Belajar Sejarah Di Museum Kereta Api Ambarawa Saat Era Adaptasi Kebiasaan Baru

Belajar Sejarah Di Museum Kereta Api Ambarawa Saat Era Adaptasi Kebiasaan Baru

Satu hal yang mungkin dirindukan oleh anak-anak di masa-masa sekolah dari rumah atau PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) adalah kesempatan untuk belajar di luar rumah, mengunjungi 'kelas-kelas dunia nyata'. Kali ini, saya akan bercerita tentang pengalaman mengajak anak-anak belajar sejarah di Museum Kereta Api Ambarawa saat era adaptasi kebiasaan baru.

Mengembalikan Semangat Mencintai Proses Belajar Dengan Berkunjung Ke Objek Wisata Edukasi.


Bun, aku mulai bosen sekolah daring. Nggak bisa ketemu langsung sama guru dan temen-temen, mataku juga capek liat layar terus. Aku pengin jalan-jalan ke toko buku, perpustakaan atau kemana gitu sambil belajar, boleh?

Itu tadi sekilas keluhan yang Kak Ezra belakangan sering utarakan. Selain tampaknya ia merasa jenuh, saya juga melihat kalau semangat belajarnya agak kendor.

Mungkin itu dampak dari sisi lain sekolah daring. Kegiatan belajar nggak melibatkan tatap muka sama guru, sehingga yang biasanya anak-anak bisa secara langsung menangkap energi seorang guru ketika menularkan semangat ‘menyukai proses menimba ilmu’, baik itu dari caranya mengajar atau berinteraksi langsung dengan siswa, kini terkendala PJJ.

Ada pelajaran-pelajaran tertentu yang memang akan menjadi menarik bagi anak-anak jika dibawakan secara langsung. Salah satunya adalah pelajaran sejarah.

Pelajaran sejarah yang buat sebagian anak-anak membosankan, bisa jadi menarik ketika dibawakan langsung oleh guru yang ekspresif atau pintar bercerita. Jika siswa berhasil diambil hatinya, mereka akan terpikat oleh sejarah, dan dengan sendirinya mau membaca atau mencari tahu lebih jauh lagi. Kalau guru berhasil sampai di tahap membuat anak-anak ‘mau membaca sendiri buku sejarah’ menurut saya itu sudah bagus banget. 

Anak-anak, apalagi usia SMP juga mengalami peer pressure. Semangat belajar bakal nular, kalau peer group-nya juga punya passion yang sama dalam suatu mata pelajaran tertentu. Anak-anak penyuka Bahasa Inggris misalnya, bakal ngumpul di English Club; anak-anak penyuka sains biasanya ngumpul di klub KIR (Karya Ilmiah Remaja). Belum pernah denger sih, Klub Sejarah di sekolah, tapi anak-anak penyuka sejarah biasanya hobi baca dan nonton film terkait sejarah.

Sikon saat ini memang tidak memungkinkan buat anak-anak untuk bertemu guru atau teman-temannya secara langsung sehingga mungkin langkah anak-anak untuk mencintai proses belajar karena tertular semangat dari guru atau teman sedikit terhambat.

Nah, momen seperti sekarang ini bisa jadi merupakan saatnya orangtua berperan untuk membuat anak menyukai ilmu pengetahuan dan proses belajar.

Saya ingat, salah satu cara yang manjur untuk membangkitkan rasa ingin tahu dan mau belajar sejarah biasanya muncul setiap kali pulang dari field trip ke museum atau jalan-jalan ke suatu tempat yang memiliki kisah sejarah.

Biasanya, setelah itu saya jadi cari-cari informasi tentang apa yang sempat saya lihat dari buku-buku sejarah.

Mungkin cara tersebut juga bakal berhasil kalau saya praktekkan ke anak-anak, khususnya Kak Ezra.

Saya pun mencoba mencari tahu, kira-kira bisa pergi kemana ya, untuk belajar sejarah dengan menyenangkan, di era adapatasi kebiasaan baru ini.

