin

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...