Tata Laksana Tahun Ajaran Baru 2020 di Era New Normal

Tata Laksana Tahun Ajaran Baru 2020 di Era New Normal

Sudah siap memasuki era kenormalan baru? Atau justru malah merasa cemas keadaan justru akan memburuk? Tinggal di negara yang kebijakan untuk menyikapi pandemi covid-19 -nya masih oleng rasanya sudah nggak perlu memperdebatkan lagi ya istilah new normal atau herd immunity. Apa pun itu, kita kudu menjaga level kewaspadaan. Lalu bagaimana dengan proses pelaksanaan pendidikan di era new normal ini?




Bicara soal new normal, kini rasanya sudah berada di ambang cukuplah nggak mau memperdebatkan atau mempertentangkan lagi soal kesehatan dan faktor ekonomi.

Definisi New Normal


Di sisi lain, kalau ditarik ke belakang seandainya pemerintah lebih cepat menegakkan kebijakan juga rakyatnya disiplin, mungkin ya, mungkin kita tidak perlu mengesampingkan faktor kesehatan demi pertumbuhan ekonomi.

Kini, masa transisi sudah di depan mata. Mau nggak mau kita tetap kudu bergerak ke depan, bukan?

Wajah baru Dokter Reisa Broto Asmoro yang kini mewarnai layar kaca untuk memberikan informasi terkait Covid-19, semoga menjadi pertanda bahagia bagi bangsa kita menghadapi era kenormalan baru.

Doktet Reisa Broto Asmoro Jadi Jubir Penanganan Covid 19


Mari mikir yang deket-deket dulu aja. Bagaimana segala sesuatu akan berjalan di era kenormalan baru ini, misalnya dalam hal pendidikan anak-anak kita, kan udah mau tahun ajaran baru nih.

Tahun Ajaran Baru 2020 di Era New Normal



Kemarin akhirnya pejabat pemerintah  memberikan pedoman serta pegangan pada masyarakat mengenai tata laksana era new normal melalui webinar Penjelasan Pembelajaran Tahun Ajaran Baru 2020/2021 di akun youtube Kemendikbud RI.

Ketentuan Pembelajaran Di Era New Normal Zona Hijau



Ada beberapa poin nih, yang jadi perhatian kita semua dalam tata laksana pendidikan di era new normal : 


1. Keamanan peserta didik serta kualitas pendidikan. 


Dalam bidang pendidikan, menurut Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Samto Prawiro, kenormalan baru mencakup dua hal :

Pertama, layanan pendidikan yang berkualitas di setiap satuan pendidikan.

Kedua, keamanan peserta didik dan stakeholder seluruh sekolah dari penularan wabah Covid-19.

2. Tahun ajaran baru tidak bergeser jadi Januari 2021.


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menegaskan tahun ajaran baru 2020/2021 akan tetap dimulai pada tanggal 13 Juli 2020.

Meski dimulai tanggal 13 Juli, bukan berarti sekolah dibuka dan berjalan normal seperti dulu dengan sistem belajar tatap muka, ya.

3. Hanya Zona Hijau Yang Diizinkan Membuka Sekolah. 


Yang diizinkan memulai KBM dengan tatap muka hanya daerah berzona hijau, itu pun dengan protokol kesehatan yang ketat.

Yang diperbolehkan juga bertahap, mulai dari tingkat SMA, lanjut SMP, baru yang terakhir PAUD.

Sekolah-sekolah yang diizinkan membuka pembelajaran tatap muka adalah sekolah-sekolah di daerah/kabupaten/kota yang masuk zona hijau, yang di dalamnya terdapat 6% dari keseluruhan populasi peserta didik di Indonesia.

Daerah yang masuk zona hijau diperbolehkan membuka sekolah secara bertahap, mulai dari jenjang tertinggi, SMA/SMK/SMP dulu, 2 bulan kemudian bila masih dalam zona hijau boleh membuka SD, 2 bulan berikutnya bila masih zona hijau boleh membuka PAUD/TK.

4. Zona Kuning-Merah melakukan PJJ (Pengajaran Jarak Jauh)


Daerah yang masuk zona kuning, oranye dan merah, di dalamnya terdapat 94% dari seluruh populasi peserta didik di Indonesia, tidak diperbolehkan menyelenggarakan pembelajaran tatap muka.

Untuk daerah yang berada di zona kuning dan seterusnya, tahun ajaran baru tetap dimulai bulan Juli, namun dengan sistem pembelajaran daring atau luring.

