Thursday, August 15, 2019

Mendukung Tumbuh Kembang Anak Dengan Grow Happy Parenting

Mendukung Tumbuh Kembang Anak Dengan Grow Happy Parenting


Hari Rabu (14/8/2019) kemarin saya menghadiri workshop dan media gathering yang diadakan oleh Nestle Lactogrow. Workshop tersebut mengusung materi bertema "Dukung Kesehatan dan Kebahagiaan Anak dengan Pola Asuh Grow Happy", tema yang membuat saya kembali merenungkan arti kebahagiaan yang sesungguhnya dalam proses tumbuh kembang anak. Juga bagaimana peran saya sebagai orang tua agar mampu mendukung tumbuh kembang anak dengan "Grow Happy Parenting". Apa itu "Grow Happy Parenting?" Simak yuk, ceritanya.



Memasukkan banyak sekali metode, mulai dari Montesorri, Regio Emilia, Fitrah Based, Bermain Sensorik-Motorik, Piaget.

Salah satu penggalan kalimat yang paling membekas di ingatan saya setelah selesai mengikuti workshop tersebut adalah pertanyaan yang diajukan Psikolog Elizabeth Santosa, M.Psi, Psi, SFP, ACC. Sosok ibu yang aktif, cantik, dan cerdas yang siang itu mengenakan baju putih dan cardigan biru bertanya kepada peserta : "Pilih anak yang bahagia atau anak pintar?"

Beberapa tahun yang lalu, saya mungkin masih akan memilih untuk memiliki anak yang pintar. Namun, sepanjang perjalanan membersamai Si Sulung, yang kini memasuki fase tujuh tahun keduanya, saya sadar betul bahwa ternyata lebih menyenangkan memiliki anak yang happy.

Perubahan mindset itu jugalah yang kemudian saya terapkan saat membersamai anak kedua yang kini berusia empat tahun.

Saat anak kedua saya usianya belum genap satu tahun, saya sudah begitu bersemangat menyiapkan berbagai metode pembelajaran di rumah yang saya susun sendiri. Memasukkan banyak sekali metode, mulai dari Montesorri, Regio Emilia, Fitrah Based, Bermain Sensorik-Motorik, Piaget. Pokoknya hampir sebagian besar metode psikologi pendidikan yang saya pelajari saat dulu kuliah, saya jejalkan dalam kurikulum harian tersebut. Tiap minggu ada target yang ingin dicapai. Saya selalu ingin Tazka, anak kedua saya, jauh lebih pintar dan terdidik dibanding Kakaknya.

Tetapi momen itu berhenti di satu titik ketika saya mulai menyadari bahwa saya, dan terlebih lagi anaknya, tidak happy dalam menjalani rutinitas tersebut. Saya selalu terkukung jadwal harian, catatan perkembangan, dan banyak hal lainnya. Saya kehilangan esensi sesungguhnya dalam membersamai anak agar tumbuh kembangnya bahagia.

Suami awalnya senang dengan semua aktivitas yang saya lakukan tersebut. Terlebih dulu saya juga masih banyak berkecimpung di sebuah "Rumah Main Anak" jadi selaras dengan apa yang dikerjakan. Namun, lama-lama saya merasa berada di titik jenuh. Saya merasa selalu ingin memegang kendali terhadap semua proses tumbuh kembang anak. Lalu ketika ada yang salah atau tidak sesuai jadwal, saya merasa cemas berlebihan. Pak Suami juga mulai merasa saya 'lebay'.

Dulu, Tazka juga sempat didiagnosa speech delay. Sejak itu rasanya saya jadi semakin tertekan. Apalagi mengingat riwayat masa bayinya yang mengalami tongue tie. Duh, pokoknya semua saat itu kayak nggak fall into the right place. 

Akhirnya, saya mulai menghentikan semua kurikulum home schooling tersebut. Pelan-pelan saya mendalami concious parenting. Sempat beberapa kali mengikuti beberapa seminar juga, hingga pada akhirnya saya mulai menyadari bahwa, membesarkan anak yang bahagia jauh lebih penting ketimbang membesarkan anak yang pintar ini dan itu. Senada dengan materi yang saya terima di workshop kemarin.

Kebahagiaan Anak Di Masa Tumbuh Kembangnya Dimulai Dari Pencernaan Yang Sehat. 

Dokter Spesialis Anak, Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K)

Rasanya hal tersebut juga menjadi core of the core atau intinya inti, hehehe, dalam dunia pengobatan naturopathy. Saya setuju seratus persen dengan hal ini. Bahkan ada istilah dalam naturopathy bahwa lambung kita menjadi otak atas segala sistem yang berlangsung di dalam tubuh. 

Hadirnya Dokter Spesialis Anak, Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K) yang membawakan materi dengan ringan, diselingi juga dengan aktivitas mengisi kuis di mentimeter.com, semakin menyegarkan kembali ingatan saya mengenai bagaimana nutrisi dan zat gizi dalam makanan dapat memengaruhi kebahagiaan. Termasuk juga optimal atau tidaknya tumbuh kembang anak berkat gizi yang seimbang. 

"Pencernaan anak harus sehat dulu, supaya tumbuh kembangnya optimal."

Tentu saja kalimat tersebut juga berlaku bagi orang dewasa. Bayangkan saat kita susah BAB, pasti mood juga ikutan nggak asyik, kan. Ternyata kondisi emosional kita juga dipengaruhi oleh jenis makanan yang kita konsumsi. Salah satunya adalah  makanan yang mengandung probiotik. 

Di antara sekian banyak probiotik, Lactobacillus Reuteri merupakan salah satu jenis yang telah teruji secara klinis aman dan bermanfaat bagi tubuh. Probiotik dapat diperolah dari jenis-jenis makanan seperti susu, tempe, yoghurt, kefir, kimchi, kombucha, dan lain-lain. 