Hmmm, berkunjung ke museum yang berada di ruangan tertutup mungkin akan sedikit membosankan. Apalagi kalau di sana tidak ada pemandu yang bisa menemani dan bercerita dengan asyik.

Selain itu, saya juga masih ragu-ragu kalau harus berkunjung ke tempat yang berada di ruangan tertutup di era new normal ini. Mempertimbangkan apakah nanti sirkulasi udaranya di sana cukup baik atau tidak.

Saya pun teringat, beberapa waktu lalu anak-anak sempat membahas soal kerinduan mereka bepergian dengan kereta api yang belum terlaksana lantaran adanya pandemi.

Aha! Sepertinya berkunjung ke Museum Kereta Api di Ambarawa bakal bisa mengobati kerinduan anak-anak, nih.

Harapannya dengan berkunjung ke sana, anak-anak, khususnya Kak Ezra yang saat ini duduk di bangku SMP jadi terpantik rasa ingin tahunya tentang sejarah kereta api di Indonesia. Nanti kan, kalau tertarik pada satu hal, lama-lama jadi kayak getok tular, mencoba cari tahu yang lain, termasuk sejarah Indonesia.

Hal pertama yang saya lakukan sebelum berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa di era adaptasi kebiasaan baru ini adalah mencari tahu terlebih dahulu, apakah Museum Kereta Api Ambarawa sudah kembali membuka kunjungan untuk umum atau belum?

Selain itu, perlu juga memperkirakan untuk tempat wisata model museum seperti Museum Kereta Api Ambarawa, apakah akan menarik perhatian orang-orang untuk dikunjungi di era adaptasi kebiasaan baru seperti sekarang?

Menurut saya, hal tersebut penting sih, supaya bisa memprediksi apakah lokasi tersebut akan banyak dikunjungi orang atau tidak, sehingga bisa menjamin kita dapat melakukan physical distancing.

Jangan sampai kejadiannya seperti yang diceritakan ibu saya tentang sebuah objek wisata alam di Bandung; ketika semua orang sudah jenuh di rumah dan ingin menghabiskan waktu di alam. Eh, semua orang ternyata berpikiran yang sama, akibatnya sebuah hutan wisata di Kota Bandung dipenuhi pengunjung, bahkan untuk masuk ke areanya, antriannya sampai panjang mengular.

Kita perlu sedikit mempelajari motivasi orang-orang berkunjung ke sebuah tempat karena motivasi merupakan 'trigger' dari proses perjalanan wisata itu sendiri, meski motivasi seringkali tidak disadari secara penuh oleh wisatawan itu sendiri.

Berwisata ke alam bebas, bisa dikategorikan sebagai push factor yang bersifat sosial-psikologis, atau merupakan person specific motivation, dimana orang-orang berkunjung ke tempat wisata alam karena dorongan motif escape ( keluar dari rutinitas harian yang membuat penat) dan relaxation (bersantai dan menyegarkan diri kembali di alam bebas), sementara motivasi orang-orang berkunjung ke museum atau objek wisata edukasi adalah karena adanya faktor educational opportunity.

Educational opportunity, digambarkan sebagai sebuah motif yang mendorong seseorang untuk berkunjung ke suatu tempat karena rasa ingin tahu, ingin mengumpulkan ilmu pengetahuan secara langsung, dan aktualisasi diri. Berkunjung ke objek wisata edukasi juga menjadi salah satu cara menumbuhkan semangat menjalani proses belajar bagi anak-anak karena mereka dapat melihat secara langsung objek belajarnya.

Dari motif tersebut, saya memprediksi bahwa Museum Kereta Api Ambarawa mungkin tidak akan terlalu masif dikunjungi orang-orang pada hari-hari awal pembukaannya kembali di era adaptasi kebiasaaan baru.

Setelah mengumpulkan informasi-informasi dari laman media sosial milik Museum Kereta Api Ambarawa, saya pun sudah cukup merasa sreg untuk mengajak anak-anak berkunjung ke sana.