Jadi, kebijakan BDR (Belajar Dari Rumah) masih akan terus berlanjut sampai daerah yang kita tinggali berada di zona hijau. Itu pun jika dapat terus bertahan di zona hijau dan tidak ada penambahan kasus.

Kasus Covid 19 di Korea Selatan saat new normal

Berkaca dengan kasus di Korea Selatan, meski sudah nol kasus dan membuka kembali 200 sekolahnya, namun ternyata malah muncul kasus baru lagi.

Di Jabar, Kang Emil justru menyarankan sekolah baru benar-benar dibuka di Januari 2021. Sebelum itu perlu ada uji coba pemberlakuan protokol kesehatan di sekolah.

Kira-kira udah siap belum sekolahnya? Karena kalau KBM dengan tatap muka diberlakukan kembali satu kelas hanya boleh ada maksimal 18 anak saja.

5. Pilot Project Protokol Kesehatan Di Sekolah. 


Dalam masa uji coba nanti tidak semua sekolah dilaksanakan new normal.

Sebagai pilot project dan percontohan hanya ada beberapa sekolah dari masing masing kabupaten kota yang telah diverifikasi oleh Tim Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan memenuhi aspek serta dijamin menjalankan protokol Covid-19.

6. Persetujuan Orangtua. 


Meski sekolah di zona hijau sudah dibuka dan mendapatkan persetujuan kepala daerah setempat, masih melihat juga, apa orangtuanya siap memberikan izin anak kembali ke sekolah dengan KBM temu muka. Kalau orangtua tidak mengizinkan, sekolah tetap harus mengakomodasi PJJ.

Apalagi komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan 80 persen sekolah sebagai penyelenggara pendidikan tidak siap dalam menjalankan pendidikan secara tatap muka langsung sesuai protokol kesehatan yang telah dibuat.

Dimulai dari fasilitas kesehatan di sekolah, jaminan sekolah selalu dalam kondisi steril, pengaturan format masuk atau tidaknya siswa di sekolah, hingga penanaman nilai budaya baru kepada siswa di masa new normal nanti.

Lalu bagaimana dengan kurikulum selama BDR ini? Bisakah Adaptif Dengan Sikon Pandemi Dan Tuntutan Zaman


Kalau persoalan protokol kesehatan untuk menyelenggarakan proses KBM tatap muka kemungkinan besar bisa diupayakan dan dibiasakan ke depannya.

Lalu bagaimana dengan kurikulum sekolah?

Dengan adanya pandemi Covid-19 ini, kurikulum pendidikan di tanah air seolah mendapat ujian.

Sudah sejak lama proses belajar di Indonesia berpusat pada guru di sekolah, kurikulum lama juga masih belum bisa merespon perubahan zaman dan era 4.0.

Sejak anjuran belajar dari rumah tiga bulan yang lalu, proses belajar masih mengadopsi cara lama yang di-online-kan, padahal bisa jadi cara lama tersebut menjadi kurang adaptif.

Banyak orangtua atau pendamping anak yang BDR mengeluhkan sistem pembelajaran yang ada. Tugas-tugas jadi menumpuk, dan beberapa anak turun motivasi belajarnya.

Melihat BDR masih akan terus berjalan hingga akhir tahun, maka sepertinya kita orangtua tetap harus bersiap membuat tatanan new normal life dalam berkegiatan di rumah, termasuk dalam hal pendidikan.

Beberapa ada yang mulai menimbang home schooling, meski itu juga pernah menjadi wacana saya untuk anak kedua, yang kemudian gagal di tengah jalan.

Berkaca dari hal itu, let's see kira-kira solusi apa yang bisa menjembatani kondisi masa pandemi ini.

Shifting Di Dunia Pendidikan


Dunia tengah memasuki era revolusi digital atau industrialisasi keempat. Penggunaan Internet of Things (IoT), big data, cloud database, blockchain, dan lain-lain akan mengubah pola kehidupan manusia, termasuk juga dalam hal pendidikan.

Sebelum pandemi saja, sudah sangat banyak kelas, sekolah, atau pelatihan online melalui internet yang mengakomodir berbagai macam skill.

Pelatihan atau berguru kepada expertise atau master bisa dilakukan tanpa harus menempuh ribuan kilometer dan tatap muka langsung.

Di tingkat internasional, ada Masterclass, dimana pembelajar, misalnya, bisa belajar tentang kepemimpinan dan kreativitas dari Anna Wintour, Editor-in-chiefnya Vogue.

Anna Wintour, Editor-in-chiefnya Vogue.
Salah satu share materi dari Anna Wintour dalam How To Be A Boss. 

