Cara Asyik Ngobrolin Pubertas Bareng Anak

Cara Asyik Ngobrolin Pubertas Bareng Anak

Time flies
. Tahu-tahu udah bahas soal pubertas di blog. Perasaan kayak baru kemaren yang dipikirin itu soal clodi apa yang bagus, soal anak GTM dan picky eater yang bikin ibuk stress, soal mau ngajarin anak led weaning apa responsive feeding sampai toilet training. Setelah ada di titik ini, kayaknya masalah-masalah itu jadi keliatan piece of cake dibandingkan dengan harus mempersiapkan diri jadi ortu yang asyik dan bisa ngobrolin soal pubertas sama anak tanpa merasa awkward

Menurut saya nggak semua ortu bisa punya cara yang asyik untuk membuka obrolan soal pubertas dengan anaknya. Rata-rata pasti bingung mau mulai dari mana, atau harus gimana. 

Alih-alih, biasanya ortu jatuhnya jadi cuek, atau malah menyerahkan persoalan ini ke sekolah atau guru. 

Bukan berarti cara saya asyik dan udah mahir untuk persoalan ini. Tapi at least setelah mencoba jadi tahu kalau ternyata nggak sesusah dan se-awkward yang dibayangkan. 

Awalnya sempat kayak mau nyerahin aja hal ini ke Pak Suami. Tapi setelah dipikir-pikir, ada beberapa pertimbangan yang bikin merasa harus saya yang maju. 

Pertama, suatu saat nanti anak pasti butuh curhat sama saya. Jadi, kalau nggak dari sekarang membina hubungan dan latihan membahas hal-hal yang biasanya dianggap cuma bisa diobrolin bareng temen, takutnya semua bakal terlambat. Anak jadi ragu mau cerita, takut, atau malah segan. 

Nam Do San Talking with Omoni
Mom and son conversation, pengin kelak bisa santuy ngobrol soal gebetan kayak gini. 



Menurut Dr. Aisyah Dahlan juga, biasanya anak akan sering berkonflik dengan ortu yang jenis kelaminnya sama. Misal anak laki, bakal sering konflik sama Bapaknya. Alhamdulillah so far sih masih akur-akur aja, tapi juga nggak bisa kayak lengket cerita gitu. Jadi untuk antisipasi itu better saya deh yang menjaga kedekatan aja. 

Kedua, soal kebersihan tubuh dan gimana menata penampilan kayaknya saya yang bakalan lebih ngerti selera anak lanang. 

Pak Suami masih menganut paham, kalau cowok skinkeran itu nggak banget atau nggak manly. Nah, saya mau ngajarin Si Kakak untuk at least peduli sama kerapihan dan juga kebersihan serta nggak perlu takut skinkeran kalau memang butuh. 

Jujur ya, awalnya nggak punya bayangan gimana caranya ngomongin sisi pubertas sama anak laki-laki.  Nggak ada bayangan, karena sebagai keluarga dengan anak perempuan semua, ya saya cuma tahu gimana caranya ngajarin bab pubertas ke anak perempuan dari ibu saya dulu. 

Akhirnya, tentu baca-baca dululah. Dari sisi agama sebenarnya lebih gampang, misalnya dengan mengingatkan kewajiban-kewajiban masa akil-baliq, hampir mirip sama jelasin  tugas-tugas psikologi perkembangan, tapi ini dari sudut ajaran agama. 

Karena di dalam agama Islam hal ini sangat erat kaitannya dengan konsep pendidikan Islam dan pembebanan hukum atau taklif dalam hukum Islam. Teorinya, apabila seorang anak yang sudah menstruasi atau keluar air mani, maka ia dianggap sebagai seorang yang sudah taklif atau mukallaf (seseorang yang sudah dibebani hukum).

Konsekuensinya, ketika ia sudah dianggap 
sebagai seorang yang mukallaf, maka ia harus melaksanakan semua kewajiban agama yang ditujukan kepadanya, baik itu yang berupa syariah ataupun muamalah.

Tapi ternyata, nggak segampang itu Bund. Misalnya, kita bilang kamu sudah terkena kewajiban shalat, puasa, misalnya tapi nggak dijelaskan 'why' nya bakal susah buat langsung dilakukan sama anaknya. 

Kemudian juga seorang ibu kudu cermat sih, ini anak sudah di fase apa. Kalau merujuk tanda-tanda fisik, misalnya suara udah mulai berubah, tapi gimana dengan tanda-tanda yang lain, misalnya mimpi basah. 

Mau langsung nanya to the point, ya gimana ya. Paling nanyanya, Kak kamu udah tau kan mimpi basah itu, apa? Terus apa yang harus dilakukan kalau mimpi basah? 