Kaitannya dengan mood, bakteri baik ini membantu menghasilkan vitamin B12. Nah, si vitamin B12 inilah yang nantinya bakal berperan dalam pembentukan sel darah merah, mengubah suasana hati menjadi lebih positif, dan bisa mengurangi kecemasan serta depresi. 

Mendukung Tumbuh Kembang Anak Dengan Grow Happy Parenting

Psikolog Elizabeth Santosa, M.Psi, Psi, SFP, ACC

Jika gizi dan nutrisi anak sudah mendukung kesehatan saluran pencernaan, selanjutnya tugas kita sebagai orang tua untuk membimbing anak untuk bahagia dan pandai bersyukur. 

Memang rasanya bicara saja mudah ya, tetapi kalau menerapkan secara rutin dalam keseharian, kebahagiaan bisa menjadi kebiasaan.

Caranya gimana?

Mba Lizzie, panggilan akrab Psikolog yang menjadi alumni Psikologi Universitas Ciputra ini, memberikan beberapa kiat yang bisa kita terapkan sehari-hari. 

Saat itu di acara workshop, peserta juga ikut mempraktekkannya dengan cara menyebutkan hal-hal apa yang bisa disyukuri selama tujuh hari terakhir. Peserta berpasangan, kemudian saling menyebutkan hal-hal yang bisa disyukuri. Salah satu peserta ada yang berhasil menyebutkan sampai 25 hal yang patut disyukuri.

Hal seperti itu juga bisa diajarkan kepada anak-anak kita. Salah satunya dengan mengajaknya untuk selalu melihat sesuatu dari sisi positif. Bukan berarti dalam hidup ini tidak ada hal yang negatif, namun bagaimana cara kita merespon suatu masalahlah yang akan menentukan siapa kita sesungguhnya.

Ada Enam Kiat yang diberikan Mbak Lizzie terkait Grow Happy Parenting


  1. Berikan makanan bergizi tepat waktu. Nah, ini penting banget buat anak-anak dan keluarga. Makanya di Jepang sampai ada budaya membuat Bento. Ini agar anak-anak dan keluarga bersemangat menikmati makanan yang sehat dan bernutrisi. Peserta pun praktek membuat 'meal preparation' dengan menggunakan Playdoh.  
  2. Yang kedua, beri anak waktu bermain dan eksplorasi. Duh, soal ini pingin banget bahas sedikit panjang terkait yang sudah saya ceritakan di atas. Tapi nanti deh, kapan-kapan bikin tulisan tersendiri mengenai hal itu. Intinya, saat ini saya merasa lebih nyaman dengan tidak membuat penjadwalan yang ketat untuk anak-anak dalam hal bermain dan eksplorasi. 
  3. Yang ketiga adalah mengajak anak untuk belajar mengekspresikan emosi positif. Salah satunya dengan membiasakan anak untuk mengenali hal-hal positif dan membahagiakan yang terjadi pada mereka. Jadi, saat bertemu anak-anak, kita bisa membiasakan bertanya : "Ada kabar bahagia apa hari ini?" 
  4. Cukupi waktu tidur. Ini juga penting banget. Sama saja seperti kita, orang tua, kalau pas kurang tidur, suasana hatinya jadi kurang oke dan gampang uring-uringan, kan. Nah, begitu juga anak-anak. Apalagi momen tidur adalah saat di mana syaraf-syaraf otak anak bertumbuh dan saling jalin-menjalin. 
  5. Berikan cinta tanpa syarat. Easy to say, tapi susah ya, nerapinnya. Sebagai orang tua pastinya kita selalu berpikir sudah melakukan hal tersebut. Padahal terkadang masih ada kan, keinginan seperti ini : "Kalau Kakak bisa dapet nilai ujian tertinggi, mau kasih hadiah, ah." Atau hal-hal yang kita lakukan terhadap anak, tetapi harus ada syaratnya dulu. Membuat anak-anak merasa diterima, dicintai, tanpa harus ada syarat khusus merupakan dasar agar meraka menjadi anak yang secure
  6. Yang terakhir adalah antusias saat mendengarkan. Ini super penting sih, kalau buat saya. Dan yang cukup membanggakan adalah, selama ini saya selalu berusaha keras agar menjadi pendengar yang baik untuk Si Sulung. Hal itu butuh latihan dan kerja keras, juga pembiasaan dari kecil. Hasilnya, saat ini Si Sulung nggak pernah sungkan cerita apa pun kepada saya. Semoga bisa menerapkan hal tersebut ke anak-anak yang lain. 

pemateri workshop grow happy parenting di delapan kota di Indonesia
Para pemateri workshop grow happy parenting yang diadakan di delapan kota di Indonesia.

Dukung Kesehatan dan Kebahagiaan Anak Dengan Pola Asuh Grow Happy Bersama Nestle Lactogrow
Para pemenang membuat meal preparation dengan playdoh berfoto bersama. Pic by : Sovialida

Emak-emak blogger Semarang yang semoga selalu bahagia dalam membersamai tumbuh kembang anak-anaknya.
Emak-emak blogger Semarang yang semoga selalu bahagia dalam membersamai tumbuh kembang anak-anaknya.Pic by : Sovialida


Selesai acara workshop, rasanya pikiran jadi kembali terbuka dan semangat tumbuh lagi untuk membersamai anak-anak di masa tumbuh kembangnya. Apalagi dengan tentengan goodie bag yang juga berisi Nestle Lactogrow yang bisa jadi oleh-oleh buat Si Kecil. Ngga sabar pingin segera bertemu dengannya dan bertanya : "Ada kabar bahagia apa hari ini?" Sambil membuatkannya secangkir susu hangat. 








No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...