Waktu mengutarakan rencana tersebut, Kak Ezra menyambut dengan antusias, dia pun langsung berselancar di internet untuk mencari-cari informasi tentang sejarah kereta api di Indoesia.

Tuh kan, belum berangkat aja udah semangat. Binar di matanya membuat saya merasa sedikit lega kalau semangat belajar dan rasa ingin tahunya bisa kok, dibangkitkan kembali dengan berkunjung ke objek wisata edukasi.

Berkunjung Ke Museum Kereta Api Ambarawa di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

Protokol new normal untuk pengunjung Museum Kereta Api Ambarawa
Protokol new normal untuk pengunjung Museum Kereta Api Ambarawa. 


Baru menyusun rencana untuk ke Museum Kereta Api Ambarawa, eh gayung bersambut. Pada libur Idul Adha yang lalu, tepatnya pada hari Jumat (31/7/2020) Suami mendapatkan undangan untuk berkunjung ke sana untuk sebuah acara.

Kebetulan, beberapa hari sebelumnya, yaitu pada hari Selasa, (28/7/2020) Museum Kereta Api Ambarawa baru saja dibuka kembali bagi para wisatawan dengan menerapkan protokol adaptasi kebiasaan baru.

Saya dan anak-anak pun tidak melewatkan kesempatan untuk ikut berkunjung ke sana.

Selain menyiapkan perlengkapan untuk berwisata di era adapatasi kebiasaan baru, beberapa hari sebelumnya saya sudah mem-briefing anak-anak terlebih dahulu soal bagaimana kesepakatan-kesepakatan ketika berkunjung ke tempat wisata di era adaptasi kebiasaan baru ini.

Persiapan yang harus dilakukan saat mengajak anak berwisata di era new normal
Yang harus dilakukan sebelum berkunjung ke tempat wisata di era adaptasi kebiasaan baru
Piknik asik bareng anak tak khawatir covid

Mungkin kesepakatan tersebut juga bisa jadi kiat-kiat bagi para orangtua yang berencana untuk mengajak anak-anaknya berkunjung ke tempat wisata edukasi di era adaptasi kebiasaan baru ini.

Ini beberapa kiat mengajak anak-anak berkunjung ke objek wisata edukasi di era new normal :


1. Pastikan anak-anak dalam kondisi sehat dan tidak sedang dalam kondisi kurang fit, misalnya sedang dalam keadaan sakit ringan seperti flu, batuk, maupun sakit perut ringan, dan masuk angin.

Bahkan saya juga mengecek kondisi rongga mulut anak-anak, apakah lagi sariawan atau tidak. Sariawan bisa berarti kondisi tubuh sedang terlalu asam, dan sistem imunitasnya mungkin sedang kurang baik.

2. Tunda jadwal berpergian ke luar rumah apabila kondisi anak-anak sedang tidak fit. Masing-masing orangtua pastinya memiliki batasan dan definisi fit masing-masing.

3. Upayakan sebelum bepergian anak-anak sudah paham bagaimana cara menjaga imunitas tubuh dan mau melakukan beberapa hal terkait hal tersebut, misalnya mau mengonsumsi vitamin, mengonsumsi makanan sehat, dan minum air putih yang cukup.

4. Lakukan persiapan dengan matang sebelum berkunjung ke suatu tempat. Misalnya dengan mengumpulkan data terlebih dahulu atau lakukan riset kecil-kecilan, misalnya mengecek tempat yang akan dikunjungi dengan google maps, membaca di laman atau media sosial milik tempat yang akan dikunjungi untuk mencari tahu peraturan yang diberlakukan.

5. Briefing anak-anak dan tes kembali pengetahuan dan penerapannya terhadap protokol kesehatan dan kebersihan.

Misalnya, anak-anak sudah harus tahu bagaimana cara mencuci tangan yang baik dan benar, berapa lama waktunya, lalu apabila tidak ada air mengalir maka harus meggunakan hand sanitizer dengan kandungan alkohol di atas 70%.

