Ruang kosong antara pandemi dan teknologi adalah bersyukur

Sesuatu yang jarang bisa kita syukuri di masa pandemi ini : rezeki kita datang lebih cepat dibandingkan ketika kita menjemputnya. Kalau nggak percaya coba amati isi piring kita hari ini. Sembari makan siang, saya mengamati isi piring saya. Ada wortel dari Brastagi, kacang polong impor dari Australia, dan ada daging sapi dari Boyolali. Semua hadir dengan caranya sendiri-sendiri, ditakdirkan jadi menu makan siang saya hari ini. Coba bayangkan jika saya yang harus menjemput mereka satu per satu. Ribetnya. Harus bikin paspor dan visa segala cuma untuk menikmati sebiji kacang polong. Selain harus banyak-banyak bersyukur kepadaNya, pandemi juga mengajari saya untuk memeluk erat teknologi. 


Dulu, di awal tahun milenial, saya baru mau masuk kuliah kalau nggak salah, yang saya bayangkan soal era milenial adalah mobil terbang. Iya, nggak bakal ada lagi yang namanya kemacetan karena semua mobil bisa melayang di udara. 

Tapi begitu terompet menyambut awal tahun 2000 dibunyikan, saya nggak melihat ada tanda-tanda mobil-mobil akan berterbangan. Pikir saya, kalau perkembangan teknologi tidak terlihat dalam bentuk masif yang besar, mungkin akan dimulai dari yang kecil-kecil. 

Yang mulai terlihat dan dirasakan perkembangannya adalah teknologi telepon genggam. Awalnya telepon genggam adalah benda yang hanya berfungsi sebagai alat komunikasi. Kelebihannya saat itu, bisa dibawa-bawa. Fiturnya pun masih sangat simpel. 

Jika hidup sebagai generasi milenial seperti saya, maka bakal merasakan benar bagaimana sebuah telepon genggam bermetamorfosis, dari ulat menjadi kupu-kupu yang bisa melakukan nyaris banyak hal. 

Kalau melihat ponsel pintar saya hari ini, dan mengingat kembali bayangan saya tentang tahun milenial, pikiran saya waktu itu kayaknya memang kejauhan. Kita memang belum butuh-butuh amat mobil yang bisa terbang. 

Teknologi justru menyasar perubahan yang sangat fundamental : gaya hidup. 

Gaya hidup kita mengalami revolusi sejak ponsel pintar bisa multitasking. Dari yang tadinya cuma bisa buat ngobrol, kini ponsel pintar juga bisa menyajikan makanan langsung di depan pintu rumah. 

Sebagai digital imigran yang pikiran tentang kemajuan teknologinya kejauhan, awalnya saya masih gagap dengan bagaimana ponsel pintar mempersingkat beberapa proses. Misalnya ketika belanja baju. 

Dulu prosesnya dimulai dari janjian dengan sahabat mau berkunjung ke mal mana, gerai apa. Kemudian setelah sampai di gerai, berjalan berputar-putar dulu, memilih dan memegang baju yang menarik perhatian dulu, mencoba, kemudian melepasnya lagi jika tidak sesuai dengan ukuran tubuh. Kemudian membandingkan harga, baru kemudian, setelah 5 years later, beberapa saat baru akhirnya memutuskan untuk membelinya. 

Sekarang. Saya cukup rebahan di kasur. Buka salah satu aplikasi marketplace, masukkan fitur  filter, misalnya jika mau hemat ongkos kirim tinggal memfilter lokasi penjual baju yang sekota dengan saya. Atau kalau pertimbangannya uang, tinggal filter sesuai range harga. Kalau belum puas, bisa melakukan pembandingan antara satu tenant dengan tenant yang lain yang menjual produk yang sama, namun dengan harga yang paling murah. 

Oke, itu soal belanja baju. Awalnya saya termasuk yang masih kurang sreg kalau mau beli tapi nggak pegang barangnya dulu. Tapi kini, sudah banyak fitur yang bisa meyakinkan pembeli kalau baju yang akan kita beli nggak bakal kepanjangan kalau dipakai, atau bahannya bukan yang menerawang seperti saringan tahu. 

Kenapa bisa menyakinkan? Karena ada fitur yang namanya testimoni dari pembeli lain. Jadi, sahabat saya saat belanja baju online adalah testimoni dari konsumen sebelumnya. Beres kan. Ongkos mentraktir segelas minuman kekinian untuk sahabat yang menemani belanja baju bisa dialokasikan ke hal lainnya, misalnya nabung emas secara daring. 

Itu juga sama, saya nggak perlu pegang emasnya dulu untuk bisa merasakan sensasi nabung emas. Cukup dengan melihat koin virtual berwarna emas dengan kadar tertentu saja sudah bisa membuat endorfin yang turun, naik kembali. Cling.

Baru-baru ini gaya hidup saya juga ikut berubah. Lantaran pandemi saya juga mulai enggan belanja ke pasar tradisional. Padahal blusukan pasar tradisional itu awalnya merupakan aktivitas plesir yang menyenangkan lho. 

Tapi apa boleh buat, untuk sementara waktu saya menyerahkan tugas belanja ke pasar kepada si ponsel pintar dengan berbagai aplikasinya. 

Di kota saya, Semarang, saya memilih menggunakan Tumbasin. Karena seperti halnya saya yang jago memilih bahan masakan yang berkualitas, belanja dengan Tumbasin juga bisa melakukan hal yang sama untuk saya. Senangnya lagi, ada aplikasi COD menggunakan QRIS untuk sistem pembayarannya. 

Sampai rumah tinggal scan bar code-nya QRIS beres deh. Bahan masakan di antar sampai depan rumah. Tugas saya selanjutnya tinggal masak_yang ini belum bisa dilakukan oleh ponsel pintar. 

Tapi setidaknya saya perlu bersyukur karena tomat dari Bandungan bisa menjadi saus bolognese hanya dalam waktu setengah jam. Coba kalau saya harus ke Bandungan dulu, anak saya keburu tidur siang saat menunggu spaghetti saus bolognese-nya matang. 

Makanya tadi di atas saya bilang teknologi membuat rezeki-rezeki yang ditakdirkan untuk kita sampai lebih cepat ketimbang ketika kita harus menjemputnya sendiri. 

Perputaran ekonomi lebih cepat terjadi meski pelaku-pelakunya sedang rebahan sambil nge-drakor. 

Yuk ah, banyakin mengisi ruang kosong antara teknologi dan pandemi dengan bersyukur. Bersyukur sama yang menciptakan otak yang pintar dan bisa memanfaatkan teknologi untuk kebaikan orang banyak. 

Bersyukur adalah aktvitas wajib di masa pandemi ini karena bersyukur juga bisa melipatgandakan rezeki. 





No comments

Powered by Blogger.