Belajar Tentang Kesehatan Mental Dari Drama Korea

Belajar Tentang Kesehatan Mental Dari Drama Korea

Belakangan ini sepertinya mengangkat isu-isu kesehatan mental menjadi tema cerita di drama Korea lumayan marak ya. Seperti salah satu drakor berjudul It's Okay To Be Not Okay yang juga sudah saya ulas di blog. Selain drakor yang dibintangi oleh aktor berbayaran termahal tadi, masih ada juga beberapa drakor lainnya yang bisa kita tonton untuk belajar tentang kesehatan mental. Tapi kira-kira seakurat apa sih, pembahasan dari sisi kesehatan mentalnya. Simak yuk, sedikit ulasan di bawah.

Selain IONTBO yang bahas isu kesehatan mental, ada beberapa drama Korea lain yang juga membahas isu yang sama. Misalnya saja Sky Castle yang bahas tentang Anxiety dan Burnout. Atau bahas tentang Dissociative Identity Disorder di drakor Kill Me Heal Me.

Isu kesehatan mental sepertinya memang sedang hangat dibicarakan, ngga cuma di drakor tapi juga di ranah media sosial. Meski begitu ada beberapa hal miris yang menjadi bahan curhatan saya dan teman-teman yang berkecimpung di dunia psikologi, khususnya area healing.

Beberapa hal, sempat jadi kekhwatiran kami karena contoh-contoh di bawah ini :

1. Stop Casually Using The Words : Depressed, OCD or Bipolar .


Saat ini, ada beberapa kalangan yang dengan ringan melabeli dirinya mengalami gangguan kesehatan mental. Entah dengan maksud mencari atensi atau malah pertolongan, atau sekadar ketidaktahuan sehingga asal saja melabeli sebuah spektrum emosi sebagai bentuk gangguan.

Contohnya nih, waktu ada yang bilang: duuh, rasanya depresi banget deh, dari kemaren aku nggak berhasil nemuin dosen buat bimbingan skripsi. Sekalinya berhasil, eh draft ku dicoretin semua. Aku bener-bener depresi ngejalanin skripsi ini. 

Bisakah mengkategorikan hal di atas sebagai depresi, bagaimanakah depresi yang sebenarnya, itu? Ilustrasi di bawah ini mungkin akan membantu teman-teman untuk memahami.




Depresi sangat berbeda dengan perasaan sedih dan kecewa. Kita bisa mengalami kesedihan, tetapi sifatnya temporer, paling lama dua mingguan. Beda dengan depresi yang berlangsung lama, bisa bulanan bahkan setiap hari spektrum perasaannya gelap terus dan bisa melumpuhkan fungsi sosial sehari-harinya.

Begitu pun dengan orang yang suka kebersihan, harus banget apa-apa baru dan simetris, mereka ya ngga, se-OCD itu. Memang paling enak buat becandaan. Ih kamu, OCD pisan. Tapi aslinya kalau kalian bertemu orang yang bakal pingsan atau sakit kepala akut untuk memastikan berulang kali apakah mobilnya sudah dikunci atau belum, kalian bakal tau bedanya.

Hal tersebut juga berlaku buat orang yang moody-an yah. Bipolar itu bukan sekadar mood swings. Tapi perubahan yang drastis bahkan sampai tahap kejernihan berpikirnya dan juga level energinya, dari yang semangat berapi-api, terus tiba-tiba saja bisa kayak pel basah yang teronggok gitu aja. Mungkin ini nggak pas juga gambarinnya, but I've tried untuk ngejelasin dengan bahasa seawam dan gampang dibayangin.

Eh terus kenapa tadi mau bahas drama Korea kok jadi bahas beginian? Karena nyambung. Kita ke nomer dua, ya.

2. Di drama Korea sering digambarin karakter-karakter dengan gangguan mental, paling sering yang suka disebut-sebut adalah kepribadian antisosial.


Nah, kata 'ansos' juga gampang banget dijadiin bahan labeling ke orang-orang. Sama kaya masa-masa waktu kata 'autis' digunakan untuk melabeli orang introvert atau kutu buku. Sekarang ini yang popular, "ah, Lu ansos, ah,"

Kenapa melabeli orang ansos lebih bahaya daripada orang pansos? Eh, apa kebalik yah? Lebih bahaya yang pansos (sarkas mode on)

Saya, eh nggak saya doang, tapi kami, takutnya orang-orang misleading dengan definisi kepribadian anti sosial.




