It's Okay To Not Be Okay : Semua Orang Punya Luka Yang Ingin Disembuhkan

It's Okay To Not Be Okay : Semua Orang Punya Luka Yang Ingin Disembuhkan

It's okay to not be okay. Nggak apa-apa menampilkan sisi lemah, sakit, dan ketidaksempurnaanmu. Semua orang punya luka yang ingin disembuhkan.



Itulah premis yang coba diangkat drakor yang tayang perdana sejak 20 Juni lalu.
KDrama yang juga tayang di Netflix itu lumayanlah, bikin beberapa akhir pekan kemarin jadi ada yang ditungguin.

Meski ya, greget juga sama endingnya, dan beberapa bagian yang menyisakan plot holes. Soal ending, saya tipe yang nggak puas kalau endingnya cuma seru di bagian yang uwu-uwu doang.

Soalnya dari awal, udah mikir gini : males ah, lanjut nonton kalau ujung-ujungnya isu-isu kesehatan mental itu cuma bumbu buat kisah romance antara Mun-yeong dan Gang Tae.

Banyak bagian yang bikin penasaran kenapa ngga dibahas atau disinggung lagi, kayak di episode satu, waktu Mun-yeong bilang mau balik ke rumah sakit buat 'mengurus sesuatu', kemudian nggak lama dari itu dikabarkan pasien yang sempat mencekik Mun-yeong itu meninggal. Btw, itu dibunuh apa gimana? Sama siapa?

Dari ucapan Mun-yeong dan adegan setelahnya terkesan Mun-yeong yang mengeksekusinya. Tapi di episode-episode berikutnya, nggak disinggung lagi.

Plot holes terbesar juga adalah soal ibunya Mun-yeong.

Biar nggak spoiler, yaudah cukup dibahas seginilah ya, soal plot holes tadi. Kita positive thinking, mungkin writer-nim mau bikin season 2-nya. Ya kita tunggu ajalah. Kalau ternyata nggak, yaudah namanya aja film. Gausah dibikin pusing.

Dari semua isu kesehatan mental yang diangkat, saya paling penasaran sama kenapa Mun-yeong sebegitu dikuasainya oleh bayang-bayang ibunya yang sudah meninggal.

Soalnya scene Mun-yeong saat tidur dan ngalamin tindihan atau sleep paralysis dengan sosok ibunya melayang bak dementor itu horor banget.

Di pikiran saya ya, seseorang kalau kehilangan significant others, dan kebawa mimpi, pasti yang diharapkan dari mimpi itu kan, sosoknya tersenyum kek, meluk. Lhaa ini dihantui sampai ketindihan sosok ibu yang melayang-layang bak bayangan hitam.

Jadi bertanya-tanya, hubungan ibu-anak macam apa yang terjalin selama ibunya masih hidup?

Terus, setelah ibunya meninggal, Mun-yeong hidup dengan seorang ayah, yang mencoba membunuhnya karena khawatir anaknya akan berubah jadi monster seperti ibunya.

Hidup dengan kedua orangtua yang toxic gitu, tapi Mun-yeong bisa jadi penulis buku anak yang sukses.

Siapa orang-orang yang mendukungnya, siapa yang membantu Mun-yeong membentuk konsep dirinya. Penasaran banget.

Saya sempet berharap banyak sama CEO penerbitan, Tuan Lee yang diperanin Kim Joo Hun. Tapi bagian itu juga ngga digarap dengan 'dalem'. Gimana cara Mr. Lee, ngurus Mun-yeong yang temperamental dan agak psycho.

Padahal bakalan menarik kalau diangkat dikit-dikit. Cuma dapet clue, kalau Tuan Lee ini memanjakan Mun-yeong dengan fasilitas : nginep di hotel mewah, makan steik yang fancy, nyogok orang yang kena ulah Mun-yeong kalau pas 'psycho' nya muncul. Oh ya, juga ikut mengurus ayah Mun-yeong yang dirawat Di OK Physiciatry Hospital.

Tapi yaudahlah ya. Bukan saya writer-nim-nya.

Gang Tae, Sang Tae, dan Ku Mun Yeong bikin saya flashback dengan kehidupan zaman kuliah dan masa-masa belajar tentang kesehatan mental.

Bedanya, dulu cuma baca teorinya, jarang banget lihat secara langsung orang dengan gangguan mental. Beberapa kali sih, praktikum di RSJ dan sempat observasi juga. Tapi yaa, dulu kerangkanya 'belajar' jadi rasanya tuh beda.