Anak-anak harus sudah tahu cara batuk dan bersin yang benar. Tidak membuang ludah sembarang tempat. Anak juga tahu bagaimana prosedur pergi ke kamar kecil, makan dan minum di tempat umum.

Pastikan kembali apakah mereka paham bagaimana cara menjaga agar tidak tertular virus, misalnya dengan membuat jarak aman dengan orang lain, tidak menyentuh permukaan benda-benda, tidak menyentuh area wajah, dsb.

6. Buat kesepakatan bersama tentang tujuan bepergian ke suatu tempat, lama waktunya, dan sepakati batasan-batasan apa saja yang harus dipatuhi ketika pergi bersama-sama.

7. Anak-anak wajib membawa barang-barang pribadi terkait sanitasi dan perlindungan diri, mulai dari masker, hand sanitzer, tempat minum dan makan, peralatan shalat, baju ganti, dll. Mengenakan dengan benar masker. Untuk anak di bawah dua tahun, gunakan face shield.

Seperti yang sudah-sudah, jika pergi barengan sekeluarga, saya dan Pak Suami selalu berbagi tugas dengan anak-anak.

Kak Ezra, hari itu kami dapuk jadi manajer protokol kesehatan, tugasnya memastikan semua peserta menjalani protokol kesehatan, dan memastikan fasilitas terkait itu sudah aman, misalnya memastikan kita memakai masker, membawa masker cadangan di tas dan di mobil, membawa face shield untuk anak di bawah dua tahun, hand sanitizer, sabun cair untuk cuci tangan, bekal air minum, dll.

Kak Ezra juga bertugas untuk mengingatkan adiknya soal menjaga jarak, pakai masker, dan tidak menyentuh permukaan benda-benda, cuci tangan dengan air mengalir, tidak mengusap area wajah, dll.

Setelah semua bisa dipahami, kami pun berkemas dan beranjak dengan kendaraan pribadi dari Semarang sekitar pukul sebelas kurang.

Museum Kereta Api berada di pusat Kota Ambarawa, sebuah kota yang terletak di antara dua kota, yaitu Semarang dan Magelang, juga Semarang dan Salatiga. Jarak tempuhnya dari Kota Semarang berkisar antara satu jam-an.

Museum Kereta Api Ambarawa terletak di pusat Kota Ambarawa, tepatnya berada di Jl. Stasiun No. 1 Desa Panjang Kecamatan Ambarawa kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah.

Dari arah Semarang bawah bisa melewati tol Banyumanik, menuju tol Ungaran, lalu keluar dari tol Bawen. Akses menuju Museum Kereta Api Ambarawa tergolong mudah dan lancar.

Di perjalanan, sebagai kisah pembuka, saya menceritakan pada anak-anak bahwa Ambarawa merupakan kota yang memiliki nilai sejarah, pertama karena Ambarawa merupakan kota militer untuk pemerintah Hindia Belanda sejak zaman penjajahan. Makanya dibangun Benteng Willem I atau Benteng Pendem, kemudian ada kamp khusus anak dan perempuan Belanda pada masa penjajahan Jepang di Indonesia. Saya juga sedikit berkisah tentang pertempuran Ambarawa.

Di perjalanan, Kak Ezra mulai terpantik rasa ingin tahunya,

"Oh, jadi ini alasan kenapa di sini dibuat museum kereta api ya, di Ambarawa juga ada perkebunankah, Bun? Jadi orang Belanda harus angkut hasil bumi dari sini?"

Pertanyaan itu belum terjawab lantaran perhatian anak-anak keburu teralihkan saat kami sudah berbelok memasuki halaman parkir museum yang hari itu tampak lengang.

"Nanti kita lanjutkan ceritanya di dalam ya, Kak."

Langit Kota Ambarawa tampak berawan sehingga ketika kami memasuki halaman parkir museum, hawanya terasa adem dan cukup teduh.