Tapi gimana kalau anaknya juga belum ngeh mimpi basah itu gimana? Karena nggak semua anak lelaki sadar saat mengalami itu, misalnya pas bangun nodanya udah kering karena kena AC, atau jumlahnya emang belum banyak. 

Nah, selain mainkan insting mamak-mamak, juga kudu observasi sih, Bund. 

Caranya, kalau saya adalah dengan nyuciin baju-bajunya, termasuk celdam, pakai tangan. Ya, jangan pakai mesin cucilah, mana bisa kita ngira-ngira anaknya udah di tahap itu apa belum. 

Menurut Dr. Aisah Dahlan, anak laki-laki mulai memasuki usia pubertas di umur 9-14 tahun. Biasanya di usia-usia awal kayak 9, 10 tahun masih belum keliatan, tapi nanti begitu masuk usia 11 sampai 13 bakal langsung keliatan perubahan yang muncul karena dorongan hormon testosteron. 

Biasanya mimpi basah ini bakal terjadi 2-3 minggu sekali, sifatnya udah Sunatullah yah, jadi jangan ngerasa aneh atau tabu. Masing-masing anak bakal punya ciri khas sendiri saat akan mengalami siklus ini karena biasanya juga diiringi oleh 'dorongan' atau 'energi' yang besar. 

Untuk itu, saya biasanya memfasilitasi anak lanang untuk berkegiatan fisik yang berat minimal sebulan dua kali, entah itu ngajak hiking lah, entah itu olahraga bareng yang rasa berat biar dorongannya tersalurkan. 

Secara garis besar, yang bisa mulai kita lakukan sebagai ibu untuk membersamai anak yang memasuki usia pubertas : 


1. Kenali proses dan masa pubertas anak. 
Umumnya pubertas dialami sekitar usia sebelas 
sampai enam belas tahun. 

Anak perempuan biasanya antara usia sebelas sampai lima belas tahun, dan anak laki-laki di usia dua belas sampai enam belas tahun. 

Tetapi ini kadang cuma teorinya saja, karena pada kenyataannya pertumbuhan dan perubahan yang terjadi pada diri seorang manusia bisa berbeda-beda tergantung kepada individunya. 

Pubertas sendiri sebenarnya sangat 
dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti keturunan, lingkungan, gizi, kesehatan 
dan tekanan emosional.

Di masa pubertas ini kemungkinan juga terjadi kelainan-kelainan, seperti pubertas tarda (delayed puberty) dan pubertas prekoks
(precocious puberty). 

Dikatakan pubertas tarda, apabila seseorang belum mencapai pubernya padahal usianya sudah mencapai 18 tahun.

Sebaliknya, ketika seseorang mendapati pubernya atau menarche-nya bagi anak perempuan di usianya yang sangat muda, sebelum usia 8 atau 9 tahun, maka ini disebut dengan pubertas prekoks. 

Cermati, anak kita masuk ke mana. Alhamdulillah jika masuknya ke range yang normal, InsyaAllah kematangan otak akan lebih sejalan dengan kematangan fisik. Meskipun pada anak lelaki sendiri, kematangan otak baru sepenuhnya terjadi di atas usia 20 tahun. 

2. Ortu wajib mengenalkan pendidikan seks secara bertahap sesuai dengan usia dan pemahaman kognitifnya. 

Buibu, jangan nunggu sekolah jelasin duluan. Kalau bisa kita duluan yang jelasin, sehingga di sekolah anak mendapatkan penguatan. 

Kenapa mesti kita yang duluan? Biar anak terbiasa ngobrol soal seksualitas dengan konteks pengetahuan bareng kita. 

3. Jelaskan kewajiban-kewajiban dan batasan. Ini tentu berkaitan dengan men-taklif yang disebutkan di atas tadi. Ketika anak memiliki kewajiban maka haknya pun beriringan. Anak berhak mendapatkan pengetahuan, misalnya tentang konsep bersuci sebelum menjalankan kewajiban ibadah. 

Misalnya nih, anak harus paham gimana mandi wajib, apa saja yang membatalkan ibadah terkait dengan perubahan fisik dan hormonnya. Anak juga berhak mendapatkan dukungan agar bisa menyalurkan energinya secara positif. 

4. Luangkan waktu me time hanya bersama satu anak, terutama yang remaja, untuk bisa ngobrol hanya berdua saja. 

Mungkin secara garis besar itu ya, Bund. Alhamdulillah belum ada special case yang bikin ibuk deg-degan sih. Anaknya sendiri udah bisa asyik cerita untungnya. Seperti pas saya tanya kenapa dia mulai makan banyak banget? Dia jawab, Bund, pernah nonton episode pearl anaknya tuan crab yang makan banyak banget ngga? Nah, ini aku tuh sama, lagi mengalami 'semburan kedewasaan' antara mau ngakak tapi bener juga sih. 





No comments

Powered by Blogger.