Seimbangkan Hidup, Hindari Stres Dan Serangan Jantung.

Seimbangkan Hidup, Hindari Stres Dan Serangan Jantung.

Peran seorang ibu di masa pandemi saat ini yang otomatis berlipat ganda; menjadi guru untuk anak-anak di rumah; tetap bekerja dari rumah juga, rentan mengalami stres. Kondisi tersebut berpeluang memunculkan gangguan kesehatan yang lebih serius, misalnya saja serangan jantung. Ini beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menurunkan tingkat stres.


Rentan Stres Pada Ibu Yang Bisa Memicu Serangan Jantung


Di suatu malam, saya pernah tiba-tiba terbangun karena mengalami kesemutan di bagian kepala. Sadar kalau itu gejala yang nggak baik, meski kesemutannya hanya sesaat, saya langsung mencoba mengevaluasi kondisi kesehatan fisik dan psikis belakangan ini.

Kenapa gejala kesemutan di kepala bikin cemas? Karena itu bisa jadi pertanda kita mengalami stres.

Gejala yang disebabkan oleh stres akut terjadi karena meningkatnya hormon stres atau kortisol secara secara mendadak dan respons saraf yang berlebihan di berbagai bagian tubuh, salah satunya kulit kepala. Itulah mengapa stres bisa menyebabkan rasa kesemutan di kepala.

Tapi stres saya rasanya nggak akut-akut amat juga, jadi masih bertanya-tanya, kesemutannya karena apa. Saya mencoba mencari tahu, dan ada yang menyebutkan kalau kesemutan di kepala juga tanda seseorang mengalami Stroke ringan atau transient ischemic attack (TIA).

Baca itu jadi semakin over thinking, karena TIA merupakan pertanda awal bahwa seseorang akan terserang stroke.

Gejala stroke ringan mirip dengan stroke, bedanya, gejala stroke terjadi hanya sementara dan biasanya hilang dalam 10–20 menit.

Adapun ciri-ciri stroke ringan, meliputi kepala kesemutan, tiba-tiba susah berjalan atau kesulitan menjaga keseimbangan, mendadak bingung atau tidak mengerti perkataan yang mudah, bicara cadel, mendadak pandangan berubah, dan kesemutan di salah satu sisi tubuh.

Untungnya kesemutan di kepala yang saya alami tidak separah seperti yang disebutkan, tapi tetap saja saya cemas dengan kondisi fisik dan psikis di masa pandemi ini. Saya masih kurang aktivitas fisik, dan beberapa kali merasa cemas berlebihan.

Bicara soal penyakit jantung, pas banget, tanggal 29 September 2020 besok akan diperingati sebagai Hari Jantung Sedunia. Tema tahun ini fokus pada pentingnya untuk rutin mengecek kesehatan kardio vaskular. Udah pernah kepikiran untuk melakukannya?

Apalagi nih, penyakit jantung sendiri masih menduduki posisi teratas sebagai penyakit paling mematikan di Indonesia,setelah serangan stroke. Kayak sebelas dua belas ya, serangan jantung dan stroke ini. Pemicunya pun bisa dibilang sama-sama bisa disebabkan oleh stres.

Stres sebenarnya respon alamiah untuk menghadapi tekanan yang ngga bisa sepenuhnya ditanggung oleh tubuh dan pikiran kita. Salah satu yang paling gampang diraba dari stres adalah kenaikan tekanan darah, jadi sensitif gampang banget meledak-ledak emosinya.

Dan tensi darah yang naik, apalagi terus-terusan bisa bikin kepala dan leher jadi tegang. Kondisi ini nggak ideal buat jantung karena otomatis peredaran darah dari dan ke jantung juga terganggu.

Tadi kenapa saya bilang peran ibu di masa-masa seperti sekarang rentan stres, karena bisa jadi ada beberapa hal yang tidak bisa ditangani tubuh dan pikiran karena sudah melebihi kapasitas.

Seimbangkan Hidup, Hindari Stres Dan Serangan Jantung. 


Setelah peristiwa kesemutan itu, saya mencoba melakukan beberapa hal agar hidup lebih seimbang, stres menurun, dan terhindar dari serangan jantung.



1. Make myself happy. 




Terapi bahagia saya adalah menghabiskan waktu berkualitas dengan keluarga di alam terbuka. Meski masih terbatas, saya dan keluarga mencari tempat yang aman untuk meluangkan kebersamaan.

2. Makan sehat. 





Saya masih mengandalkan hal ini karena bagaimana pun, tubuh dan pikiran saling terkait. Asupan yang sehat, selain bikin tubuh sehat juga membuat pikiran lebih positif.

3. Kurangi mager. 




Nggak bisa dipungkiri sih, dulu sebelum pandemi saya rajin ke pasar. Jalan kaki deket, pulangnya bawa tentengan belanjaan. Badan keringetan. Sekarang, belanja pun online, badan jadi kurang gerak.

Mengatasi itu ada beberapa hal yang saya lakukan, salah satunya tetep aktif gerak meski di rumah.

4. Talk to a professional friends. 



Beruntung di circle saya, ada temen-temen Psikolog dan Psikiater yang bisa saya mintai konseling gratis, hehehe. Biasanya saya lakukan kalau tekanan stres sudah ngga terbendung.

Tugas Psikolog membantu mengurai 'benang kusut' di otak. Tapi soal nanti mau dirajut jadi apa benangnya, dikembalikan ke kita sendiri.

Punya mentor kesehatan fisik dan psikis di masa pandemi ini penting banget. Dan kami saling me-mentoring dalam hal ini.

5. Meditasi Mindfulness. 



Ada yang tanya, kan sudah sholat, meditasi masih perlu?

Meditasi mindfulness fokusnya menarik kesadaran tentang diri dan melakukan penerimaan-penerimaan. Sholat sifatnya vertical. Meditasi mindfulness menarik masuk ke dalam diri sendiri.

Banyak stres yang muncul karena kita sulit menerima suatu kondisi, terutama yang sifatnya melibatkan kontrol eksternal. Padahal nrimo ing pandum, suatu bentuk berserah diri, menerima diri sendiri sangat bisa menurunkan kadar stres kita.

Yuk, coba dulu beberapa hal di atas, semoga kita semua bisa me-menej stres dan terhindar dari serangan jantung. Tanda awal serangan jantung #1. Kelelahan yang tidak biasa Gejala ini hampir dirasakan 70% perempuan sebelum mengalami serangan jantung. Kelelahan yang tidak biasa menjadi salah satu gejala utama yang menunjukkan serangan jantung yang akan datang.

No comments

Powered by Blogger.