Dari halaman parkir kami sudah disambut oleh penjaga yang juga mengingatkan kami untuk cuci tangan terlebih dahulu.


Tampak wastafel pencuci tangan sudah disiapkan di samping bangunan dekat dengan area pintu masuk.



Wastafel cuci tangan untuk ukuran anak-anak juga sudah disiapkan di sana, memudahkan anak-anak menjangkau keran dan sabun. Ada sekitar 8 buah wastafel baru yang disiapkan. Melihat hal tersebut, saya optimis pihak museum sudah benar-benar melakukan protokol kesehatan dan mempertimbangkan juga kenyamanan pengunjung anak-anak.

Sebelum masuk ke gerbang utama, kami juga dicek suhu tubuhnya terlebih dahulu oleh petugas.



Oh ya, untuk berkunjung ke sana, pengunjung disarankan untuk membeli tiketnya secara online, misalnya dengan menggunakan aplikasi Blibli. Jadi, saat tiba di museum kita tinggal memindai barcode saja.



Pembayaran juga diutamakan yang cashless, ya. Ini untuk meminimalisir kontak dengan petugas, juga nggak perlu pegang-pegang uang, kan jadinya. Di loket disiapkan pilihan pembayaran dengan OVO atau LinkAja.

Harga tiket untuk pengunjung dewasa sama dengan wisatawan mancanegara, yaitu sebesar Rp. 10.000, tarif untuk pelajar Rp. 5.000, begitu pun untuk anak-anak usia 3-12 tahun. Sedangkan anak-anak di bawah 3 tahun bebas biaya tiket.

Sebelum masuk, saya sempat berbincang-bincang dengan petugas terlebih dahulu. Menurut petugas, waktu pertama kali dibuka pada Selasa 28 Juli yang lalu, pengunjung Museum Kereta Api Ambarawa baru 22 orang saja. Padahal sebelum pandemi, apalagi libur Idul Adha begini, yang berkunjung bisa sampai ribuan. Tapi pengunjung sudah mulai meningkat, beberapa hari sebelum kami berkunjung sudah mencapai angka 200-an.

"Petugas juga belum sebanyak biasanya, tetapi ketika ada pengunjung, kami ya, ikut berkeliling bersama pengunjung, memastikan kalau mereka benar-benar mematuhi protokol kesehatan dan kebersihan," jelas petugas jaga yang cukup ramah tersebut.

Berdasarkan wawancara saya dengan Thanti Felisiani dan Ary Setyo Nugroho selaku pengelola museum, pembukaan Museum Kereta Api Ambarawa di minggu tersebut adalah circle pertama, sebagai percobaan selama 14 hari.

Museum Kereta Api Ambarawa yang sejak Desember 2018 lalu menjadi bagian dari pengelolaan PT KA Pariwisata tersebut sudah sangat matang dalam menyiapkan pembukaan kembali tempat wisatanya di era new normal. Misalnya, pintu masuk sekarang menggunakan electronic gate (e-gate) sehingga pengunjung tidak perlu kontak dengan petugas loket.

PT KA Pariwisata bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang sebelumnya juga telah melakukan sosialisasi protokol kesehatan masa adaptasi kebiasaan baru kepada para petugas di Museum Kereta Api Ambarawa.

Ketika berjalan berkeliling museum, sudut-sudut yang jauh dan terpencil pun tidak lupa diberi standing banner untuk mengingatkan pengunjung tentang protokol kesehatan. 


Standing banner berisi himbauan untuk menjaga protokol kesehatan dan kebersihan juga diletakkan di berbagai titik untuk mengingatkan pegunjung yang berjalan-jalan di area museum untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dan kebersihan.

"Kalau 14 hari ke depannya aman, tidak ada, misalnya cluster baru, maka akan dilanjutkan pembukaan circle kedua. Pengunjung juga dibatasi hanya 50 % dari kunjungan normal, dan jam bukanya mulai dari jam 9 sampai jam 4 sore, " tambah Thanti lagi. 

Jadi kunjungan kami hari itu, termasuknya pengunjung di circle pertama.