Sekarang, setelah beneran hidup di alam nyata (dulu emang ngga, ya?) apalagi mengamati kehidupan orang-orang yang makin terekspose lewat media sosial, makin sadar di luar sana sebenarnya banyak orang yang "sedang sakit" tapi nggak menyadarinya. Pun ketika menonton drakor IOTNBO, makin bisa merefleksikan, luka-luka apa saja yang belum sembuh di diri sendiri.

Pantes dulu kuliah Psikologi itu suka dijulukinnya berobat jalan. Gitu aja masih nggak puas, nambah ambil master. Tapi, kok nggak sembuh-sembuh juga? Karena niatnya mempelajari orang lain, bukan diri sendiri.

Yang menarik dari nonton IOTNBO, kita bisa sama-sama belajar tentang manusia dan luka-lukanya. Kalau mau ditarik ke kehidupan nyata, ada kok orang macam Gang Tae dan Mun Yeong.

Banyaaak.

Mereka tampak normal di permukaan, tapi rapuh di dalam.

Mungkin di salah satu tokoh-tokoh di drakor It's Okay To Not Be Okay itu, ada luka yang relate dengan kita. Cus, kita ulik.


Kita mulai dari Ku Mun-yeong, dulu.

Anak tunggal perempuan dari seorang ibu penulis, dan ayah arsitek terkenal. Tinggal di kastil besar di tengah hutan. Nggak punya temen karena dianggap lunatic. Perilakunya juga aneh. Suka ngerobekin sayap kupu-kupu. Entah itu gimana nangkepin kupu-kupunya sampai banyak pisan.

Digambarkan berkepribadian anti sosial. Terobsesi sama benda tajam. Satu-satunya hal yang mencerahkan dari hidupnya adalah saat Mun-yeong dibacakan buku 'fairy tales' oleh ayahnya, dan itulah yang kemudian mendorongnya jadi penulis fairy tales. Fairy tales adalah 'safe haven' nya.





Tumbuh jadi wanita dewasa yang a bit psycho dan lunatic. Ketolong banget dia cantik, dan seorang penulis yang bisa menghidupkan sebuah perusahaan penerbitan. Kalau nggak? Masihkah Sang Lee, CEO penerbitan, mau capek-capek nyusul dia pas mutusin kabur dan pulang ke kastilnya di tengah hutan?

Motifnya apa? Karena Mun-yeong mesin penghasil uang? Ataukah Sang Lee emang beneran tulus berperan jadi Kakak, Ayah, sekaligus teman dekat lelaki, meski tampaknya tidak digambarkan adanya hubungan romantis antara keduanya.

Yang jelas, bagi Mun-yeong kehadiran Sang Lee yang tampaknya sudah memberikan segala 'kecukupan' secara material bagi Mun-yeong tetap dirasa kurang, hingga secara emosional ia masih merasa 'kosong' dan membutuhkan sesuatu untuk mengisi kekosongan itu.

Hingga takdir mempertemukan Mun-yeong dengan Gang Tae, seorang caregiver dari Kakak yang autis, sekaligus perawat di beberapa RSJ.

Temperamen Mun-yeong yang meledak-ledak, seperti bisa dijinakkan oleh sikap 'nurturing' Gang Tae. Hingga Mun-yeong sendiri terobsesi meminta Gang Tae untuk menjadi 'tuas pengamannya'

Di kehidupan nyata, yang relate dengan 'sakitnya' Mun-yeong bisa dilihat dari salah satu adegan ketika Mun-yeong berpakaian 'extra ordinary'. Seringkali orang yang merasa kurang sempurna di dalam, berusaha menutupi kekurangan tersebut dengan cara berpakaiannya.

Pernah ngerasa sedih dan kalian malah milih baju yang warnanya cerah. Itu cara seseorang 'melindungi dirinya' dari brutalnya penilaian sosial juga harapan dari orang lain yang normatif.

Sikap obsesif juga muncul karena merasa membutuhkan sesuatu yang bisa diandalkan, butuh kontrol hingga akhirnya obsesif mengontrol. Kadang, karena tidak ada yang bisa jadi tumpuan, seseorang berlagak kuat dan bersikap keras di luar.

Sekarang kita ke Gang Tae dulu.

Anak lelaki dari ibu tunggal, memiliki seorang kakak yang autis. Sejak kecil selalu diminta untuk menjaga kakaknya. Gang Tae kecil merasa ibunya tidak bisa 'fair' membagi kasih sayang. Ia merasa ibunya lebih memperhatikan Kakaknya, dan sebagian beban 'menjaga' saudara yang autis juga dibebankan kepada dirinya.