Bagi yang udah nonton drakor Itaewon Class dan IONTBO yang saya sebut di atas (males nulis panjang) coba mari sama-sama kita renungkan apakah tokoh Jo Yi-seo di Itaewon Class berkepribadian antisosial?

Dia punya hubungan yang baik dengan ibunya, empatinya cukup baik juga, dan by the way ini female lead yang jadi karater favorit saya di drama Korea. Karena cantiknya manusiawi, gayanya asyik, ambisnya juga elegan nggak pansos gitu.

Dan so far, Itaewon Class ini masih jadi drakor favorit saya untuk tahun ini.

Sementara untuk aktor drakor favorit tahun ini jatuh ke...jreng, jreng, jreng.

Monmaap Penyegaran Blog dulu


Yabes yang diminta ((aktor)) drakor favorit kan yaa? Ngga tau sejak drakor jadul What Happened in Bali itu, sampe sekarang sukanya dia. 

Lanjoot...

Dan apakah Ku Mun Yeong dalam drama IONTBO ini juga antisosial atau psikopat?

Menarik lho buat dibahas di kelas karena ada beberapa latar belakang di masa kecilnya yang bisa membuat penegakan diagnosis ke arah psikopat.

Eh, tapi psikopat kok, cantik? Terus emang harus ada kaitannya sama kondisi fisik dan perilaku yang tampak di luar?

Kita lanjut bahas di poin nomer 3 yah.



Lagi-lagi kita nggak bisa dengan santai melabeli seorang karena kita perlu tahu dulu latar belakangnya, kisah-kisah masa kecilnya, pola asuhnya gimana.

Kepribadian seseorang umumnya ditentukan dari perpaduan antara emosi, pola pikir, dan perilakunya. Untuk tahu kenapa seseorang menderita gangguan kepribadian antisosial juga ngga gampang. Soalnya penyebab gangguan tersebut sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti faktor genetik dan interaksi dalam lingkungan, serta pola asuh yang salah.



3. Lunturnya Empati. 


Kalau yang dua sebelumnya tadi kita bahas labeling orang yang normal dibikin seolah atau ngaku punya gangguan. Di poin ini, kekhawatiran kami adalah soal empati yang hilang dari ranah kehidupan sosial kita.

Dimana orang-orang yang sebenarnya memang mengidap gangguan kesehatan mental justru tidak mendapat 'pelukan kesembuhan' eh, boro-boro pelukan deh, yang ada justru hal-hal ini :

Kalau cuma dikucilkan itu wajar. Umumnya yang dikucilkan adalah tipe yang memang secara fisik terlihat aneh, gila, kotor, nggak cantik atau ganteng.

Sorry, but the truth is hurt. 

Makanya tadi di atas saya kasih trigger : cantik tapi psikopat?

Jelas kalau yang tampilan fisiknya aneh, kita pasti menghindari orang tersebut kan. Coba ada orang gila di jalan, nggak kalian samperin kan?

Tapi gimana kalau ada orang yang penampilannya menarik tapi sebenarnya 'sakit'? Sulit kan untuk mengetahuinya.



Kita pastinya mikir, yang penting nggak ngerugiin kita. Tapi jarang berpikir, jangan-jangan sikap atau kata-kata kita bikin dia makin merasa buruk dengan dirinya sendiri.



Orang-orang dengan gangguan kesehatan mental tapi ngga kelihatan ini sebenarnya kasihan. Mereka struggle sendirian dan lingkungan sering banget nggak empati.

Tanpa sadar, orang-orang udah ngelakuin body shamming. Tanpa sadar bikin harinya tambah buruk. Tanpa sadar bikin spektrum perasaannya bergeser drastis.

Dan apa yang terjadi saat orang-orang (tiba-tiba) berempati dan menolong? Mereka membagikan sikap empatinya itu ke ranah media sosial.

Jadi mau kasih pertolongan atau cari panggung?

Sekalinya bisa empati, eh dijadiin konten.

#sedihkamituh


No comments

Powered by Blogger.