Dari pengalaman kami berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa, di bawah ini beberapa catatan penting dan nilai plus yang menurut kami bisa menjadi bahan pertimbangan untuk merekomendasikan lokasi wisata edukasi ini aman dan nyaman dikunjungi selama era adaptasi kebiasaan baru. Termasuk juga apabila dikunjungi oleh anak-anak.

Catatan tersebut kami buat berdasarkan kunjungan pada awal-awal pembukaan museum di era adaptasi kebiasaan baru. Jumlah pengunjung, situasi dan kondisi mungkin saja mengalami perubahan. Sebelum berkunjung ada baiknya cek ulang infomasi di Google atau laman media sosialnya, ya.



Kiat tambahan, datanglah ke museum pada pagi hari di hari kerja untuk meminimalisir bertemu dengan pengunjung lain. Di masa adapatasi kebiasaan baru ini, museum buka dari pukul 9 pagi dan tutup jam 4 sore.



Apabila membutuhkan pemandu untuk menemani selama kunjungan di museum, bisa mengontak nomer ponsel pemandu satu hari sebelum kunjungan. Pemandu wisata di sana resmi, sudah ditunjuk, dan juga dalam pengawasan kesehatan serta mematuhi protokol kesehatan. Kita juga bisa menghubungi pihak museum untuk di-booking-kan pemandu sehari sebelumnya.

Sementara itu, bagi yang kangen naik kereta, untuk Kereta Wisata Reguler maupun sewa juga akan dibatasi jumlah penumpangnya dengan kapasitas hanya 50% dari kapasitas normalnya, dari semula 40 orang per kereta menjadi 20 orang per kereta.

Jadi kan, ada 3 rangkaian kereta kayu yang disiapkan dengan kapasitas maksimal 116 orang, sehingga kalau ada pembatasan 50% berarti hanya bisa melayani kurang lebih 58 pengunjung saja.

Tapi pengoperasiannya memang belum mulai dijalankan kembali untuk sementara waktu, ya. Untuk mengobati kangen, bisa kok menjajal naik kereta kelincinya untuk berkeliling area museum dengan tarif 10.000 per orang.

Meski anak-anak belum bisa menjajal kereta, namun daya tarik dari kereta lokomotif uap dan diesel yang masih sangat terawat membuat anak-anak betah berkeliling area museum.

Area museum juga sangat luas, di pintu masuk anak-anak bisa melihat dokumentasi sejarah kereta api di Indonesia. Banyak juga area terbuka yang bisa dijelajahi anak-anak, untuk melihat bagaimana kereta beroperasi.

Museum Ambarawa atau Indonesian Railway Museum (IRM) ini menampilkan koleksi perekeretaapian dari masa Hindia Belanda hingga pra kemerdekaan RI yang meliputi sarana, prasarana dan perlengkapan administrasi.

Beberapa koleksi sarana perkeretaapian heritage seperti 26 Lokomotif Uap, 4 Lokomotif Diesel, 5 Kereta dan 6 Gerbong dari berbagai daerah.

Gerbong dari berbagai daerah yang masih terawat di museum. 

Anak-anak melihat bagaimana meja putar yang berfungsi untuk melangsir kereta api atau memutar arah lokomotif. 

Belum bisa naik kereta api beneran, bayangin dulu liat pemandangan dari jendela gerbong. 







Sekilas Cerita Sejarah tentang Museum Kereta Api Ambarawa. 




Sebelum pergi ke Museum Kereta Api Ambarawa, Kak Ezra menyiapkan beberapa daftar pertanyaan. Menurutnya cara tersebut dilakukan agar ia bisa mengumpulkan cerita-cerita yang menarik tentang Museum Kereta Api Ambarawa. 

Ini beberapa pertanyaan tersebut.

Pertama kali, jalur kereta api ada di Indonesia itu kapan dan dimana? 