Ia sesungguhnya membutuhkan perhatian yang lebih dari ibunya, tetapi tidak mendapatkan apa yang diharapkannya. Alih-alih, ia justru menjadi pribadi yang 'nurturing', penuh perhatian dan terbiasa menjaga orang lain. Selalu mengesampingkan perasaan dan kebutuhannya.

Kok bisa ya?

Untuk tahu kalian pernah di posisi kayak gitu atau nggak, saya kasih perumpamaan sedikit.

Pernah lagi sakit kepala atau pegal di salah satu bagian badan, kemudian ketika sedang bersama seseorang kamu malah justru ingin memijat kepala orang lain?

Beberapa orang punya mekanisme pertahanan diri semacam itu.

Ketika ia butuh diperhatikan, ia justru berusaha menekan kebutuhan tersebut dengan memperhatikan orang lain. Ketika sakit, ia justru berusaha mengabaikan dan malah terdorong mengurus orang lain.

Di dunia pekerjaan, orang-orang macam itu, good at service excellence, tapi kalau udah capek, you'll get the worse of them. Mereka sering mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri, menekannya.

Kadang hanya butuh orang yang tepat sehingga, ia bisa melepaskan apa yang selama ini ditekannya dan tetap merasa nyaman.

Orang-orang kayak gitu takut merasa capek, takut lelah, kenapa? Ya, males berharap aja, udah capek dan lelah tapi nggak ada tempat buat bersandar.

Padahal kan, nggak apa-apa kalau sesekali ngerasa capeek dan lelah, ya. Penolakan dan pengabaian selalu jadi isu buat orang macam ini. Jadi mending nahan lelah dan keinginannya, deh, daripada ditolak dan diabaikan.

Kamu jangan gitu, ya...






Kebetulan yang apik, Gang Tae dipertemukan dengan Mun-yeong. Mun-yeong butuh kontrol dan kasih sayang, Gang Tae, di sisi lain dengan mekanisme pertahanan dirinya memberikan itu secara otomatis, sekaligus perlahan menyadari bahwa ia pun sebenarnya membutuhkan perhatian yang serupa.



Obsesifnya Mun-yeong teredam sikap Gang tae yang nurturing. Tetapi bukan drakor kalau semua dibikin segampang botol air mineral ketemu tutupnya.

Ceritanya sebenarnya ngga rumit-rumit amat, kita penonton digiring untuk greget kiranya keduanya bakal bisa bersatu apa nggak.

Tapi yang menarik buat saya justru gimana kedua tokoh ini menyembuhkan luka dan trauma masing-masing hingga minimal bisa hidup dengan standar 'normal' orang pada umumnya.

Tidak terkecuali juga dengan tokoh-tokoh lainnya, yang masing-masing punya masalah kejiwaan sendiri-sendiri. Termasuk, Sang Tae yang berusaha menghilangkan traumanya pada kupu-kupu.

Kalimat penutup yang menarik tapi sayangnya generik :

Tidak apa-apa ada luka (gambar kupu-kupu mutan) di balik dinding itu, yang penting bagaimana kita bisa menutupi luka itu dengan gambar lain yang lebih menarik.

Cuma orang yang tau trauma itu kayak apa yang bakal bisa relate dengan adegan ini. 

Dari semua adegan, scene ini yang bikin saya berhenti lama dan bercucuran keringat, eh. 


Sebagian premisnya sebenernya jadi agak bubar, padahal di awal udah menarik. Trauma harus dihadapi dari depan, bukan dari belakang. Seharusnya bukan pula ditutupi.

Akhir yang menarik, justru ketika kisah ini ditutup oleh kisah fairy tales-nya.


Kutipannya menarik, bisa diartikan sederhana. Kebahagiaan memang harus diupayakan, kadang bukan hilang, atau dicuri, kadang sesederhana karena kita mungkin lupa untuk mensyukuri hal-hal kecil yang dimiliki.

Oke, fine saya cabut kata-kata kalau nonton drakor itu unfaedah. Emang sih, time consuming, tapi nonton yang on going bisa jadi solusi. Dan ngga keberatan juga, kalau abis nonton bisa dapet bahan tulisan.

Semoga bermanfaat, kasih rekomendasi lagi apa yang kudu saya tonton dan bahas, ya.




2 comments:

  1. berada dalam lingkungan yang membolehkan kita "capek" itu sebuah priviledge

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, Indeed Nay.. . Kdg diperbolehkan untuk terlihat lemah dan nggak sempurna juga privilege

      Delete

Powered by Blogger.