Atau, seorang food enthusiast bisa menjadi murid dan masuk ke dapurnya Gordon Ramsay untuk mencuri skill masaknya.

Curi ilmu masak Gordon Ramsay


Dunia telah berubah, dulu mungkin tidak akan terbayangkan bahwa seorang anak yang ingin belajar gitar bisa langsung berguru pada Carlos Santana, atau si penyuka fotografi bisa ngobrol santai dengan Jimmy Chin untuk bertukar trik foto dokumentasi yang bisa memenangkan Oscar. 

Akses-akses untuk berguru secara akademis dengan mentor professor kelas dunia pun saat ini sudah semakin terbuka. Pembelajaran berkelas internasional kini bisa diakses dengan mudah hanya dengan menghadap layar.

Selain Masterclass, ada juga Udemy yang menjadi fasilitator untuk berbagai kompetensi di ranah formal maupun informal.

Di Indonesia, kita mengenal Ruang Guru yang bisa menggantikan guru bimbel datang ke rumah. Atau ada Bizlab di tingkat Kota Semarang yang juga berbagi kursus singkat secara online.


Promo colongan kelas online saya di bizlab ya, siapa tahu ada yang berminat belajar copywriting atau content marketing. Btw, itu flyer lama ya. Jadwal terbaru silakan intip akun IGnya. 


Kalau orangtua dan juga guru sebagai pendidik tidak segera meng-upgrade cara mendidik anak, maka bisa jadi peran kita di masa depan akan tergeser oleh robot atau perangkat ber-AI (artificial intelligence)

Seperti yang dikutipkan oleh Jack Ma,

Kutipan Jack Ma Dalam pertemuan World Economic Forum di Davos, Swiss, Jack Ma

Miliarder Jack Ma menilai, mengubah pendidikan menjadi salah satu cara agar generasi muda dapat bersaing dengan robot.

Hal tersebut terkait laporan McKinsey yang menyebutkan kalau robot dapat menggantikan sekitar 800 juta pekerjaan pada 2030. 

Dalam pertemuan World Economic Forum di Davos, Swiss, Jack Ma mengatakan :

Kita perlu mengajar anak kita soal nilai, kepercayaan, independent thinking, teamwork, peduli orang lain. Ini bagian yang peka yang tidak diajarkan," katanya. 

Oleh karena itu, menurut Jack Ma, anak perlu diajarkan olahraga, musik, seni. Hal ini membuat anak-anak berbeda dengan robot.

Saat ini, sebagai orang tua kita harus mulai menggeser-geser titik berdiri, untuk menata ulang standar baru dari hasil pembelajaran anak-anak.

Apakah masih akan berorientasi pada hasil, nilai, ranking, ataukah kita mulai mempertimbangkan standar baru yang di dalamnya mencakup kompetensi yang tidak akan dapat digantikan oleh robot : compassion dan integrity, misalnya.

Jadi setelah penerapan new normal di ranah pendidikan, pembukaan sekolah, kita masih berhadapan dengan peer sesungguhnya : menciptakan anak pembelajar yang mencintai proses dan mampu adaptif dengan perubahan zaman.

23 comments:

  1. New normal yang paling jadi PR itu soal belajar. Aku belum ada anak, tapi ada Keponakan. Dia tuh belum terbiasa sama belajar online. Karena bukan gurunya, aku kaya gak dipercaya gitu kan kalau ngajar. Jadi drama banget deh! Semoga kita tabah demi kebaikan bersama

    ReplyDelete
  2. Saya pun berpikirnya kalau pemerintah bisa lebih tegas dan bergerak cepat dalam menangani wabah, serta masyarakatnya patuh dengan semua peraturan yang ada, rasanya bisa mengurangi rasa was-was saat new normal. Setidaknya sebagai masyarakat, saya tidak mau menjadi bagian yang ignorant.

    ReplyDelete
  3. Akibat pandemi ini saya terpaksa menamatkan TK si bungsu dan memilih untuk mengajarkan di rumah aja.
    Soalnya gak ada kepastian kapan sekolah.
    Kalo pun udah harus sekolah, saya masih takut.

    ReplyDelete
  4. Sementara ini kayaknya aku harus ikut ruang guru deh. Biar anak juga semakin semangat buat belajar. Belum tahu juga kapan ya anak bisa belajar dan berharap segera pandemi ini berlalu

    ReplyDelete
  5. Karena anakku di zona hijau bentar lagi sekolah nih, tapi aku jadi degdegan nih. Semoga aja pandemi ini cepat selesai ya. Dan anak-anak bisa sekolah dengan tenang.