Foto stasiun Ambarawa di tahun 1905 (sumber : KITLV)


Sejarah perkeretaapian di Indonesia dimulai ketika pencangkulan pertama jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta) di Desa Kemijen oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Mr. L.A.J Baron Sloet van de Beele tanggal 17 Juni 1864.

Pembangunan dilaksanakan oleh perusahaan swasta Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) menggunakan lebar sepur 1435 mm

Kenapa dibangun stasiun kereta di Ambarawa? 

Transportasi kereta api dinilai sebagai alat angkut yang efektif, sehinga NISM diberi tugas membangun jalan kereta api Samarang-Lempuyangan, Semarang-Tanggung dan Semarang-Kedungjati.

Dulunya, Ambarawa ini kan kota militer, kawasan sekitar juga berkembang menjadi daerah perkebunan, yang hasil panennya dikirim ke Belanda.

Agar mobilisasi tentara dan hasil perkebunan berjalan lancar, pemerintah kolonial di bawah Gubernur Jenderal Baron Sloet van de Beele pada saat itu menunjuk perusahaan kereta swasta Belanda Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) untuk membangun jalur kereta api baru yang menghubungkan Semarang dengan Benteng Willem I.

Terus kenapa Museum Kereta Api Indonesia adanya di Ambarawa? 

Museum ini dulunya adalah stasiun kereta api milik NIS yang bernama Willem I yang melayani jalur perjalanan antara Yogyakarta dan Kedungjati.

Setelah kemerdekaan, seluruh aset NIS dinasionalisasi sehingga Stasiun Willem I pengelolaannya diambil alih oleh DKA (Djawatan Kereta Api) dan stasiun ini berubah nama menjadi Stasiun Kereta Api Ambarawa.

Pada awal pengoperasiannya, Stasiun Willem I digunakan sebagai sarana pengangkutan komoditas ekspor dan transportasi militer di sekitar Jawa Tengah.

Setelah di non aktifkan tahun 1976, karena sempat ada bencana letusan Merapi, lokomotifnya makin tua, dan ada alternatif angkutan lain, Stasiun Ambarawa dicanangkan sebagai Museum Kereta Api oleh Gubernur Jawa Tengah pada saat itu, Supardjo Rustam.

Hal itu bertujuan menyelamatkan peninggalan lokomotif uap serta sebagai salah satu daya tarik wisata di Jawa Tengah.

Stasiun Ambarawa dipilih karena Ambarawa memiliki latar belakang historis yang kuat dalam perjuangan kemerdekaan, yaitu Pertempuran Ambarawa, selain itu Stasiun Ambarawa pada saat itu masih menyimpan teknologi kuno yang masih bisa dioperasikan

Itu tadi beberapa pertanyaan yang berhasil terjawab ketika kami berjalan-jalan di seputar museum sambil mengamati gerbong-gerbong lokomotif yang menjadi peninggalan di masa lalu.

Kak Ezra juga penasaran dengan jalur kereta Api bergerigi yang ada di Ambarawa, yang membuatnya jadi ingin berjalan-jalan di area rel untuk melihat bentuknya seperti apa.



Mungkin tidak semua pertanyaaan Kak Ezra terjawab dengan berkunjung ke museum tersebut, tetapi setidaknya, kunjungannya ke sana telah membangkitkan semangat dan keinginannya untuk mulai membaca buku-buku Sejarah. Selain itu, muncul juga rasa penasaran dan ingin tahu untuk mempelajari sejarah Indonesia. 

Ternyata mengunjungi objek wisata edukasi sebagai sarana untuk belajar di era adaptasi kebiasaan baru ini masih sangat memunginkan untuk dilakukan dengan syarat, harus memerhatikan dan taat dengan protokol kesehatan dan kebersihan.

Semoga cerita ini bermanfaat, ya. 

Bahan Bacaan :

Majalah Kereta Api, November 2007 Special Edition
Sosiologi Pariwisata : I Gde Pitana dan Putu G. Gayatri
Anatomi Pariwisata :Soekadijo. GPU 





No comments

Powered by Blogger.