    ReplyDelete
  6. Duh agak deg-degan nih SMP mau dimulai bulan depan, semoga protokol kesehatan bisa dijalankan dengan baik dan tegas di sekolah..

    ReplyDelete
  7. Aku kira tahun ajaran baru itu bakalan mundur ke 2021 lho mbak karena ada pandemi covid-19. Tapi ternyata tetap tanggal 13 Juli ya. Adekku soalnya baru mau masuk SMK, jadi kakaknya ini harus cari tau berita-berita terbaru tentang sekolah di era new normal.

    ReplyDelete
  8. Aku siap sih mbak memasuki era New Normal demi pemulihan ekonomi tapi nggak siap ketemu orang-orang yang nggak peduli dengan protokol kesehatan huhu..

    ReplyDelete
  9. Mau nggak nau, siap nggak siap harus siap dengan new normal. Sekarang zamannya semua dipermudah, salah satunya belajar dari para profesional. Aksesnyapun semakin banyak dan terbuka, salah satunya melalui ruang guru, skill academy dll.

    ReplyDelete
  10. Pasti gak mudah banget ya mba dengan belajar online dari rumah. Memang bukan hanya orang tua yg harus upgrade cara mendidik, guru-guru juga perlu agar nyaman di dua pihak.

    ReplyDelete
  11. Aku suka banget closingnya :

    "... menciptakan anak pembelajar yang mencintai proses dan mampu adaptif dengan perubahan zaman!"

    Mari kita aminkan bersama, Aamiin...

    ReplyDelete
  12. Kata jackma, kita survive dari covid namanya beruntung

    Anakku ini tiba2 sd di tempat baru teman baru dll. Semangat wes, aku sendiri belum siap kalau kudu di rumah terus sebenarnya

    ReplyDelete
  13. Aku tmsk yg bersimpati dg teman2 pekerja yg ingin sekali tahun ajaran baru diundur ke januari. Soalnya metode belajar jarak jauh dan homeschooling tdk relevan ke berbagai kondisi. Sy sendiri brd di daerah orange dan sbg irt doang aja merasa kelabakan. Heu. Smg keadaan bs kembali normal lg ya

    ReplyDelete
  14. Banyak ruang untuk terus belajar ya Nia, jadi nggak harus di dalam ruang kelas. Apalagi untuk anak-anak, rasanya berat misalkan melepas mereka sekolah dalam kondisi pandemi seperti sekarang

    ReplyDelete
  15. Aku akan meng-highlight kalimat ini Mbak, kita mulai mempertimbangkan standar baru yang di dalamnya mencakup kompetensi yang tidak dapat digantikan oleh robot yaitu compassion and integrity. Jadi bahan evaluasi guna mendidik anakku.

    ReplyDelete
  16. Anak-anak yang mengalami masa pandemi ini, otomatis belajar dan beradaptasi dengan keadaan. Insya Allah mereka akan lebih kuat

    ReplyDelete
  17. kita semua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak ya mba..termasuk their best interests. Semoga pandemik ini segera berakhir untuk selamanya

    ReplyDelete
  18. Jadi ingin tau lebih lanjut nih gimana sistem pendidikan yang akan diterapkan untuk sesi tatap muka di sekolah. Sebenarnya masih khawatir juga ya melepas anak pergi ke sekolah. Semoga saja sekolah benar-benar disiplin mengawasi protokol kesehatan yang berlaku agar anak-anak aman dari virus.

    ReplyDelete
  19. Anak-anak di rumah sudah saya ajarin penerapan protokol kesehatan. Alhamdulillah pada manut tapi pada ga betah kalau Pake masker kelamaan

    ReplyDelete
  20. Mba Nia bikin kelas lagi dong heheheh, ya Allah semoga pandemi lekas berlalu
    era new normal kadang bikin ketar-ketir. Penangkal virusnya semoga lekas ketemu dan kita bebas lagi dan jalan itu nggak ketakutan. Alhamdulillah sekarang belajar bisa dari mana aja ya Mba Nia. Semangat kita

    ReplyDelete
  21. Senin kemarin anakku terima raport, sudah dikasih tau kalau tahun ajaran baru masuk tanggal 13 Juli, tapi masih online, untuk pembelajaran tatap muka kemungkinan besar baru 3 bulan lagi, itu pun dengan protokol kesehatan yang ketat.

    ReplyDelete
  22. aku masih galau
    antara sebenernya pasrah tapi juga was was, perlu ga sih new normal?

    ReplyDelete
  23. iya anakku masih belajar online nih dan kemungkinan masih di rumah aja setelah tahun ajaran baru. Kalau di pondok udah mau masuk.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.